Friday, November 16, 2007

Ibadah Haji & Umrah : Talbiah


Hambamu datang menyahut panggilanmu, Ya Allah, Hambamu datang menyahut panggilanmu.

Hambamu datang menyahut panggilanmu, Tidak ada sekutu bagimu, Hambamu datang menyahut panggilanmu.

Sesungguhnya segala pujian.

Dan nikmat

Dan pemerintahan adalah kepunyaanmu.

Tidak ada sekutu bagimu.

~* Beberapa Cara Mendekatkan Diri kepada Allah *~

  1. Sholat wajib tepat waktu, selalu berdoa dan berzikir kepada Allah (SWT) .
    Dengan sholat, berdo'a dan zikir kepada Allah (SWT) , Inya Allah hati menjadi tenang, damai dan makin dekat dengan-Nya.
  2. Sholat tahajud.
    Dengan sholat tahajud Insya Allah (SWT) cenderung mendapatkan perasaan tenang. Hal ini dimungkinkan karena di tengah kesunyian malam didapatkan kondisi keheningan dan ketenangan suasana,yang tentu saja semua itu hanya dapat terjadi atas izin-Nya. Pada malam hari, diri ini tidak lagi disibukkan dengan urusan pekerjaan ataupun urusan-urusan duniawi lainnya sehingga dapat lebih khusyu saat menghadap kepada-Nya.
  3. Mengingat kematian yang dapat datang setiap saat.
    Kematian sebenarnya sangat dekat, lebih dekat dari urat leher kita. Dan dapat secepat kilat menjemput.
  4. Membayangkan tidur di dalam kubur. Membayangkan tidur dalam kuburan yang sempit , gelap dan sunyi saat kita mati nanti. Semoga amal ibadah kita selama di dunia ini dapat menemani kita di alam kubur nanti.
  5. Membayangkan kedahsyatan siksa neraka.
    Azab Allah (SWT) sangat pedih bagi yang tidak menjauhi larangan-Nya dan tidak mengikuti perintah-Nya. " Ya Allah!! Jauhkanlah kami dari siksa neraka-Mu, kerana kami sangat takut akan siksa neraka-Mu. Ya Allah!! bimbinglah kami agar dapat memanfaatkan sisa hidup kami untuk selalu dijalan-Mu.……"
  6. Membayangkan syurga-Nya. Kesenangan duniawi hanya bersifat sementara, sangat singkat dibanding dengan kenikmatan di akhirat yang tidak dibatasi waktu. Semoga kita dapat selalu mengikuti perintah-Nya dan menjauhi larangan-Nya dan EnshaAllah diizinkan untuk meraih Syurga-Nya. Amin…..
  7. Mengikuti tausyiah atau mengikuti pengajian secara rutin seminggu satu kali (minimal), dua kali atau lebih. EnshaAllah... dengan mendengar tausyiah atau mengikuti pengajian, akan meningkatkan keimanan kerana selalu diingatkan kembali utk selalu dekat kepada Allah (SWT). Perlu dicatat, dikeranakan iman bisa turun atau naik, maka harus dijaga agar iman tetap stabil pada keadaan tinggi/ kuat dengan mengikuti tausyiah, pengajian dan sebagainya.
  8. Bergaul dengan orang-orang sholeh.
    Seperti sudah dijelaskan di atas bahawa tingkat keimanan kita bisa turun atau naik, untuk itu perlu dijaga agar tingkat keimanan kita tetap tinggi. Berada pada lingkungan dimana orang-orangnya dekat dengan Allah (SWT), EnshaAllahjuga akan membawa kita untuk makin dekat kepada-Nya.
  9. Membaca Al Qur'an dan maknanya (erti dari setiap ayat yang dibaca).
    EnshaAllah dengan membaca Al Qur'an dan maknanya, akan menjadikan kita makin dekat dengan-Nya.
  10. Menambah pengetahuan keislaman dengan berbagai cara, antara lain dengan : membaca buku, membaca di internet (tentang pengetahuan Islam, artikel Islam, tausyiah dan sebagainya), melihat video Islamik yang dapat meningkatkan keimanan kita.
  11. Merasakan kebesaran Allah (SWT), atas semua ciptaan-Nya seperti Alam Semesta (jagad raya yang tidak berbatas) beserta semua isinya.
  12. Merenung atas semua kejadian alam yang terjadi di sekeliling kita (tsunami, gunung meletus, gempa dan sebagainya). Dimana semua itu mungkin berupa ujian keimanan, peringatan, atau teguran bagi kita agar kita selalu ingat kepada-Nya/ mengikuti perintah-Nya. Bukan makin tersesat ke perbuatan maksiat atau perbuatan lain yang dilarang oleh-Nya. "Ya Allah!! Kami memohon bimbingan-Mu agar kami dapat selalu menilai atas semua kesalahan yang kami perbuat, meninggalkan larangan-Mu dan kembali ke jalan-Mu Ya Allah..."
  13. Mensyukuri begitu besar nikmat yang sudah diberikan oleh Allah (SWT).
    Jangan selalu melihat ke atas, lihatlah orang lain yang lebih susah. Begitu banyak nikmat yang diberikan oleh-Nya.Saat ini kita masih bisa bernafas, masih bisa makan, bisa minum, masih mempunyai keluarga, masih mempunyai apa yang kita miliki saat ini,masih mempunyai panca indera mata, hidung, telinga dan...masih bisa bernafas (masih diberi kesempatan hidup). Masih pantaskah kita tidak bersyukur dan tidak berterimakasih pada-Nya.

