Monday, September 20, 2010

~* Tafsir Tasawuf (Sufi): Surah An-Nur ayat 35 *~


Maksud ayat:


“Allah (memberi) cahaya (kepada) langit dan bumi. Perumpamaan cahaya Allah adalah seperti lubang yang tak tembus yang di dalamnya ada pelita besar. Pelita itu di dalam kaca dan kaca itu seakan-akan (bintang yang bercahaya) seperti mutiara yang menyalakan minyak dari pohon yang banyak berkahnya, iaitu pohon zaitun yang tumbuh tidak di sebelah timur (sesuatu) dan tidak pula di sebelah baratnya yang minyaknya sahaja menerangi walaupun tidak disentuh api. Cahaya di atas cahaya (berlapis-lapis) Allah membimbing kepada cahayanya, siapa yang Dia kehendaki, dan Allah membuat perumpamaan-perumpamaan bagi manusia dan Allah Maha Mengetahui segala sesuatu."
[Surah An-Nur: Ayat 35]



Hakikat CAHAYA (NUR)
Kejelasan, penafsiran dan pengertian ayat misykat memberi bantuan yang amat besar dalam memahami persoalan hati dan perjalanan suluk.

Pada ayat pertama, komposisi atau komponen manusia diumpamakan dengan lubang yang tidak tembus dengan pelita dan kaca. Misykat adalah suatu lubang di dinding yang tidak tembus ke sebelahnya. Pelita sama dengan lampu, dan kaca adalah dinding yang menghimpun dan melingkupi pelita yang menerangi.

Perumpamaan ketiga-tiga komponen ini adalah perumpamaan dari manusia yang beriman yang padanya ada jasadnya, hatinya dan cahaya yang ada di dalam hati. Jasad diumpamakan dengan misykat, hati diumpamakan dengan kaca dan cahaya diumpamakan dengan pelita yang ada dalam kaca.


“Allah cahaya langit dan bumi”


Bermaksud: Dia adalah pemberi petunjuk (cahaya) kepada langit dan bumi; di mana tiada petunjuk di langit dan di bumi tanpa cahaya-Nya. Selanjutnya Allah mengumpamakan petunjuk-Nya sebahagian petunjuk bagi orang mukmin. Hidayah ditamsilkan dengan perumpamaan-perumpamaan, kebesaran dan kemuliaan hidayah-Nya menjadi jelas.

Jadi, misykat adalah jasad orang mukmin yang melingkupi hatinya, kaca ialah hati orang mukmin yang melingkupi cahaya hati yang merupakan petunjuk dari penunjuk bagi orang mukmin itu sendiri, sehingga dia mampu melihat hakikat segala sesuatu yang berjalan di atas hidayah dari Tuhannya dengan cahaya tersebut. Ini adalah Tahap Pertama dalam perumpamaan.

Tahap perumpamaan kedua ialah kaca yang melingkupi pelita atau hati yang melingkupi cahaya dan kebenderangan cahaya yang sangat cemerlang diumpamakan dengan bintang yang menerangi, di mana bintang itu diserupakan dengan mutiara kerana sangat cemerlangnya cahaya bintang tersebut.

Kita perhatikan di sini, perbincangan tentang kaca dan semua pelitanya atau tentang hati dan cahayanya, seluruhnya diumpamakan dengan bintang yang mutiara (al-Kaukub ad-Durriy) sehingga pelita itu mampu bersinar. Demikian pula kacanya, ia bersinar kerana cemerlang dan putih bersih.

Perumpamaan Tahap Ketiga ialah pelita ada dalam kaca, dari mana dan dengan apa kaca itu dinyalakan? Dari mana cahaya itu didapati? Bagaimana kecahayaan (nuraniyah) mampu berlangsung? Dengan ungkapan lain, cahaya itu ada di dalam hati, dari mana hati itu memperoleh nuraniah? Bentuk pertolongan bagaimana yang yang diberikan kepada hati atau yang diperolehinya hingga ia bernuraniah? Apa yang menimbulkan cahaya rohani tersebut?

Allah SWT berfirman yang dinyalakan, maksudnya yang dinyalakan adalah pelita yang ada dalam kaca atau cahaya yang ada dalam hati orang mukmin dinyalakan, “dengan minyak yang dari pohon yang banyak berkatnya atau yang banyak manfaatnya. Iaitu pohon zaitun yang tumbuh tidak di sebelah timur dan tidak pula di sebelah baratnya”. Sedangkan Zaitun ialah syariat Allah.

