Friday, October 22, 2010

~* Suara hatiku *~

My Friend said: Cinta itu membahagiakan, tapi juga menyakitkan.
My Answer: Bagiku ia bergantung pada keadaan sebabnya "Disaat dia mencintai diriku, terasa diri bahagia, tetapi disaat dia mencurigai diriku, hati terasa terluka."

My Friend said: Cinta itu tak harus memiliki.
My Answer: Setuju, semua orang pasti ingin memiliki dan merasa harus untuk memiliki.

My Friend said: Bila melihat orang yang kita cintai bahagia, maka kita juga akan bahagia.
My Answer: Tak setuju, tipu la atau kita memaksa diri kita untuk pretend kita juga bahagia, padahal jauh disudut hati pasti terasa kesakitan...jangan jadi orang munafik!!

My Friend said: Kita akan rasa lebih bahagia apabila dicintai daripada mencintai.
My Answer: Ermmmm tak setuju, bila dicintai kita pasti merasa bangga dan bila mencintai kita rasa bahagia.. apa yang penting kita perlu kuatkan semangat bila cinta bertepuk sebelah tangan.. tawakal pada ketentuan ALLAH..

~* Cinta tak harus memiliki kerana ada ketika ianya tidak berbalas.. Cinta juga bukan bereti untuk sehidup semati dan tak selamanya bahagia.. asking to myself "SIAPA PEMILIK CINTAKU SELAIN ALLAH & RASUL??" .. Yang pasti cintaku ini adalah perasaan yang tak pernah mati!!

Yang penting kita berserah segala sesuatu kepada Allah dan perlu ingat bahawa Allah yang menentukan segala sesuatu. Kewajiban kita untuk ikhtiar & berusaha. Firman Allah “Sesudah kesulitan itu pasti ada kemudahan, sesungguhnya sesudah kesulitan itu pasti ada kemudahan.” [Surah Alam Nasyrah: Ayat 5 – 6] *~

Monday, September 20, 2010

~* Tafsir Tasawuf (Sufi): Surah An-Nur ayat 35 *~


Maksud ayat:


“Allah (memberi) cahaya (kepada) langit dan bumi. Perumpamaan cahaya Allah adalah seperti lubang yang tak tembus yang di dalamnya ada pelita besar. Pelita itu di dalam kaca dan kaca itu seakan-akan (bintang yang bercahaya) seperti mutiara yang menyalakan minyak dari pohon yang banyak berkahnya, iaitu pohon zaitun yang tumbuh tidak di sebelah timur (sesuatu) dan tidak pula di sebelah baratnya yang minyaknya sahaja menerangi walaupun tidak disentuh api. Cahaya di atas cahaya (berlapis-lapis) Allah membimbing kepada cahayanya, siapa yang Dia kehendaki, dan Allah membuat perumpamaan-perumpamaan bagi manusia dan Allah Maha Mengetahui segala sesuatu."
[Surah An-Nur: Ayat 35]



Hakikat CAHAYA (NUR)
Kejelasan, penafsiran dan pengertian ayat misykat memberi bantuan yang amat besar dalam memahami persoalan hati dan perjalanan suluk.

Pada ayat pertama, komposisi atau komponen manusia diumpamakan dengan lubang yang tidak tembus dengan pelita dan kaca. Misykat adalah suatu lubang di dinding yang tidak tembus ke sebelahnya. Pelita sama dengan lampu, dan kaca adalah dinding yang menghimpun dan melingkupi pelita yang menerangi.

Perumpamaan ketiga-tiga komponen ini adalah perumpamaan dari manusia yang beriman yang padanya ada jasadnya, hatinya dan cahaya yang ada di dalam hati. Jasad diumpamakan dengan misykat, hati diumpamakan dengan kaca dan cahaya diumpamakan dengan pelita yang ada dalam kaca.


“Allah cahaya langit dan bumi”


Bermaksud: Dia adalah pemberi petunjuk (cahaya) kepada langit dan bumi; di mana tiada petunjuk di langit dan di bumi tanpa cahaya-Nya. Selanjutnya Allah mengumpamakan petunjuk-Nya sebahagian petunjuk bagi orang mukmin. Hidayah ditamsilkan dengan perumpamaan-perumpamaan, kebesaran dan kemuliaan hidayah-Nya menjadi jelas.

Jadi, misykat adalah jasad orang mukmin yang melingkupi hatinya, kaca ialah hati orang mukmin yang melingkupi cahaya hati yang merupakan petunjuk dari penunjuk bagi orang mukmin itu sendiri, sehingga dia mampu melihat hakikat segala sesuatu yang berjalan di atas hidayah dari Tuhannya dengan cahaya tersebut. Ini adalah Tahap Pertama dalam perumpamaan.

Tahap perumpamaan kedua ialah kaca yang melingkupi pelita atau hati yang melingkupi cahaya dan kebenderangan cahaya yang sangat cemerlang diumpamakan dengan bintang yang menerangi, di mana bintang itu diserupakan dengan mutiara kerana sangat cemerlangnya cahaya bintang tersebut.