~* Wanita Muslimah *~


Buat Yang Bernama Wanita:


Allah berfirman:


"Ketika Aku menciptakan seorang wanita, ia diharuskan untuk menjadi seorang yang istimewa. Aku membuat bahunya cukup kuat untuk menopang dunia; namun, harus cukup lembut untuk memberikan kenyamanan."


"Aku memberikannya kekuatan dari dalam untuk mampu melahirkan anak dan menerima penolakan yang seringkali datang dari anak-anaknya."


"Aku memberinya kekerasan untuk membuatnya tetap tegar ketika orang-orang lain menyerah, dan mengasuh keluarganya dengan penderitaan dan kelelahan tanpa mengeluh."


"Aku memberinya kepekaan untuk mencintai anak-anaknya dalam setiap keadaan, bahkan ketika anaknya bersikap sangat menyakiti hatinya."


"Aku memberinya kekuatan untuk mendukung suaminya dalam kegagalannya dan melengkapi dengan tulang rusuk suaminya untuk melindungi hatinya."


"Aku memberinya kebijaksanaan untuk mengetahui bahawa seorang suami yang baik takkan pernah menyakiti isterinya, tetapi kadang menguji kekuatannya dan ketetapan hatinya untuk berada disisi suaminya tanpa ragu-ragu."


"Dan akhirnya, Aku memberinya air mata untuk dititiskan. Ini adalah khusus miliknya untuk digunakan ketika ia diperlukan."


"Kecantikan seorang wanita bukanlah dari pakaian yang dikenakannya, susuk yang ia tampilkan, atau bagaimana ia menyisir rambutnya.


Kecantikan seorang wanita harus dilihat dari matanya, kerana itulah pintu hatinya, tempat dimana cinta itu ada."


Kerana..... setiap wanita itu sememangnya dijadikan cantik...

~* WANITA SOLEHAH - Bidadari Mencemburui Kesolehannya.... *~

Tazkirah Perhiasan yang menjadi dambaan..


Perhiasan adalah suatu yang menambah seri suasana, menyejukkan hati dan mata. Seperti mana sejuknya hati dan mata apabila melihat bunga, demikianlah hati apabila melihat perhiasan. Tapi, Kenapa tidak semua wanita menyejukkan hati sedangkan ia diciptakan sebagai pelengkap kepada perhiasan dunia dan akhirat? Malah, ada wanita yang menjadi punca kemelut dan kacau bilau. Garis pemisahnya ialah sekeping hati yang ia miliki.


Seorang manusia bergelar nabi, manusia lelaki pertama dicipta Allah, pernah menghuninya. Dia dimuliakan oleh semua makhluk termasuk malaikat, atas perintah Allah. Dia bebas menelurusi setiap ceruk menikmati keindahan yang tidak terperi. Namun ditengah keindahan syurga, jauh di sudut hatinya masih ada suatu kekosongan. Mengapa? Kerana tiada wanita menemaninya dalam menikmati keindahan syurga! Maka diciptakannya wanita sebagai pelengkap kepada nikmat syurgawi.