Menurut Ibnu Kasir, kejernihan, sinar atau nuraniah yang ada dalam diri seorang mukmin diumpamakan seperti dinding kaca yang jernih lagi murni seperti permata, sedangkan al-Qurán dan syariát diumpamakan seperti minyak jernih, baik, bercahaya dan seimbang tanpa ada sedikit pun keruh.

Perumpamaan terhadap keempat pohon yang penuh berkah merupakan sumber dari cahaya hati, adalah syariat Allah yang penuh manfaat, yang merupakan sumbe dari cahaya kalbu. Dari situlah kalbu mengambil cahaya. Berapa kadar besar minyaknya? Allah befirman:


“Yang minyaknya sahaja hampir-hampir menerangi walaupun tidak disentuh api”


Minyak itu dinyatakan jernih dan bercahaya, kata an-Nasafi kerana kilaunya hampir-hampir bersinar tanpa ada api atau tanpa dinyalakan api. Kadar besar nuraniah syariat yang memberi cahaya pada hati? Dan betapa besar cahaya hati yang diperoleh dari sinaran cahaya syariat?

Demikianlah adanya, dan kerana itulah Allah berfirman:


“Cahaya di atas cahaya”


Ini adalah perumpamaan tahap kelima. Cahaya yang diumpamakan kebenaran itu, kata an-Nasafi, seperti yang bersatu yang berlapis-lapis yang mana di dalamnya terjadi interaksi antara (cahaya) misykat, pelita dan minyak. Sehingga tidak ada satupun yang tinggal untuk memperkuat benderangnya cahaya, kerana pelita yang ada di dalam tempat yang sempit menyerupai lubang yang tidak tembus, di mana ia mampu menghimpun dan memadukan seluruh cahaya. Hal ini berbeza seandainya di tempat yang luas, maka sinar cahayanya akan tersebar dan berserakan. Sedangkan (dinding) kaca merupakan suatu yang paling banyak menambah penerangan, demikian juga dengan minyak dan kebenderangannya.

Menurut Ibnu Kasir’As-Saddi yang pernah berkata tentang firman Allah tersebut, cahaya di atas cahaya adalah cahaya api dan cahaya minyak bila bersatu akan memancarkan sinar, dan yang satu tidak akan memancarkan cahaya yang lain. Demikian pula cahaya al-Qurán dan cahaya iman bersatu padu.

Dengan demikian, perumpamaan yang Allah buat untuk menerangkan kebebasan hidayahNya telah sempurna, dan dari penjelasan tentang perumpamaan tersebut, kita tahu bahawa penunaian syariat Allah lah yang mampu memberikan cahaya iman yang abadi.

Selain itu, berdasarkan pendapat Ibnu kasir’As-Saddi juga, cahaya api dan cahaya minyak bila bersatu padu memancarkan sinar, dan tidak akan bersinar satu di antaranya tanpa yang lain. Demikian juga cahaya al-Qurán dan cahaya iman ketika bersatu padu, dan satu di antaranya tidak akan memancarkan cahaya tanpa yang lain.

Di sini, kita sudah mulai memahami bahawa kewujudan kandungan al-Qurán merupakan makanan yang kekal bagi kalbu, sebab dengan al-Qurán pelita hati akan tetap menyala terang dan akan tetap memperolehi petunjuk. Bertambahnya perpaduan cahaya hati dan pancarannya bergantung kepada kadar penunaian seseoang terhadap kandungan al-Qurán dan misykat atau jasad akan memantulkan cahaya ini sehingga jalan baginya menjadi terang dan juga bagi yang lain.


“Allah membimbing kepada cahaya-Nya kepada siapa yang dia kehendaki dan Allah membuat perumpamaan-perumpamaan bagi manusia. Dan Allah Maha Mengetahui segala sesuatu.”


Maksudnya: Allah membimbing kepada cahaya syariat-Nya atau Allah memberi hidayah kepada siapa yang Dia kehendaki dari ahli Iman sehingga mereka memperolehinya dan mengikuti petunjuk yang diberikan kepada mereka.

