Tuesday, November 9, 2010

~* Pain, Loss and the Path to God *~


DESPERATION!! In the deep disappointment which often follows self-reflection, I turned to my Creator to plead. I turned to plead – but not for what can be measured, bought, sold, or traded. It was desperation for a truer currency. With my flaws suddenly made open to me, I became desperate to be liberated from the tyranny of my own nafs (lower desires). I became desperate to be a better person.

And so, handing my heart to Allah (swt), I prayed that I might be purified. And while I had always held to firm faith that God is the Hearer of prayers, I never imagined when – or how – that prayer would be answered.

Soon after that prayer, I experienced one of the most difficult periods of my life. During the experience, I braced myself, and prayed for guidance and strength. But never did I see any connection to my previous prayer. It was not until that time had passed, and reflecting on it, I realized how I had grown. Suddenly I remembered my prayer. Suddenly I felt that the difficulty was itself the answer to the prayer I had made so desperately.

The words of Rumi explain beautifully:

“When someone beats a rug with a stick, he is not beating the rug – his aim is to get rid of the dust. Your inward is full of dust from the veil of ‘I’-ness,and that dust will not leave all at once. With every cruelty and every blow, it departs little by little from the heart’s face, sometimes in sleep and sometimes in wakefulness.”


So often we experience things in life, and yet never see the connections between them. When we are given a hardship, or feel pain, we often fail to consider that that experience may be the direct cause or result of another action or experience. Sometimes we fail to recognize the direct connection between the pain in our lives and our relationship with Allah (swt).

That pain and adversity serves many purposes in life. Times of hardship can act as both an indication as well as a cure, for our broken relationship with our Creator.

Times of difficulty test our faith, our fortitude and our strength. During these times, the level of our iman becomes manifest. Adversity strips away our masks, revealing the truth behind mere declaration of faith. Hardships separate those whose declaration is true from those who are false.

Allah says:

“Do the people think that they will be left to say, “We believe” and they will not be tested? But We have certainly tested those before them, and Allah will surely make evident those who are truthful, and He will surely make evident the liars” (Qur’an, 29:2-3).


Hardships test us. But hardships can also be a blessing and a sign of Allah’s love. The Prophet Muhammad saw said:

“Whenever Allah wills good for a person, He subjects him to adversity”[Bukhari].


And yet most people cannot fathom how adversity could possibly be good. Many do not recognize that hardship is in fact a purifier, which brings people back to their Lord. What happens to the arrogant who are suddenly put in a situation they cannot control? What happens to a man who finds himself stranded on the ocean in the middle of a storm? What happens when the ship that is ‘unsinkable’ becomes the tale of the Titanic?

These perceived misfortunes are in fact wake up calls. They humble. They shake. They remind us of how small we are, and how Great God is. And in that way they awaken us from the slumber of our deceptions, our heedlessness, our wandering, and bring us back to our Creator. Hardships strip away the veil of comfort from our eyes, and remind us of what we are and where we’re going.

Allah (swt) says:

“…And We tested them with good [times] and bad that perhaps they would return [to obedience]” (Qur’an, 7:168). In another ayah, Allah (swt) explains: “And We sent no Prophet to any town (and they denied him), but We seized its people with suffering from extreme poverty (or loss in wealth) and loss of health and calamities, so that they might humiliate themselves (and repent to Allah)”(Qur’an, 7:94).


This lesson in humility purifies the human soul so much so that Allah (swt) comforts the believers in the Qur’an, assuring them that any pain they encounter is intended to elevate and honor them. He says:

“If a wound should touch you – there has already touched the [opposing] people a wound similar to it. And these days [of varying conditions] We alternate among the people so that Allah may make evident those who believe and [may] take to Himself from among you martyrs – and Allah does not like the wrongdoers – And that Allah may purify the believers [through trials] and destroy the disbelievers. Or do you think that you will enter Paradise while Allah has not yet made evident those of you who fight in His cause and made evident those who are steadfast?” (Qur’an, 3:140-142).


It is that very battle to purify the self which is the essence of the upward path to God. It begins with self-sacrifice, and is paved by the sweat of struggle.

It is this path, which God describes when He says:

“Oh mankind! Verily you are ever toiling on towards your Lord – painfully toiling – but you shall meet Him.” (Qur’an, 84:6).

Friday, October 29, 2010

~* CINTA = Kerinduan, Kebersamaan dan Keredhaan *~


KETAHUILAH bahawa cinta kepada Allah swt adalah tujuan utama daripada pelbagai macam kedudukan. Setelah mengenal cinta, maka muncul perasaan lain iaitu kerinduan, rasa senang dan redha. Sedangkan sebelum dia merasakan cinta itu tidak ada kedudukan lain melainkan perkara-perkara yang mengawali cinta seperti taubat, sabar, zuhud dan sebagainya.