Syurga masih terasa kurang lengkap tanpa wanita. Bidadari yang cantik jelita juga adalah wanita. Kalau begitu, boleh meriahkah dunia ini tanpa wanita? Setiap akal dan hati tahu jawapannya. Ya...tanpa wanita, sunyi sepilah dunia. Tidak banggakah kita menjadi wanita? Persoalannya, cukupkah sekadar dilahirkan sebagai wanita, kita boleh berbangga menyandang keistimewaan ini?


Perhiasan adalah suatu yang menambah seri suasana, menyejukkan hati dan mata. Seperti mana sejuknya hati dan mata apabila melihat bunga, demikianlah hati apabila melihat perhiasan. Tapi, Kenapa tidak semua wanita menyejukkan hati sedangkan ia diciptakan sebagai pelengkap kepada perhiasan dunia dan akhirat? Malah, ada wanita yang menjadi punca kemelut dan kacau bilau. Garis pemisahnya ialah sekeping hati yang ia miliki.


Apabila hati diserahkan kepada Allah, kekallah wanita dengan asal penciptaannya iaitu penyejuk mata dan hati.Apabila wanita terus mengikatkan hati kepada zat yang menjadikannya, kekallah ia sebagai perhiasan yang dijaga rapi. Redup wajahnya mengundang pembelaan dari hati yang menjadi hamba Tuhan dan kerendahan hati yang tunduk kepada syariat meletakkan ia sentiasa dalam keredhaan dan perlindungan dari Zat Yang Maha Agung. Inilah wanita sejati bergelar wanita solehah seperti yang digambarkan oleh Rasullullah:


" Dunia adalah perhiasan dan sebaik-baik perhiasan ialah wanita solehah."


Di dunia lagi bidadari mencemburui kesolehannya dan di akhirat bidadari sudi menjadi khadamnya.


Sebaliknya, jika hati dibawa jauh dari Allah, hilanglah kejernihan wajah dan jadilah dia duri yang menjadi punca kemelut serta kacau bilau. Apabila wanita lari dari ikatan Tuhan, maka terbukalah segala pintu yang akan menjerumuskannya ke lembah fitnah kehinaan. Hilanglah redup wajah yang menjadi dambaan dan yang terserlah ialah kecantikan palsu yang menanti untuk dieksploitasi oleh manusia buas yang menjadi hamba nafsu.


Ibarat bunga sejati dan bunga plastik. Jika bunga plastik disembur pewangi, harumnya lebih kuat daripada haruman bunga sejati…tapi haruman itu tidak kekal. Haruman bunga plastik bukan miliknya yang sebenar, ia haruman palsu yang bersifat luaran. Berbeza dengan keharuman bunga sejati yang bersifat dalaman dan kekal. Keharuman bunga sejati tetap kekal dimana saja ia diletakkan, di jambangan ataupun sekadar tumbuh di pingggir belantara. Sebaliknya bunga plastik tetap kaku, haruman palsunya akan semakin hilang walaupun tersusun indah di jambangan emas.


Wanita solehah yang hatinya terikat dengan Allah-si gadis dihiasi sifat sopan dan malu; si anak mentaati ibu bapa; srikandi dihiasi keberanian dan ketegasan yang penuh kesopanan serta prihatin terhadap suasana masyarakat; si isteri penuh ketaatan, kesetiaan dan kasih terhadap suami. Semuanya berteraskan rasa cinta kepada Yang Maha Pencipta. Berbahagialah kaum Adam yang berjaya memiliki `perhiasan' sejati ini kerana pastinya hidup akan terarah ke syurga. Syurga dunia yang disegerakan dan syurga hakiki yang kekal abadi.


Seorang wanita yang hatinya jauh dari Tuhan masih mampu menjadi perhiasan dunia yang digilai oleh segenap lelaki. Kecantikan dan lentoknya menjadikan hati lelaki tunduk semahu-mahunya sehingga sangggup berkorban segala-galanya-suatu perhambaan yang tersirat. Terpenjaralah hati kaum Adam yang memilih perhiasan`palsu' ini. Hati menjadi sempit dan di akhirat terseksa tanpa batas!