- Penulisan dari Saudara MahmudShah

~* Is This Love I’m Feeling? *~


LOVE is a serious mental disease.” At least that’s how Plato put it. And while anyone who’s ever been ‘in love’ might see some truth to this statement, there is a critical mistake made here. Love is not a mental disease. Desire is.

If being ‘in love’ means our lives are in pieces and we are completely broken, miserable, utterly consumed, hardly able to function, and willing to sacrifice everything, chances are it’s not love. Despite what we are taught in popular culture, true love is not supposed to make us like drug addicts.

And so, contrary to what we’ve grown up watching in movies, that type of all-consuming obsession is not love. It goes by a different name. It is hawa—the word used in the Quran to refer to one’s lower, vain desires and lusts. Allah describes the people who blindly follow these desires as those who are most astray:

“But if they answer you not, then know that they only follow their own lusts (hawa). And who is more astray than the one who follows his own lusts, without guidance from Allah?” (28: 50)


By choosing to submit to our hawa over the guidance of Allah, we are choosing to worship those desires. When our love for what we crave is stronger than our love for Allah, we have taken that which we crave as a lord. Allah says:

“Yet there are men who take (for worship) others besides Allah, as equal (with Allah): They love them as they should love Allah. But those of Faith are overflowing in their love for Allah.” (2:165)


If our ‘love’ for something makes us willing to give up our family, our dignity, our self-respect, our bodies, our sanity, our peace of mind, our deen, and even our Lord who created us from nothing, know that we are not ‘in love’. We are slaves.

Of such a person Allah says:

“Do you see such a one as takes his own vain desires (hawa) as his lord? Allah has, knowing (him as such), left him astray, and sealed his hearing and his heart, and put a cover on his sight. (45: 23)


Imagine the severity. To have one’s sight, hearing and heart all sealed. Hawa is not pleasure. It is a prison. It is a slavery of the mind, body and soul. It is an addiction and a worship. Beautiful examples of this reality can be found throughout literature. In Charles Dickens’ Great Expectations, Pip exemplifies this point. In describing his obsession with Estella, he says: “I knew to my sorrow, often and often, if not always, that I loved her against reason, against promise, against peace, against hope, against happiness, against all discouragement that could be.”

Dickens’ Miss Havisham describes this further: “I’ll tell you…what real love is. It is blind devotion, unquestioning self-humiliation, utter submission, trust and belief against yourself and against the whole world, giving up your whole heart and soul to the smiter – as I did!”

What Miss Havisham describes here is in fact real. But it is not real love. It is hawa. Real love, as Allah intended it, is not a sickness or an addiction. It is affection and mercy. Allah says in His book:

“And of His signs is that He created for you from yourselves mates that you may find tranquility in them; and He placed between you affection and mercy. Indeed in that are signs for a people who give thought.” (30: 21)


Real love brings about calm—not inner torment. True love allows you to be at peace with yourself and with God. That is why Allah says: “that you may dwell in tranquility.” Hawa is the opposite. Hawa will make you miserable. And just like a drug, you will crave it always, but never be satisfied. You will chase it to your own detriment, but never reach it. And though you submit your whole self to it, it will never bring you happiness.

So while ultimate happiness is everyone’s goal, it is often difficult to see past the illusions and discern love from hawa. One fail-safe way, is to ask yourself this question: Does getting closer to this person that I ‘love’ bring me closer to—or farther from—Allah? In a sense, has this person replaced Allah in my heart?

True or pure love should never contradict or compete with one’s love for Allah. It should strengthen it. That is why true love is only possible within the boundaries of what Allah has made permissible. Outside of that, it is nothing more than hawa, to which we either submit or reject. We are either slaves to Allah, or slaves to our hawa. It cannot be both.

Only by struggling against false pleasure, can we attain true pleasure. They are by definition mutually exclusive. For that reason, the struggle against our desires is a prerequisite for the attainment of paradise. Allah says:

“But as for he who feared the position of his Lord and prevented the soul from [unlawful] inclination, then indeed, Paradise will be [his] refuge.” (Qur’an, 79: 40-41)


- Republished from InFocus News

~* Why Do Muslims Fast In Ramadan? *~

What is Fasting (Sawm)? Sawm (Arabic: صوم) is an Arabic word for fasting regulated by Islamic jurisprudence. In the terminology of Islamic l...