Umat Islam sudah sepakat bahawa cinta kepada Allah swt dan Rasul-Nya saw merupakan kewajipan. Di antara dalil yang menjadi saksi tentang cinta ini adalah firman Allah swt :

“Allah mencintai mereka dan mereka pun mencintai-Nya.” (Al-Maidah : 54)

“Dan orang-orang yang beriman lebih cinta kepada Allah.” (Al-Baqarah : 165)


Ini merupakan dalil yang menguatkan cinta kepada Allah swt dan timbal balik dalam cinta itu.

Dalam hadith sahih disebutkan bahawa ada seorang lelaki bertanya tentang hari kiamat kepada Rasulullah saw.

Baginda kembali bertanya: ‘Apakah yang sudah kamu siapkan untuk menghadapinya?’ Orang itu menjawab: ‘Wahai Rasulullah, aku tidak bersiap-siap untuk menghadapinya dengan banyaknya solat dan puasa, hanya aku mencintai Allah swt dan Rasul-Nya.’ Lalu Nabi saw bersabda: ‘Seseorang itu bersama orang yang dicintainya dan kamu bersama orang yang kamu cintai.” (Diriwayatkan Al-Bukhari dan Muslim)


Tiada kesenangan yang dirasakan orang-orang muslim setelah mereka masuk Islam seperti kesenangan mereka mendengar sabda baginda ini.

Diriwayatkan bahawa malaikat pencabut nyawa mendatangi Al-Khalil Ibrahim a.s. untuk mencabut nyawa beliau.

Lalu beliau bertanya kepada malaikat itu: ‘Adakah engkau melihat kekasih yang mencabut nyawa kekasihnya?’ Lalu Allah swt mewahyukan kepada beliau: ‘Adakah engkau melihat seorang kekasih yang tidak suka berjumpa dengan kekasihnya?’ Lalu Ibrahim a.s. berkata kepada malaikat pencabut nyawa: ‘Wahai Malaikat maut, cabutlah sekarang juga!’


Al-Hassan Al-Basri rahimahullah berkata: “Siapa yang mengetahui Rabb-nya maka dia akan mencintai-Nya dan siapa yang mencintai selain Allah swt bukan kerana kaitannya dengan Allah swt maka yang demikian itu disebabkan kebodohan dan keterbatasannya mengetahui Allah swt. Sedangkan cinta kepada Rasulullah saw tidak akan muncul melainkan daripada cinta kepada Allah swt, begitu pula cinta kepada ulama dan orang-orang yang bertakwa. Orang yang dicintai kekasih juga patut untuk dicintai. Rasul yang dicintai Allah swt juga patut dicintai. Semua ini kembali kepada cinta yang pertama. Pada hakikatnya tidak ada sesuatu yang patut dicintai di mata orang-orang yang memiliki mata hati kecuali Allah swt semata.”

Kejelasan tentang masalah cinta ini kembali kepada beberapa sebab, iaitu :

Pertama : Manusia mencintai dirinya sendiri, keharmoniannya, hartanya, eksistensinya dan tidak menyukai perkara-perkara yang sebaliknya yang sifatnya merosak, meniadakan atau pun mengurangkan.

Ini merupakan tabiat setiap makhluk hidup dan susah digambarkan dapat berpisah darinya. Beerti hal ini menuntut adanya cinta kepada Allah swt. Jika manusia mengetahui Tuhan-nya tentu akan mengetahui secara pasti bahawa keberadaan dan kesempurnaannya berasal dari Allah swt, bahawa Allah-lah yang menciptakan sesuatu baginya dan menciptakan dirinya yang sebelumnya tidak ada. Seandainya bukan kerana kurnia Allah swt tentu dia tidak akan ada. Tadinya dia adalah kurang. Berkat kurnia Allah swt, dia pun menjadi sempurna. Oleh kerana itu Al-Hassan Al-Basri berkata: “Siapa yang mengetahui Tuhan-nya nescaya akan mencintai-Nya dan siapa yang mengetahui dunia nescaya akan menjauhinya.”

Bagaimana mungkin dapat digambarkan seseorang mencintai dirinya tetapi tidak mencintai Tuhan-nya yang menjadi sandaran dirinya?

Kedua : Tabiat manusia mencintai orang yang berbuat baik, mengasihi, melindunginya, menghalau musuh-musuhnya dan membantunya meraih segala apa yang dicita-citakan.