Kita perhatikan di sini, perbincangan tentang kaca dan semua pelitanya atau tentang hati dan cahayanya, seluruhnya diumpamakan dengan bintang yang mutiara (al-Kaukub ad-Durriy) sehingga pelita itu mampu bersinar. Demikian pula kacanya, ia bersinar kerana cemerlang dan putih bersih.

Perumpamaan Tahap Ketiga ialah pelita ada dalam kaca, dari mana dan dengan apa kaca itu dinyalakan? Dari mana cahaya itu didapati? Bagaimana kecahayaan (nuraniyah) mampu berlangsung? Dengan ungkapan lain, cahaya itu ada di dalam hati, dari mana hati itu memperoleh nuraniah? Bentuk pertolongan bagaimana yang yang diberikan kepada hati atau yang diperolehinya hingga ia bernuraniah? Apa yang menimbulkan cahaya rohani tersebut?

Allah SWT berfirman yang dinyalakan, maksudnya yang dinyalakan adalah pelita yang ada dalam kaca atau cahaya yang ada dalam hati orang mukmin dinyalakan, “dengan minyak yang dari pohon yang banyak berkatnya atau yang banyak manfaatnya. Iaitu pohon zaitun yang tumbuh tidak di sebelah timur dan tidak pula di sebelah baratnya”. Sedangkan Zaitun ialah syariat Allah.

Menurut Ibnu Kasir, kejernihan, sinar atau nuraniah yang ada dalam diri seorang mukmin diumpamakan seperti dinding kaca yang jernih lagi murni seperti permata, sedangkan al-Qurán dan syariát diumpamakan seperti minyak jernih, baik, bercahaya dan seimbang tanpa ada sedikit pun keruh.

Perumpamaan terhadap keempat pohon yang penuh berkah merupakan sumber dari cahaya hati, adalah syariat Allah yang penuh manfaat, yang merupakan sumbe dari cahaya kalbu. Dari situlah kalbu mengambil cahaya. Berapa kadar besar minyaknya? Allah befirman:


“Yang minyaknya sahaja hampir-hampir menerangi walaupun tidak disentuh api”


Minyak itu dinyatakan jernih dan bercahaya, kata an-Nasafi kerana kilaunya hampir-hampir bersinar tanpa ada api atau tanpa dinyalakan api. Kadar besar nuraniah syariat yang memberi cahaya pada hati? Dan betapa besar cahaya hati yang diperoleh dari sinaran cahaya syariat?

Demikianlah adanya, dan kerana itulah Allah berfirman:


“Cahaya di atas cahaya”


Ini adalah perumpamaan tahap kelima. Cahaya yang diumpamakan kebenaran itu, kata an-Nasafi, seperti yang bersatu yang berlapis-lapis yang mana di dalamnya terjadi interaksi antara (cahaya) misykat, pelita dan minyak. Sehingga tidak ada satupun yang tinggal untuk memperkuat benderangnya cahaya, kerana pelita yang ada di dalam tempat yang sempit menyerupai lubang yang tidak tembus, di mana ia mampu menghimpun dan memadukan seluruh cahaya. Hal ini berbeza seandainya di tempat yang luas, maka sinar cahayanya akan tersebar dan berserakan. Sedangkan (dinding) kaca merupakan suatu yang paling banyak menambah penerangan, demikian juga dengan minyak dan kebenderangannya.

Menurut Ibnu Kasir’As-Saddi yang pernah berkata tentang firman Allah tersebut, cahaya di atas cahaya adalah cahaya api dan cahaya minyak bila bersatu akan memancarkan sinar, dan yang satu tidak akan memancarkan cahaya yang lain. Demikian pula cahaya al-Qurán dan cahaya iman bersatu padu.

Dengan demikian, perumpamaan yang Allah buat untuk menerangkan kebebasan hidayahNya telah sempurna, dan dari penjelasan tentang perumpamaan tersebut, kita tahu bahawa penunaian syariat Allah lah yang mampu memberikan cahaya iman yang abadi.

Selain itu, berdasarkan pendapat Ibnu kasir’As-Saddi juga, cahaya api dan cahaya minyak bila bersatu padu memancarkan sinar, dan tidak akan bersinar satu di antaranya tanpa yang lain. Demikian juga cahaya al-Qurán dan cahaya iman ketika bersatu padu, dan satu di antaranya tidak akan memancarkan cahaya tanpa yang lain.

Di sini, kita sudah mulai memahami bahawa kewujudan kandungan al-Qurán merupakan makanan yang kekal bagi kalbu, sebab dengan al-Qurán pelita hati akan tetap menyala terang dan akan tetap memperolehi petunjuk. Bertambahnya perpaduan cahaya hati dan pancarannya bergantung kepada kadar penunaian seseoang terhadap kandungan al-Qurán dan misykat atau jasad akan memantulkan cahaya ini sehingga jalan baginya menjadi terang dan juga bagi yang lain.