Wanita boleh memilih untuk menjadi `bunga sejati'. Wanita solehah yang membawa tenang. Wanita juga boleh memilih untuk menjadi `bunga plastik'. Wanita yang mengundang kemelut, kacau bilau dan kehancuran. Kita sentiasa ada pilihan… maka pilihlah. Kita hanya akan layak menjadi `bunga sejati' jika hati tunduk kepada Tuhan. Bagaimanapun, Tuhan tidak pernah memaksa. Dia tetap agung walaupun kita sebagai hamba terus derhaka…Maha suci Allah yang telah memuliakan kita sebagai wanita. Daripadanya kita datang dan kepada-Nya kita akan kembali.

~* Malu (al-haya') *~

Malu ertinya dari segi bahasa adalah menahan diri dari melakukan sesuatu yang mengakibatkan sesuatu yang negatif. Maka sifat malu itu sendiri adalah sifat yang mulia dan terpuji jika difahami secara benar maksud dan tatacaranya. Dari malu akan seseorang dari keadaan hina dina dan meletakkan seseorang di dalam keadaan kesempurnaan kerana selalu melakukan hal-hal yang positif sahaja. Perasaan ini dapat mengatasi seseorang melakukan hal-hal kemaksiatan, kerana seseorang itu akan berperasaan; “ Bahawasanya saya adalah lebih tinggi daripada perbuatan terkutuk itu dan saya lebih mulia daripada perbuatan tercela itu.”.


Asal usul kalimat hayaatun (kehidupan) berasal dari kata hayaa’un (malu). Kamus lisan arab merujuk (istahyu rajulun) – kuatnya denyut kehidupan dalam jiwa seorang lelaki. Maka difahami dari frasa ini ialah dia malu untuk bersangkut-paut dalam hal-hal kehinaan kerana hati nuraninya tidak mahu melakukan hal-hal yang berakibat negative.


Maka difahami perasaan malu (al-haya’) berkait rapat dengan kehidupan itu sendiri dan membawa makna dan rahsia kehidupan itu. Maka seseorang yang tidak mempunyai sifat malu maka dia bukanlah hidup sebenarnya, tapi sudah mati atau hampir mati keadaannya.


Perbezaan malu (al-haya’) dan tersipu (al-jahalu)Malu yang kita fahami bukanlah malu tersipu-sipu tidak pada tempatnya kerana malu yang kita bincangkan ini adalah sesuatu perasaan yang lebih besar maknanya. Sifat malu tersipu-sipu dan merendah diri adalah al-jahalu. Contoh malu tersipu-sipu hingga gagap dan takut menjawab soalan guru di kelas adalah contoh al-jahalu. Sikap ini disebabkan kurangnya keyakinan diri dan lemah keperibadiannya. Akan tetapi al-haya (malu) adalah disebabkan sifat percaya diri dan kuat keperibadiannya lantaran kuatnya dia dalam menolak segala sesuatu yang negatif. Sungguh terdapat kekeliruan dalam dua istilah ini yang sering dicampur-baurkan.


Sekilas Dalil-dalil


Rasulullah saw bersabda;


“ Cabang iman itu terdapat 63 bahagian. Sedang malu itu sebahagian daripada iman.” (Bukhari:9 & Muslim:151)


Hadith yang lain menyebut;


“Cabang iman itu 63 bahagian. Yang tertinggi adalah mengucapkan Lailaha illa Allah. Bahagian terendah adalah membuang rintangan dijalanan. Adapun malu itu sebahagian daripada iman.” (Abu Dawud:4676)


Lihatlah penting sifat malu hingga ia sebenarnya berkait rapat dengan keimanan. Maka lihatlah dimana sifat malu kita dan muhasabahlah. Kebanyakan kita tidak tahu malu sebenarnya.