Tentu saja dialah kekasih yang sesungguhnya. Jika manusia menyedari benar hal ini maka dia akan tahu bahawa yang paling banyak berbuat baik kepadanya adalah Allah swt semata. Kebaikan-Nya tiada terkira, sebagaimana firman-Nya :

“Dan jika kamu menghitung-hitung nikmat Allah, nescaya kamu tidak dapat menentukan jumlahnya.” (An-Nahl : 18)


Kami telah menghuraikan masalah ini dalam fasal syukur. Tetapi perlu kami tegaskan sekali lagi bahawa kebaikan yang berasal daripada manusia hanya sekadar kiasan semata. Pada hakikatnya yang berbuat baik adalah Allah swt.

Gambaran secara jelas, ada seseorang yang menyerahkan seluruh simpanan dan miliknya kepadamu. Dia membenarkan kamu menggunakan semua itu untuk apa pun yang kamu kehendaki. Tentu kamu menyangka kebaikan itu berasal daripada orang tersebut. Ini jelas salah. Kebaikan orang itu ada berkat limpahan harta Allah swt, berkat kekuasaan Allah swt terhadap harta itu dan berkat dorongan Allah swt untuk memberikan seluruh hartanya. Siapa yang membuat orang itu mencintaimu, memilih dirimu dan membuatnya berfikir bahawa kebaikan agama dan dunianya adalah dengan cara berbuat baik kepadamu?

Seandainya tidak ada semua ini tentu orang itu tidak akan menyerahkan hartanya kepadamu. Seakan-akan dia dipaksa untuk menyerahkan hartanya kepadamu dan dia tidak dapat menolak. Jadi yang berbuat baik adalah yang telah memaksa orang itu untuk menyerahkan seluruh miliknya kepadamu. Dia tidak ubahnya pemegang kunci gudang raja yang diperintahkan memberikan sesuatu kepada seseorang. Pemegang kunci itu tentu tidak akan dilihat sebagai orang yang berbuat baik.

Ini kerana dia hanya sekadar ditugaskan atau dipaksa taat kepada raja. Andaikata raja membiarkannya, tentu dia tidak dapat berbuat apa-apa. Begitu pula setiap orang yang berbuat baik. Seandainya Allah swt membiarkan dirinya, tentu dia tidak akan mengeluarkan sesuatu apa pun sehingga Allah swt mendorongnya untuk mengeluarkan sesuatu. Oleh itu, orang yang memiliki makrifat tidak boleh mencintai sesuatu kecuali Allah swt semata. Kebaikan mustahil datang daripada selain Allah swt.

Ketiga : Menurut tabiat manusia, orang yang pada dasarnya baik dapat saja menjadi orang yang dicintai, meskipun kebaikannya tidak sampai kepada dirimu.

Jika kamu mendengar khabar bahawa ada seorang raja di suatu negeri yang jauh dikenali sebagai raja yang adil, ahli ibadah, menyayangi manusia dan lemah-lembut kepada mereka, tentu kamu akan mencintainya dan kamu akan condong kepadanya. Yang demikian ini pun menuntut cinta kepada Allah swt. Bahkan menuntut untuk tidak mencintai selain Allah swt kecuali jika dikaitkan dengan suatu sebab. Allah-lah yang berbuat baik kepada segala sesuatu secara keseluruhan dengan cara menciptakan dan menyempurnakan semuanya, daripada yang kecil sehingga yang besar, berupa nikmat yang tidak terbilang jumlahnya, sebagaimana firman-Nya:

“Dan jika kamu menghitung-hitung nikmat Allah, nescaya kamu tidak dapat menentukan jumlahnya.” (An-Nahl : 18)


Lalu bagaimana mungkin selain Allah swt disebut orang yang berbuat baik, padahal kebaikan orang yang berbuat baik itu berasal daripada sekian banyak kebaikan kekuasaan-Nya? Barangsiapa yang memikirkan hal ini tidak akan mencintai kecuali Allah swt semata. Dapat pula kami katakan, setiap orang yang memiliki ilmu atau kekuasaan atau terhindar sifat-sifat yang tercela patut dicintai. Sifat para siddiqin yang dicintai manusia kembali kepada pengetahuan mereka tentang Allah swt, malaikat, kitab-kitab, rasul-rasul, syariat-syariat nabi-Nya, kemampuan mereka membenahi diri mereka dan usaha mereka menjauhi segala kehinaan dan keburukan. Sifat-sifat seperti ini pula para nabi dicintai. Jika sifat-sifat ini dinisbatkan kepada sifat-sifat Allah swt maka ia terlalu kecil.