“Allah membimbing kepada cahaya-Nya kepada siapa yang dia kehendaki dan Allah membuat perumpamaan-perumpamaan bagi manusia. Dan Allah Maha Mengetahui segala sesuatu.”


Maksudnya: Allah membimbing kepada cahaya syariat-Nya atau Allah memberi hidayah kepada siapa yang Dia kehendaki dari ahli Iman sehingga mereka memperolehinya dan mengikuti petunjuk yang diberikan kepada mereka.

- Penulisan dari Saudara MahmudShah

~* Is This Love I’m Feeling? *~


LOVE is a serious mental disease.” At least that’s how Plato put it. And while anyone who’s ever been ‘in love’ might see some truth to this statement, there is a critical mistake made here. Love is not a mental disease. Desire is.

If being ‘in love’ means our lives are in pieces and we are completely broken, miserable, utterly consumed, hardly able to function, and willing to sacrifice everything, chances are it’s not love. Despite what we are taught in popular culture, true love is not supposed to make us like drug addicts.

And so, contrary to what we’ve grown up watching in movies, that type of all-consuming obsession is not love. It goes by a different name. It is hawa—the word used in the Quran to refer to one’s lower, vain desires and lusts. Allah describes the people who blindly follow these desires as those who are most astray:

“But if they answer you not, then know that they only follow their own lusts (hawa). And who is more astray than the one who follows his own lusts, without guidance from Allah?” (28: 50)


By choosing to submit to our hawa over the guidance of Allah, we are choosing to worship those desires. When our love for what we crave is stronger than our love for Allah, we have taken that which we crave as a lord. Allah says:

“Yet there are men who take (for worship) others besides Allah, as equal (with Allah): They love them as they should love Allah. But those of Faith are overflowing in their love for Allah.” (2:165)


If our ‘love’ for something makes us willing to give up our family, our dignity, our self-respect, our bodies, our sanity, our peace of mind, our deen, and even our Lord who created us from nothing, know that we are not ‘in love’. We are slaves.

Of such a person Allah says:

“Do you see such a one as takes his own vain desires (hawa) as his lord? Allah has, knowing (him as such), left him astray, and sealed his hearing and his heart, and put a cover on his sight. (45: 23)


Imagine the severity. To have one’s sight, hearing and heart all sealed. Hawa is not pleasure. It is a prison. It is a slavery of the mind, body and soul. It is an addiction and a worship. Beautiful examples of this reality can be found throughout literature. In Charles Dickens’ Great Expectations, Pip exemplifies this point. In describing his obsession with Estella, he says: “I knew to my sorrow, often and often, if not always, that I loved her against reason, against promise, against peace, against hope, against happiness, against all discouragement that could be.”

Dickens’ Miss Havisham describes this further: “I’ll tell you…what real love is. It is blind devotion, unquestioning self-humiliation, utter submission, trust and belief against yourself and against the whole world, giving up your whole heart and soul to the smiter – as I did!”

What Miss Havisham describes here is in fact real. But it is not real love. It is hawa. Real love, as Allah intended it, is not a sickness or an addiction. It is affection and mercy. Allah says in His book:

“And of His signs is that He created for you from yourselves mates that you may find tranquility in them; and He placed between you affection and mercy. Indeed in that are signs for a people who give thought.” (30: 21)


Real love brings about calm—not inner torment. True love allows you to be at peace with yourself and with God. That is why Allah says: “that you may dwell in tranquility.” Hawa is the opposite. Hawa will make you miserable. And just like a drug, you will crave it always, but never be satisfied. You will chase it to your own detriment, but never reach it. And though you submit your whole self to it, it will never bring you happiness.

So while ultimate happiness is everyone’s goal, it is often difficult to see past the illusions and discern love from hawa. One fail-safe way, is to ask yourself this question: Does getting closer to this person that I ‘love’ bring me closer to—or farther from—Allah? In a sense, has this person replaced Allah in my heart?

True or pure love should never contradict or compete with one’s love for Allah. It should strengthen it. That is why true love is only possible within the boundaries of what Allah has made permissible. Outside of that, it is nothing more than hawa, to which we either submit or reject. We are either slaves to Allah, or slaves to our hawa. It cannot be both.

Only by struggling against false pleasure, can we attain true pleasure. They are by definition mutually exclusive. For that reason, the struggle against our desires is a prerequisite for the attainment of paradise. Allah says:

“But as for he who feared the position of his Lord and prevented the soul from [unlawful] inclination, then indeed, Paradise will be [his] refuge.” (Qur’an, 79: 40-41)


- Republished from InFocus News

Friday, August 13, 2010

~* The Darkest Hour and the Coming of the Dawn *~


According to a well-stated proverb, the darkest hour is just before the dawn. And although astronomically the darkest point is much earlier, the truth of this proverb is metaphoric—but in no way less real.