Adapun tentang ilmu, maka ilmu orang-orang yang terdahulu dan ilmu orang-orang yang belakang semuanya berasal daripada ilmu Allah swt yang meliputi segala sesuatu. Tidak ada sesuatu pun di langit dan di bumi meski seberat atom yang lepas daripada ilmu Allah swt. Kemudian Allah swt berseru kepada semua makhluk:

“Dan tiadalah ilmu yang diberikan kepada kamu melainkan hanya sedikit.” (Al-Isra’ : 85)


Seandainya seluruh penghuni langit dan bumi berhimpun untuk menyamai ilmu dan hikmah Allah swt di dalam merinci penciptaan seekor semut atau nyamuk, tentu mereka tidak akan sanggup melakukannya dan sekali-kali tidak dapat mencapai seperti ilmu-Nya. Ini kerana sedikit kekuasaan yang dimiliki manusia tentang suatu ilmu yang diturunkan Allah swt. Kelebihan ilmu Allah swt ke atas ilmu seluruh makhluk sudah terkeluar dari batasan. Ilmu Allah swt tiada batas akhirnya.

Kekuasaan juga merupakan sifat kesempurnaan. Jika kekuasaan seluruh makhluk dinisbatkan kepada kekuasaan Allah swt, maka kamu mendapati orang yang paling perkasa, paling luas wilayah kekuasaannya, paling hebat kekuatannya, paling mampu mengatur dirinya sendiri dan orang lain, kekuasaannya tercermin di dalam sifat-sifat dirinya dan kemampuannya melalu segala rintangan, tetap saja tidak mampu mengatur mudharat dan manfaat bagi dirinya sendiri, tidak mampu mengatur mati, hidup dan tempat kembalinya, bahkan tidak sanggup menjaga matanya daripada kebutaan. Tidak mampu menjaga lidahnya daripada kekeluan, tidak mampu menjaga telinganya daripada ketulian, tidak mampu menjaga badannya daripada penyakit, lebih-lebih lagi menjaga satu biji atom yang ada dalam tubuh makhluk.

Dia tidak memiliki kekuasaan mengatur dirinya sendiri dan orang lain. Jadi kekuasaan itu tidak berasal daripada dirinya sendiri, tetapi Allah-lah yang menciptakan dirinya dan menciptakan kekuasaannya serta menciptakan sebab-sebab yang melatarbelakangi semuanya itu. Seandainya Allah swt menjadikan seekor nyamuk berkuasa, tentu ia sanggup mematikan raja yang paling berkuasa dan paling kuat. Seorang hamba tidak memiliki kekuasaan apa pun kecuali daripada tuannya.

Allah swt telah berfirman tentang hak penguasa bumi yang paling agung, iaitu Zulqarnain:

“Sesungguhnya Kami telah memberi kekuasaan kepadanya di muka bumi dan Kami telah memberikan kepadanya jalan (untuk mencapai) segala sesuatu.” (Al-Kahfi : 84)


Semua kerajaan dan kekuasaan tidak mungkin terjadi kecuali kerana anugerah Allah swt. Ubun-ubun seluruh makhluk ada di tangan Allah swt dan kekuasaan-Nya. Jika Allah swt membinasakan mereka semua, tidak ada sedikit pun daripada kerajaan dan kekuasaan-Nya yang berkurangan. Seandainya Allah swt menciptakan seribu kali lebih banyak daripada jumlah makhluk yang ada, maka itu tidak akam memberatkan-Nya. Tiada ada yang berkuasa kecuali Dia.

Milik-Nya segala kesempurnaan, keagungan, kebesaran dan kekuasaan. Jika digambarkan bahawa kamu mencintai seseorang yang berkuasa kerana kesempurnaan kekuasaan, keagungan dan ilmunya, tentu yang lain tidak patut mendapatkan cinta itu. Sementara tidak dapat digambarkan bahawa kesempurnaan kesucian melainkan hanya milik Allah swt semata-mata.

Dialah satu-satunya penguasa, yang tidak ada tandingan-Nya dan tidak ada yang menyamai-Nya. Dialah tempat bergantung yang tidak pernah goyah, Yang Maha Kaya dan tidak mempunyai keperluan, Yang Berkuasa dan mampu berbuat menurut kehendak-Nya, menetapkan hukum seperti yang diinginkan-Nya, tidak adak yang dapat menolak hukum-Nya, tidak ada yang dapat merintangi qadha’-Nya, yang Maha Mengetahui dan tidak ada sesuatu sekecil apa pun di langit dan di bumi yang lepas daripada pengetahuan-Nya.

Kesempurnaan pengetahuan orang-orang yang memiliki pengetahuan adalah mengakui kelemahan pengetahuannya. Allah-lah yang selayaknya mendapatkan cinta sejati.

- Oleh Ibnu Al-Maqdisi [Mukhtasar Minhajul Qasidin]

Thursday, October 28, 2010

~* Khutbah Terakhir Rasulullah S.A.W *~

Kutbah ini disampaikan pada 9 Zulhijah Tahun 10 Hijrah di Lembah Uranah, Gunung Arafah.

Wahai manusia, dengarlah baik-baik apa yang hendak ku katakan. Aku tidak mengetahui apakah aku dapat bertemu lagi dengan kamu semua selepas tahun ini. Oleh itu dengarlah dengan teliti kata-kata ku ini dan sampaikanlah ia kepada orang-orang yang tidak dapat hadir di sini pada hari ini.

Wahai manusia, sepertimana kamu menganggap bulan ini dan kota ini sebagai suci, maka anggaplah jiwa dan harta setiap muslim sebagai amanah suci.

Kembalikan harta yang diamanahkan kepada kamu kepada pemiliknya yang berhak.

Jangan kamu sakiti sesiapapun agar orang lain tidak menyakiti kamu lagi.

Ingatlah bahawa sesungguhnya kamu akan menemui Tuhan kamu dan Dia pasti membuat perhitungan di atas segala amalan kamu.

Allah telah mengharamkan riba, oleh itu segala urusan yang melibatkan riba dibatalkan mulai sekarang.

Berwaspadalah terhadap syaitan demi keselamatan agama kamu.

Dia telah berputus asa untuk menyesatkan kamu dalam perkara-perkara besar, maka berjaga-jagalah supaya kamu tidak mengikutinya dalam perkara-perkara kecil.

Wahai manusia, sebagaimana kamu mempunyai hak atas isteri kamu, mereka juga mempunyai hak di atas kamu. Sekiranya mereka menyempurnakan hak mereka keatas kamu maka mereka juga berhak untuk diberi makan dan pakaian dalam suasana kasih sayang.

Layanilah wanita-wanita kamu dengan baik, berlemah lembutlah terhadap mereka kerana sesungguhnya mereka adalah teman dan pembantu kamu yang setia. Dan hak kamu atas mereka ialah mereka sama sekali tidak boleh memasukkan orang yang kamu tidak sukai ke dalam rumah kamu dan dilarang melakukan zina.

Wahai manusia, dengarkanlah bersungguh-sungguh kata-kataku ini, sembahlah Allah, dirikanlah sembahyang lima kali sehari, berpuasalah di bulan Ramadan!, dan tunaikan zakat dari harta kekayaan kamu. Kerjakanlah ibadat haji sekiranya kamu mampu.

Ketahuilah bahawa setiap muslim adalah saudara kepada muslim yang lain. Kamu semua adalah sama, tidak seorangpun yang lebih mulia dari yang lainnya kecuali dalam taqwa dan beramal soleh.

Ingatlah bahawa kamu akan mengadap Allah pada suatu hari untuk dipertanggungjawabkan diatas segala apa yang telah kamu kerjakan. Oleh itu awasilah agar jangan sekali-kali kamu terkeluar dari landasan kebenaran selepas ketiadaanku.

Wahai manusia, tidak akan ada lagi Nabi dan Rasul yang akan datang selepasku dan tidak akan lahir agama baru.

Oleh itu wahai manusia, nilailah dengan betul dan fahamilah kata-kata ku yang telah aku sampaikan kepada kamu.

Sesungguhnya aku tinggalkan kepada kamu dua perkara, yang sekiranya kamu berpegang teguh dan mengikuti kedua-duanya, nescaya kamu tidak akan tersesat selama-lamanya. Itulah Al Quran dan Sunnah ku.

Hendaknya orang-orang yang mendengar ucapanku, menyampaikan pula kepada orang lain semoga yang terakhir lebih memahami kata-kataku dari mereka yang terus mendengar dari ku.

Saksikanlah Ya Allah, bahawasanya telah ku sampaikan risalah Mu kepada hamba-hambaMU.

Friday, October 22, 2010

~* Cahaya Dari-Mu Untukku *~


Ya Allah,
Tempatkan cahaya di dalam hatiku,
dan cahaya di dalam jiwaku,
cahaya pada lidahku,
cahaya di mataku,
dan cahaya di telingaku.

Tempatkan cahaya di sebelah kananku,
Cahaya di sebelah kiriku,
Cahaya di belakangku,
Cahaya di depanku,
Cahaya di atasku,
Cahaya di bawahku.

Tempatkan cahaya di saraf-sarafku,
Cahaya di dagingku,
Cahaya di darahku,
Cahaya di rambutku,
dan cahaya di kulitku.

Berikan daku cahaya,
Perbanyaklah daku cahaya,
dan ciptakanlah cahaya untukku

~* Suara hatiku *~

My Friend said: Cinta itu membahagiakan, tapi juga menyakitkan.
My Answer: Bagiku ia bergantung pada keadaan sebabnya "Disaat dia mencintai diriku, terasa diri bahagia, tetapi disaat dia mencurigai diriku, hati terasa terluka."

My Friend said: Cinta itu tak harus memiliki.
My Answer: Setuju, semua orang pasti ingin memiliki dan merasa harus untuk memiliki.