So often we find that the darkest times in our lives are followed by the most precious. Often, it is at the moment when everything looks broken that something least expected lifts us and carries us through. Did not Prophet Ayoub lose everything one by one, before it was all given back and more?

Yes. For Prophet Ayoub, the night was real. And for many of us, it seems to last forever. But Allah does not allow an endless night. In His mercy, he gives us the sun. Yet there are times when we feel our hardships won’t cease. And maybe some of us have fallen to such a spiritual low in our deen (religion) that we feel disconnected from our Creator. And maybe for some of us, it’s so dark, we don’t even notice.

But like the sun that rises at the end of the night, our dawn has come. In His infinite mercy, Allah has sent the light of Ramadan to erase the night. He has sent the month of the Qur’an so that He might elevate us and bring us from our isolation to His nearness. He has given us this blessed month to fill our emptiness, cure our loneliness, and end our soul’s poverty. He has sent us the dawn that we might find from darkness – light. Allah says,


“He it is Who sends blessings on you, as do His angels, that He may bring you out from the depths of Darkness into Light: and He is Full of Mercy to the Believers” (Qur’an, 33:43).


And this mercy extends to all who seek it. Even the most hardened sinner is told to never lose hope in God’s infinite mercy. God says in the Qur’an:

“Say: “O my Servants who have transgressed against their souls! Despair not of the Mercy of Allah. For Allah forgives all sins: for He is Oft-Forgiving, Most Merciful” (Qur’an, 39:53).


Allah is the Owner of mercy, and there is no time when that mercy is showered more upon us than in the blessed month of Ramadan. The Prophet ﷺ has said regarding Ramadan:


“Its beginning is mercy, its middle is forgiveness, and its ending is liberation from the Hellfire.” (Ibn Khuzaymah, al-Sahih)



Every moment of Ramadan is a chance to come back to Allah. Whatever we are now going through in our lives is often a direct result of our own actions. If we are humiliated, or feel low, it is our own sins which have lowered us. It is only by Allah that we can ever hope to be elevated. If we are consistently unable to wake up for Fajr, or if we find it increasingly difficult to stay away from haram (the forbidden), we must examine our relationship with Allah. Most of all, we must never be deceived. We must never allow ourselves to think that anything in this world succeeds, fails, is given, taken, done, or undone without Allah. It is only by our connection to our Creator that we rise or fall in life, in our relationship with our world—and with all of humanity.

But unlike humanity, our Creator doesn’t hold grudges. Imagine receiving a clean slate. Imagine having everything you ever regret doing erased completely. Ramadan is that chance. The Prophet told us:


“Whoever fasts during Ramadan out of sincere faith and hoping to attain Allah’s rewards, then all his past sins will be forgiven” (Bukhari).


So given this unparalleled opportunity, how can we best take advantage of it? Two often overlooked issues to keep in mind are:

Know why you’re fasting

Many people fast as a ritual, without truly understanding its meaning. Others reduce it to a simple exercise in empathy with the poor. While this is a beautiful consequence of fasting, it is not the main purpose defined by Allah. Allah says in the Qur’an:


“Fasting is prescribed for you as it was prescribed for those before you, that you may attain taqwa (God-consciousness).” (Qur’an, 2:183)


By controlling and restraining our physical needs, we gain strength for the greater battle: controlling and restraining our nafs (our soul’s desire). When fasting, every hunger pang reminds us of God—the one for whom we have made this sacrifice. By constantly remembering Allah and sacrificing for Him, we are made more aware of His presence, and in that way we increase our taqwa (fear and consciousness of Him). The same thing that prevents us from the sin of sneaking in food while no one else is watching trains us to avoid other sins while no one else is watching. That is taqwa.

Don’t make fasting just hunger and thirst

The Prophet has said,


“Whoever does not give up forged speech and evil actions, Allah is not in need of his leaving his food and drink.” (Al-Bukhari)


The Prophet also warns us:



“Many people who fast get nothing from their fast except hunger and thirst, and many people who pray at night get nothing from it except wakefulness.” (Darimi)


While fasting, understand the whole picture. Remember that fasting is not just about staying away from food. It is about striving to become a better person.

And in so striving, we are given a chance to escape the darkness of our own isolation from God. But like the sun that sets at the end of the day, so too will Ramadan come and go, leaving only its mark on our heart’s sky…

- By Yasmin Mogahed

Tuesday, August 10, 2010

~* Mari Memaksimumkan Bonus Ramadhan *~


Bagi memastikan sempurnanya puasa serta mampu memaksimakan pahala dan keuntungan dari Ramadhan, amalan yang berdasarkan nas yang kuat berikut perlu dilakukan:-

1) Berniat dalam hati untuk berpuasa di malam hari.

2) Bersahur di akhir malam
(yang terbaik adalah jaraknya dengan azan subuh selama bacaan 50 ayat al-Quran secara sederhana).