My Friend said: Bila melihat orang yang kita cintai bahagia, maka kita juga akan bahagia.
My Answer: Tak setuju, tipu la atau kita memaksa diri kita untuk pretend kita juga bahagia, padahal jauh disudut hati pasti terasa kesakitan...jangan jadi orang munafik!!

My Friend said: Kita akan rasa lebih bahagia apabila dicintai daripada mencintai.
My Answer: Ermmmm tak setuju, bila dicintai kita pasti merasa bangga dan bila mencintai kita rasa bahagia.. apa yang penting kita perlu kuatkan semangat bila cinta bertepuk sebelah tangan.. tawakal pada ketentuan ALLAH..

~* Cinta tak harus memiliki kerana ada ketika ianya tidak berbalas.. Cinta juga bukan bereti untuk sehidup semati dan tak selamanya bahagia.. asking to myself "SIAPA PEMILIK CINTAKU SELAIN ALLAH & RASUL??" .. Yang pasti cintaku ini adalah perasaan yang tak pernah mati!!

Yang penting kita berserah segala sesuatu kepada Allah dan perlu ingat bahawa Allah yang menentukan segala sesuatu. Kewajiban kita untuk ikhtiar & berusaha. Firman Allah “Sesudah kesulitan itu pasti ada kemudahan, sesungguhnya sesudah kesulitan itu pasti ada kemudahan.” [Surah Alam Nasyrah: Ayat 5 – 6] *~

Monday, September 20, 2010

~* Tafsir Tasawuf (Sufi): Surah An-Nur ayat 35 *~


Maksud ayat:


“Allah (memberi) cahaya (kepada) langit dan bumi. Perumpamaan cahaya Allah adalah seperti lubang yang tak tembus yang di dalamnya ada pelita besar. Pelita itu di dalam kaca dan kaca itu seakan-akan (bintang yang bercahaya) seperti mutiara yang menyalakan minyak dari pohon yang banyak berkahnya, iaitu pohon zaitun yang tumbuh tidak di sebelah timur (sesuatu) dan tidak pula di sebelah baratnya yang minyaknya sahaja menerangi walaupun tidak disentuh api. Cahaya di atas cahaya (berlapis-lapis) Allah membimbing kepada cahayanya, siapa yang Dia kehendaki, dan Allah membuat perumpamaan-perumpamaan bagi manusia dan Allah Maha Mengetahui segala sesuatu."
[Surah An-Nur: Ayat 35]



Hakikat CAHAYA (NUR)
Kejelasan, penafsiran dan pengertian ayat misykat memberi bantuan yang amat besar dalam memahami persoalan hati dan perjalanan suluk.

Pada ayat pertama, komposisi atau komponen manusia diumpamakan dengan lubang yang tidak tembus dengan pelita dan kaca. Misykat adalah suatu lubang di dinding yang tidak tembus ke sebelahnya. Pelita sama dengan lampu, dan kaca adalah dinding yang menghimpun dan melingkupi pelita yang menerangi.

Perumpamaan ketiga-tiga komponen ini adalah perumpamaan dari manusia yang beriman yang padanya ada jasadnya, hatinya dan cahaya yang ada di dalam hati. Jasad diumpamakan dengan misykat, hati diumpamakan dengan kaca dan cahaya diumpamakan dengan pelita yang ada dalam kaca.


“Allah cahaya langit dan bumi”


Bermaksud: Dia adalah pemberi petunjuk (cahaya) kepada langit dan bumi; di mana tiada petunjuk di langit dan di bumi tanpa cahaya-Nya. Selanjutnya Allah mengumpamakan petunjuk-Nya sebahagian petunjuk bagi orang mukmin. Hidayah ditamsilkan dengan perumpamaan-perumpamaan, kebesaran dan kemuliaan hidayah-Nya menjadi jelas.

Jadi, misykat adalah jasad orang mukmin yang melingkupi hatinya, kaca ialah hati orang mukmin yang melingkupi cahaya hati yang merupakan petunjuk dari penunjuk bagi orang mukmin itu sendiri, sehingga dia mampu melihat hakikat segala sesuatu yang berjalan di atas hidayah dari Tuhannya dengan cahaya tersebut. Ini adalah Tahap Pertama dalam perumpamaan.

Tahap perumpamaan kedua ialah kaca yang melingkupi pelita atau hati yang melingkupi cahaya dan kebenderangan cahaya yang sangat cemerlang diumpamakan dengan bintang yang menerangi, di mana bintang itu diserupakan dengan mutiara kerana sangat cemerlangnya cahaya bintang tersebut.

Kita perhatikan di sini, perbincangan tentang kaca dan semua pelitanya atau tentang hati dan cahayanya, seluruhnya diumpamakan dengan bintang yang mutiara (al-Kaukub ad-Durriy) sehingga pelita itu mampu bersinar. Demikian pula kacanya, ia bersinar kerana cemerlang dan putih bersih.

Perumpamaan Tahap Ketiga ialah pelita ada dalam kaca, dari mana dan dengan apa kaca itu dinyalakan? Dari mana cahaya itu didapati? Bagaimana kecahayaan (nuraniyah) mampu berlangsung? Dengan ungkapan lain, cahaya itu ada di dalam hati, dari mana hati itu memperoleh nuraniah? Bentuk pertolongan bagaimana yang yang diberikan kepada hati atau yang diperolehinya hingga ia bernuraniah? Apa yang menimbulkan cahaya rohani tersebut?

Allah SWT berfirman yang dinyalakan, maksudnya yang dinyalakan adalah pelita yang ada dalam kaca atau cahaya yang ada dalam hati orang mukmin dinyalakan, “dengan minyak yang dari pohon yang banyak berkatnya atau yang banyak manfaatnya. Iaitu pohon zaitun yang tumbuh tidak di sebelah timur dan tidak pula di sebelah baratnya”. Sedangkan Zaitun ialah syariat Allah.

Menurut Ibnu Kasir, kejernihan, sinar atau nuraniah yang ada dalam diri seorang mukmin diumpamakan seperti dinding kaca yang jernih lagi murni seperti permata, sedangkan al-Qurán dan syariát diumpamakan seperti minyak jernih, baik, bercahaya dan seimbang tanpa ada sedikit pun keruh.

Perumpamaan terhadap keempat pohon yang penuh berkah merupakan sumber dari cahaya hati, adalah syariat Allah yang penuh manfaat, yang merupakan sumbe dari cahaya kalbu. Dari situlah kalbu mengambil cahaya. Berapa kadar besar minyaknya? Allah befirman:


“Yang minyaknya sahaja hampir-hampir menerangi walaupun tidak disentuh api”


Minyak itu dinyatakan jernih dan bercahaya, kata an-Nasafi kerana kilaunya hampir-hampir bersinar tanpa ada api atau tanpa dinyalakan api. Kadar besar nuraniah syariat yang memberi cahaya pada hati? Dan betapa besar cahaya hati yang diperoleh dari sinaran cahaya syariat?

Demikianlah adanya, dan kerana itulah Allah berfirman:


“Cahaya di atas cahaya”


Ini adalah perumpamaan tahap kelima. Cahaya yang diumpamakan kebenaran itu, kata an-Nasafi, seperti yang bersatu yang berlapis-lapis yang mana di dalamnya terjadi interaksi antara (cahaya) misykat, pelita dan minyak. Sehingga tidak ada satupun yang tinggal untuk memperkuat benderangnya cahaya, kerana pelita yang ada di dalam tempat yang sempit menyerupai lubang yang tidak tembus, di mana ia mampu menghimpun dan memadukan seluruh cahaya. Hal ini berbeza seandainya di tempat yang luas, maka sinar cahayanya akan tersebar dan berserakan. Sedangkan (dinding) kaca merupakan suatu yang paling banyak menambah penerangan, demikian juga dengan minyak dan kebenderangannya.

Menurut Ibnu Kasir’As-Saddi yang pernah berkata tentang firman Allah tersebut, cahaya di atas cahaya adalah cahaya api dan cahaya minyak bila bersatu akan memancarkan sinar, dan yang satu tidak akan memancarkan cahaya yang lain. Demikian pula cahaya al-Qurán dan cahaya iman bersatu padu.

Dengan demikian, perumpamaan yang Allah buat untuk menerangkan kebebasan hidayahNya telah sempurna, dan dari penjelasan tentang perumpamaan tersebut, kita tahu bahawa penunaian syariat Allah lah yang mampu memberikan cahaya iman yang abadi.

Selain itu, berdasarkan pendapat Ibnu kasir’As-Saddi juga, cahaya api dan cahaya minyak bila bersatu padu memancarkan sinar, dan tidak akan bersinar satu di antaranya tanpa yang lain. Demikian juga cahaya al-Qurán dan cahaya iman ketika bersatu padu, dan satu di antaranya tidak akan memancarkan cahaya tanpa yang lain.

Di sini, kita sudah mulai memahami bahawa kewujudan kandungan al-Qurán merupakan makanan yang kekal bagi kalbu, sebab dengan al-Qurán pelita hati akan tetap menyala terang dan akan tetap memperolehi petunjuk. Bertambahnya perpaduan cahaya hati dan pancarannya bergantung kepada kadar penunaian seseoang terhadap kandungan al-Qurán dan misykat atau jasad akan memantulkan cahaya ini sehingga jalan baginya menjadi terang dan juga bagi yang lain.