Nabi SAW bersabda :

"Perbezaan di antara puasa kami (umat Islam) dan puasa ahli kitab adalah makan sahur." (Riwayat Muslim)

"Bersahurlah kamu, kerana pada sahur itu ada barakahnya." (Riwayat Bukhari dan Muslim)

Baginda SAW juga menyebutkan bahawa malaikat sentiasa meminta ampun bagi orang yang bersahur. (Riwayat Ahmad)

Selain makan tatkala itu adalah amat digalakkan kita untuk mendirikan Solat Sunat Tahajjud, Solat Sunat Witir dan beristifghar dan lain-lain amalan sebelum menunaikan Solat Subuh berjemaah (bagi lelaki). Adalah amat tidak digalakkan bagi seseorang yang bersahur dengan hanya makan di sekitar jam 12 malam sebelum tidur. Kebanyakan individu yang melakukan amalan ini sebenarnya amat merasa berat dan malas untuk bangun di tengah malam. Ia pada hakikatnya adalah tidak menepati sunnah yang diajarkan oleh baginda SAW.

3) Memperbanyakkan bacaan Al-Quran dengan tenang dan tidak tergesa-gesa.

Terdapat ramai ulama silam menyebut tentang kepentingan mendahulukan membaca Al-Quran di atas amalan sunat seperti menelaah kitab, membaca hadis dan lain-lain. Ia adalah salah satu amalan yang paling diambil berat oleh Nabi SAW ketika baginda membacanya bersama Malaikat Jibrail a.s. Hal ini disebut di dalam hadis al-Bukhari.

4) Memperbanyakkan doa semasa berpuasa.

Sepanjang waktu kita sedang menjalani ibadah puasa, ia adalah sentiasa merupakan waktu yang sesuai dan maqbul untuk kita berdoa, sebagaimana di tegaskan oleh Nabi SAW :-

Ertinya : "Tiga yang menjadi hak Allah untuk tidak menolak doa mereka, orang berpuasa sehingga berbuka, orang yang dizalimi sehingga dibantu, dan orang bermusafir sehinggalah ia pulang" (Riwayat Al-Bazaar)

Sebuah hadis lain yang hampir sama maksudnya menyebutkan :-

Ertinya : “Tiga yang tidak ditolak doa mereka, orang berpuasa sehingga berbuka, pemerintah yang adil dan doa orang yang dizalimi" (Riwayat At-Tirmizi)

5) Memperbanyakan doa ketika hampir berbuka.

Ini kerana tahap maqbul tatkala itu semakin hebat berdasarkan hadis Nabi SAW :-

Ertinya : "Sesungguhnya bagi orang yang berpuasa itu tatkala waktu berbukanya,adalah waktu doa yang tidak ditolak." (Riwayat Ibn Majah)

6) Menyegerakan berbuka puasa selepas pasti masuk waktu maghrib.

Berdasarkan hadis Nabi SAW :-

Ertinya : "Sentiasalah umatku berada dalam kebaikan sepanjang kamu menyegerakan berbuka" (Riwayat Al-Bukhari)

Berbuka juga perlu didahulukan sebelum menunaikan Solat Maghrib, malah jika pada hari tersebut tahap kelaparan kita agak luar biasa, lebih baik kita berbuka dan makan sekadar perlu agar kelaparan tidak mengganggu Solat Magrhib kita. Disebutkan bahawa tidaklah Nabi SAW menunaikan Solat Maghrib kecuali setelah berbuka walaupun hanya dengan segelas air. (Abu Ya'la dan al-Bazzar)

7) Adalah digalakkan pula untuk berbuka dengan beberapa biji rutab (kurma basah) atau tamar (kurma kering) sebagai mengikuti sunnah, dan jika tiada keduanya mulakan dengan meneguk air.

Ertinya : “Rasulullah SAW berbuka dengan kurma basah (rutab) sebelum solat dan sekiranya tiada rutab, maka tamar dan jika tiada, baginda meminum beberapa teguk air".

8) Amat disunatkan untuk sedekah harta bagi mempersiapkan juadah berbuka untuk orang ramai terutamanya orang miskin.

Nabi SAW bersabda :-

Ertinya : “Barangsiapa yang memberikan juadah berbuka buat orang yang berpuasa maka baginya pahala seperti orang yang berpuasa itu tanpa kurang sedikit pun" (Riwayat At-Tirmidzi) Disebut dalam sebuah hadis lain, Ertinya : “Barangsiapa yang mengenyangkan seorang yang berpuasa (berbuka), Allah akan memberinya minum dari telagaku ini dengan satu minuman yang tidak akan haus sehinggalah ia memasuki syurga" (Riwayat Al-Baihaqi)

9) Menunaikan Solat Sunat Terawih pada malam hari secara berjemaah buat lelaki dan wanita atau boleh juga dilakukan secara bersendirian.

Ia berdasarkan hadis riwayat An-Nasaie yang sohih. Boleh juga untuk menunaikannya separuh di masjid dan separuh lagi di rumah, terutamanya bagi sesiapa yang ingin melengkapkan kepada 20 rakaat.