“Allah membimbing kepada cahaya-Nya kepada siapa yang dia kehendaki dan Allah membuat perumpamaan-perumpamaan bagi manusia. Dan Allah Maha Mengetahui segala sesuatu.”


Maksudnya: Allah membimbing kepada cahaya syariat-Nya atau Allah memberi hidayah kepada siapa yang Dia kehendaki dari ahli Iman sehingga mereka memperolehinya dan mengikuti petunjuk yang diberikan kepada mereka.

- Penulisan dari Saudara MahmudShah

~* Is This Love I’m Feeling? *~


LOVE is a serious mental disease.” At least that’s how Plato put it. And while anyone who’s ever been ‘in love’ might see some truth to this statement, there is a critical mistake made here. Love is not a mental disease. Desire is.

If being ‘in love’ means our lives are in pieces and we are completely broken, miserable, utterly consumed, hardly able to function, and willing to sacrifice everything, chances are it’s not love. Despite what we are taught in popular culture, true love is not supposed to make us like drug addicts.

And so, contrary to what we’ve grown up watching in movies, that type of all-consuming obsession is not love. It goes by a different name. It is hawa—the word used in the Quran to refer to one’s lower, vain desires and lusts. Allah describes the people who blindly follow these desires as those who are most astray:

“But if they answer you not, then know that they only follow their own lusts (hawa). And who is more astray than the one who follows his own lusts, without guidance from Allah?” (28: 50)


By choosing to submit to our hawa over the guidance of Allah, we are choosing to worship those desires. When our love for what we crave is stronger than our love for Allah, we have taken that which we crave as a lord. Allah says:

“Yet there are men who take (for worship) others besides Allah, as equal (with Allah): They love them as they should love Allah. But those of Faith are overflowing in their love for Allah.” (2:165)


If our ‘love’ for something makes us willing to give up our family, our dignity, our self-respect, our bodies, our sanity, our peace of mind, our deen, and even our Lord who created us from nothing, know that we are not ‘in love’. We are slaves.

Of such a person Allah says:

“Do you see such a one as takes his own vain desires (hawa) as his lord? Allah has, knowing (him as such), left him astray, and sealed his hearing and his heart, and put a cover on his sight. (45: 23)


Imagine the severity. To have one’s sight, hearing and heart all sealed. Hawa is not pleasure. It is a prison. It is a slavery of the mind, body and soul. It is an addiction and a worship. Beautiful examples of this reality can be found throughout literature. In Charles Dickens’ Great Expectations, Pip exemplifies this point. In describing his obsession with Estella, he says: “I knew to my sorrow, often and often, if not always, that I loved her against reason, against promise, against peace, against hope, against happiness, against all discouragement that could be.”

Dickens’ Miss Havisham describes this further: “I’ll tell you…what real love is. It is blind devotion, unquestioning self-humiliation, utter submission, trust and belief against yourself and against the whole world, giving up your whole heart and soul to the smiter – as I did!”

What Miss Havisham describes here is in fact real. But it is not real love. It is hawa. Real love, as Allah intended it, is not a sickness or an addiction. It is affection and mercy. Allah says in His book:

“And of His signs is that He created for you from yourselves mates that you may find tranquility in them; and He placed between you affection and mercy. Indeed in that are signs for a people who give thought.” (30: 21)


Real love brings about calm—not inner torment. True love allows you to be at peace with yourself and with God. That is why Allah says: “that you may dwell in tranquility.” Hawa is the opposite. Hawa will make you miserable. And just like a drug, you will crave it always, but never be satisfied. You will chase it to your own detriment, but never reach it. And though you submit your whole self to it, it will never bring you happiness.

So while ultimate happiness is everyone’s goal, it is often difficult to see past the illusions and discern love from hawa. One fail-safe way, is to ask yourself this question: Does getting closer to this person that I ‘love’ bring me closer to—or farther from—Allah? In a sense, has this person replaced Allah in my heart?

True or pure love should never contradict or compete with one’s love for Allah. It should strengthen it. That is why true love is only possible within the boundaries of what Allah has made permissible. Outside of that, it is nothing more than hawa, to which we either submit or reject. We are either slaves to Allah, or slaves to our hawa. It cannot be both.

Only by struggling against false pleasure, can we attain true pleasure. They are by definition mutually exclusive. For that reason, the struggle against our desires is a prerequisite for the attainment of paradise. Allah says:

“But as for he who feared the position of his Lord and prevented the soul from [unlawful] inclination, then indeed, Paradise will be [his] refuge.” (Qur’an, 79: 40-41)


- Republished from InFocus News

~* Why Do Muslims Fast In Ramadan? *~

What is Fasting (Sawm)? Sawm (Arabic: صوم) is an Arabic word for fasting regulated by Islamic jurisprudence. In the terminology of Islamic l...