10) Memperbanyakkan bersiwak (iaitu menggunakan kayu sugi tanpa air dan ubat gigi). Ia juga sohih dari Nabi SAW dari Riwayat al-Bukhari.

11) Amaran bagi berbuka di siang Ramadhan tanpa uzur.

Selain itu, Nabi juga menyebut bahawa : "Barangsiapa yang berbuka tanpa uzur pada Bulan Ramadhan, maka ia tidak mampu menggantikan kerugian dari puasa yang ditinggalkan itu, walaupun ia berpuasa selama-lamanya" (Riwayat Abu Daud, Ibn Majah)

- Sumber http://www.zaharuddin.net/

~* A Quick Preparation Guide For Ramadhan *~





What to do?
  1. Start reading Quran daily.
  2. Spend some time listening to recitations from the Quran.
  3. Train yourself to wake up early for Salat al-Fajr.
  4. Keep yourself in a state of Wudu' (Ablution) most of the time.
  5. Evaluate yourself daily before going to bed.
  6. Thank Allah for good deeds, and repent to Him for your mistakes and sins.
  7. Start giving Sadaqah daily and make it as a habit.
  8. Find time to pray extras, such as Nafals andTahajjud prayers.
  9. Spend more time reading Islamic books especially the Quran, Hadith and Fiqh.
  10. Find time to help others with your wisdom, knowledge and other talents.
  11. Try to write articles on Islam for Muslims as well as for non-Muslims.
  12. Associate with Muslim scholars or ulama and other pious people so, you may learn from them.
  13. Train yourself to do good, render free service to others to seek the pleasure of Allah.

What to avoid ?
  1. Avoid or reduce watching TV.
  2. Avoid looking at unlawful pictures.
  3. Spend free time in mosque or Islamic organizations and make that as a daily habit.
  4. If you smoke, try to reduce daily usage and cut it down for good.
  5. If you have friends who do not practice the teachings of Islam, try to avoid socializing with them.
  6. If you travel a lot on business, try to do more local business so you can be closer to your family and community.

" Time is not money or gold; it is life itself and is limited . You must begin to appreciate every moment of your life and always strive to make the best use of it. "


A Quick Checklist :

  1. Make a resolve to win the maximum favor of Allah by performing extra Voluntary prayers (Nawafils), making frequent Dua and increased remembrance (Dhikr).
  2. Try to recite some Holy Quran after every Prayer.
  3. Study the Tafseer (commentary).
  4. Invite a person you are not very close with or your relatives to your home for Iftaar.
  5. Bring life to your family! Everyday, try to conclude the fast with your family and spend some quality time together to understand each other better.
  6. Give gifts on Eid to at least 5 people: 2 to your family members, 2 to your good friends, and 1 to a person whom you love purely for the sake of Allah. This is in addition to normal 'Iddiya' to children.
  7. Where applicable, make commitment to join Islamic study circles to learn more about Islam and improve your own life.
  8. Donate generously to the mosque, Islamic organizations and any where people are in need or oppressed.
  9. Share month of Ramadan and its teachings of peace and patience with your colleagues at work, neighbors and relatives.
  10. Sleep little, eat little! Make sure you do not defeat the purpose of fasting by over-indulging in food and being lazy.
  11. Seek the rare and oft-neglected rewards of the night better than 1000 months ( Laylatul-Qadr ).
  12. Weep in private for the forgiveness of your sins.
  13. Learn to control your tongue and lower your gaze.
  14. Encourage others to enjoin and love goodness, and to abandon everything that Allah dislikes. Play the role of a Da'ee (one who invites to Allah) with zeal, passion, and sympathy.
  15. Experience the joy of Tahajjud prayers late at night and devote yourself purely and fully to Allah in the Itikaf retreat during Ramadan.
  16. For extra concerted effort, try to be off work for few last days of Ramadhan for maximum Ibada.
  17. Make an effort to reconcile with the people you are not on good terms with. Forgive everyone and keep your heart clean.
  18. In all your dhikr, do not forget your parents, your neighbors', relatives, dead people and other muslims.

Thursday, July 1, 2010

~* Memadailah Kematian Sebagai Nasihat *~

Segala puji hanyalah bagi Allah. Kami memuji-Nya, mengharapkan pertolongan-Nya, meminta ampun kepada-Nya, serta memohon petunjuk-Nya. Kami juga berlindung kepada-Nya dari kejahatan hawa nafsu dan dari kejahatan amal perbuatan kami. Orang yang diberi petunjuk oleh Allah tidak seorang pun yang dapat menyesatkannya. Sebaliknya, orang yang disesatkan tidak seorang pun yang dapat memberi petunjuk kepadanya. Aku bersaksi bahawa tiada Tuhan selain Allah, dan Muhammad itu adalah hamba dan pesuruh-Nya. Semoga Allah melimpahkan salawat dan salam kepada Nabi Muhammad, keluarganya, para sahabat dan sekelian pengikutnya hingga ke akhir zaman.

Al-Hafiz Al-Hakami dalam sebuah syairnya, mengatakan :

Ingatlah kematian dan peristiwa-peristiwa terjadi selepas itu; tidak seorang pun yang dapat melepaskan diri daripadanya.
Kematian merupakan penentuan segalanya; segala sesuatu menjadi jelas akibatnya.
Kubur boleh menjadi sebuah taman syurga; dan boleh pula menjadi lubang neraka.
Jika ia baik, maka setelahnya itu adalah kenikmatan yang tiada bandingannya dari Tuhan.
Jika ia jahat, maka setelahnya itu; adalah kesengsaraan jauh lebih
dahsyat.
Demi Allah, sekiranya kau tahu apa yang berlaku selepas itu; tentulah kau tidak akan tertawa malah banyak menangis.


Wahai sekelian hamba Allah! Semua manusia sedang berjalan menuju kematian. Dia akan ingat sebuah ketentuan yang pasti dialami oleh setiap insan. Iaitu sebuah kemestian yang telah ditetapkan oleh Allah SWT kepada sekalian anak cucu Adam. Pada saat kematian menjelma, ia akan menghinakan para pelaku kezaliman dan melumpuhkan para pelaku maksiat. Orang derhaka akan insaf dan orang yang berdosa akan bertaubat.

Saat kematian tiba adalah saat yang sangat menyakitkan yang akan dilalui oleh semua orang, samada raja mahupun rakyat jelata, samada pemimpin mahupun orang yang dipimpin, samada orang kaya mahupun orang miskin. Persediaan diri yang sebenarnya adalah ketika menghadapi kematian. Berazamlah untuk memanfaatkan waktu sebaik-baiknya dengan melakukan amal soleh dan tidak membuangnya dengan sia-sia.

Apabila Sufyan al-Tsauri duduk beramai-ramai bersama rakan-rakannya di suatu majlis, dia hanya duduk sekejap sambil membaca tasbih dan kemudian terus berdiri.

Rakan di sekelilingnya hairan sehingga mereka bertanya : “Kenapa dengan dirimu Abu Sa’id?”

Ia menjawab : “Demi Allah, aku baru sahaja teringat akan kematian.”

Anak muda sudahpun beruban
Dan orang tua telahpun binasa
Waktu pagi dan waktu petang
Datang silih berganti.
Malam yang usang itu digantikan dengan siang
Dan generasi baru pun berdatangan
Kita pergi dan pulang kerana keperluan hidup
Padahal keperluan orang yang hidup itu tak putus-putusnya
Setiap keperluan mati bersamaan
Dengan kematian pemiliknya
Keperluan yang tetap hidup hanyalah amal soleh dan kebajikan…


Oleh itu Adz-Zahabi berkata : “Sufyan al-Tsauri mati kerana dia mengingati kematian, sehingga merosak denyutan darah dalam jantungnya. Ketika itu dia dibawa kepada seorang doktor, doktor itu berkata “Orang ini tidak akan hidup lebih dari tiga hari lagi.”, kerana jantungnya sudah tidak bergerak tidak seperti biasanya.”

Sufyan al-Tsauri pernah membaca surah at-Takastur pada suatu malam, lalu mengulang-ulangi sampai waktu paginya sambil menangis. Keluarga dan tetangganya juga ikut menangis kerana mendengar tangisannya itu. Mengapakah sampai demikian? Sebab dia menghayati betul-betul maksud ayat yang dibacanya dan meyakini benar akan hari Akhirat. Allah SWT telah berfirman :

“Janganlah begitu, jika kamu mengetahui dengan pengetahuan yang yakin.”
(at-Takastur : 5)


Malangnya kita sekarang hanya mengagak-agak bahawa hari Akhirat itu ada. Padahal kita tahu bahawa kita bakal mati. Kita sering mengebumikan datuk, ayah, ibu dan saudara-mara namun semua pengalaman dan pengetahuan itu seperti tidak ada faedahnya bagi kita. Seandainya keyakinan terhadap adanya hari Akhirat itu benar-benar tertanam dalam hati kita, nescaya kita menghadap kepada Allah, mentaati perintah-Nya dan menjauhi larangan-Nya serta kita sentiasa memelihara waktu untuk sentiasa bersama Allah.

Maimun bin Marhan seorang ahli ibadah yang zuhud lagi alim, telah menggali kubur dalam rumahnya sendiri. Lalu setiap malam dia masuk ke dalam kuburan buatannya itu untuk membaca al-Quran sambil menangis. Jika tidak tahan kepanasan dan kegelapan ruang sempit itu dia keluar darinya dalam keadaan menangis sambil berkata kepada dirinya sendirinya :


“Wahai Maimun, kamu telah kembali lagi ke dunia, maka segeralah untuk memperbanyak amal soleh.”



Ada juga ulama yang menyiapkan kain kafan untuk dirinya dan meletakkannya di bahagian atas punggung bilik tidurnya sehingga setiap hari matanya melihat kain kafan tersebut dan hatinya selalu teringat akan kematian.

Beberapa faktor yang boleh mengingatkan kita kepada kematian :

Faktor Pertama
Hendaklah kamu sering menziarahi kubur. Janganlah kamu sentiasa sibuk di pasar-pasar, di pameran-pameran, di istana-istana, di perayaan-perayaan, di taman-taman, dan di rumah-rumah yang megah yang membuatmu lalai daripada menziarahi kubur. Jadikanlah ziarah kubur sebagai salah satu agenda tetap kegiatan hidupmu, lalu berdirilah disana barang beberapa saat dan ingatlah dimanakah rakan-rakanmu yang dahulu selalu bermain riang bersamamu? Dimanakah orang-orang yang dahulunya kamu kenal dan mereka juga mengenalimu? Dimanakah orang-orang yang dahulunya kamu saling bersenda-gurau bersama mereka?

Pada suatu hari Umar bin Abdul Aziz melaksanakan solat Hari Raya bersama umat manusia, lalu beliau menziarahi sebuah perkuburan ketika pulang menuju rumahnya. Di sana dia berdiri menatap perkuburan tersebut lalu menangis. Kemudian dia berkata kepada orang-orang yang berada di sekelilingnya : “Wahai kawan-kawanku, sesungguhnya ini adalah perkuburan datukku, ayahku, saudara-saudara dan jiran-jiranku. Tahukah kamu apa yang telah diperbuat oleh kematian terhadap mereka semua?”

Dia pun terus menangis dan menangis. Mereka menjawab : “Sesungguhnya kami tidak tahu. Lalu apakah yang diperbuat kematian terhadap mereka, wahai Amirul-Mukminin?”

Umar bin Abdul Aziz berkata : “Ketahuilah bahawa kematian telah memakan kedua-dua biji mata mereka, memisahkan kedua telapak tangan dari pergelangan mereka, memutuskan kedua pergelangan dari siku mereka, dan melepaskan kedua lengan dari badan mereka. Segala sesuatu dari tubuh mereka telah dipisahkan oleh kematian.”

Kemudian dia menangis lagi dan orang-orang itu ikut menangis, tanpa mengira orang soleh mahupun orang fasik.

Inilah sebuah pengajaran yang memberikan nasihat kepadamu yang tidak dapat terlupakan selama-lamanya. Oleh itu, hendaklah kamu menziarahi kubur walau sekali dalam seminggu untuk mengingati ayah, bapa saudara, ibu saudara, ibu atau nenek. Ingatlah bagaimana keadaan mereka semasa bergelut dengan kematian yang amat menggerunkan ini.

Faktor Kedua
Membaca kitab Allah sambil menghayatinya. Berusahalah menangis jika kamu tidak menangis dengan tangisan yang sebenarnya.

Umar Al Khattab r.a. berkata : “Jika kamu tidak dapat menangis, maka berusahalah untuk menangis.”

Bacalah al-Quran itu secara perlahan dan berusahalah untuk menghayati kandungannya. Semoga dengan demikian Allah mengurniakan ke arah jalan yang benar dan mengembalikanmu kepada kelompok-Nya.

Faktor Ketiga
Berteman dengan orang-orang yang soleh. Ketika duduk bersama mereka, rahmat Allah akan turun dari langit, jiwa menjadi tenang, dan Allah akan meliputimu dengan keutamaan dari-Nya. Mereka akan mengingatkanmu kepada kematian dan kehidupan akhirat. Mereka tidak akan melengahkanmu dari mengingati keduanya dengan pelbagai kegiatan yang sia-sia seperti yang dilakukan oleh orang-orang yang tidak soleh.

Kita memohon kepada Allah agar Dia memperbaiki keadaan kita kepada keadaan yang lebih baik, mengembalikan kita kepada-Nya dengan cara yang terbaik dan menjadikan pemimpin kita dari kalangan orang yang dikasihi-Nya. Kita juga memohon agar Dia menghiasi diri kita dengan iman, keyakinan dan ihsan di samping mengingatkan kita kepada kematian serta menjadikan kita sebagai orang-orang yang sentiasa bersiap-sedia menghadapi kematian ini. Juga semoga Dia memelihara waktu, umur, dan kehidupan kita di alam dunia yang fana ini.

Sesungguhnya Allah Maha Kuasa melakukan semuanya itu.

Salawat dan salam sentiasa tercurahkan ke atas Jujungan kita Nabi Muhammad SAW, keluarga dan para sahabat baginda sehingga ke akhir zaman.

Wallahu a’alam.

- Oleh Dr Aidh Bin Abdullah Al-Qarni

~* Why Do Muslims Fast In Ramadan? *~

What is Fasting (Sawm)? Sawm (Arabic: صوم) is an Arabic word for fasting regulated by Islamic jurisprudence. In the terminology of Islamic l...