Muara akhlak ialah malu


Rasulullah saw bersabda;


“Malu itu mengandungi kebaikan” (Muslim:156, Abu Dawud:4796)


“Malu itu tidak mendatangkan sesuatu kecuali kebaikan.” (Bukhari:5766, Muslim:155)


“Malu itu sebahagian daripada iman dan iman tempatnya disyurga sedangkan buruk akhlak itu sebahagian dari kekerasan hati dan tempatnya dineraka. (Tirmizi:2009)


“Malu dan iman keduanya tidak boleh dipisahkan. Jika satunya terangkat maka yang lain jua turut terangkat.”(Musnad al-Hakim, 1:22)


Jika dicabut rasa malu itu maka tunggulah saat kehancuran


Rasulullah saw bersabda;


“Sesungguhnya jika Allah mahu menghancurkan seorang hambaNya maka ia akan menghilangkan rasa malunya, maka jika telah dicabut rasa malunya kamu tidak akan menjumpainya lagi kecuali ia membenci dan dibenci dan dicabutlah rasa amanah darinya. Maka jika dicabut rasa amanah darinya engkau tidak akan menjumpainya kecuali ia khianat dan mengkhianati dan jika engkau tidak menjumpainya kecuali ia khianat dan mengkhianati dicabutlah rasa kasih saying daripadanya. Dan jika kasih saying dicabut darinya maka engkau tidak menjumpainya melainkan ia dikutuk dan dilaknat. Maka dicabutlah keislaman darinya.” (Ibnu Majah:4054)


Subhanallah, awal kehancuran adalah dicabutkan rasa malu. Astaghfirullah, di jalanan kita mendapati terlalu ramai manusia yang sudah hilang sifat malu. Mereka tidak malu dan secara terbuka melakukan kezaliman dan kemaksiatan sedangkan kita yang melihat sendiri yang berasa malu atas perbuatan mereka. Sedang mereka bangga dan bersikap acuh tidak acuh terhadap perkara yang mereka lakukan.


Bacalah sekali lagi hadith diatas, dan tanyalah diri kita. Adakah kita mempunyai sifat malu……………………..?


Suatu makna yang indah


Rasulullah saw bersabda;


“Sesungguhnya setiap agama ada akhlak tersendiri dan akhlak Islam adalah malu” (Ibnu Majah:4181)


Hadith tersebut tidak bererti satu-satunya akhlak dalam Islam adalah malu akan tetapi akhlak yang paling sempurna dalam Islam adalah sifat malu. Betapa agungnya malu dalam akhlak Islam!


Hadith yang mempunyai 2 makna


Rasulullah saw bersabda;


“Sesungguhnya apa yang diketahui oleh manusia dari sabda kenabian terdahulu ialah; Jika engkau tidak malu maka lakukanlah sesuka hati kamu.” (Bukhari:348, Ibnu Majah:4183)


Bahawa akhlak malu itu dimiliki para Nabi. Oleh itu kita dapat fahami,


  1. Ancaman, jika tidak malu maka buatlah sesuka hati dan nantikanlah balasan Allah swt.
  2. Kerja keras tanpa keluh kesah. Jika pekerjaan yang anda lakukan itu tidak tercela maka lakukanlah dengan sungguh-sungguh dan tulus ikhlas.

Rasulullah saw malu umpama gadis pingitan


Rasa malu Nabi melebihi gadis pingitan. Jika baginda melihat sesuatu yang tidak baginda sukai, maka akan merahlah muka baginda yang mulia itu dan menjauhkan diri dari melihatnya. Apa yang kita lakukan jika kita lihat sesuatu yang tidak elok? Apakah wajah kita akan memerah dan menundukkan pandangan kita? Mulai hari ini kita cerminkanlah diri kita!


Malu Seorang Gadis


Fatimah binti Utbah bin Rabi’ah berjumpa Rasulullah saw kerana ingin masuk Islam. Saat itu Aisyah ra ada bersama baginda. Nabi saw bersabda;


“Ya Fatimah, berbaiatlah kepadaku. Janganlah engkau menyekutukan Allah sw sedikitpun. Jangan mencuri, apalagi berbuat zina.” (Ahmad: 1/21)


Ketika Fatimah mendengar kata “zina” ia menutupi wajahnya dengan tangannya disebabkan malu. Rasulullah saw berasa hairan dengan sikap Fatimah tersebut lalu Aisyah ra berkata; “Ya Fatimah, berbaiatlah engkau kerana seluruh wanita telah berbaiat tentang hal itu.” Maka Fatimah pun berbaiat.


Mendengar perkataan itu sahaja membuatkannya malu, apatah hal-hal yang lebih dari itu. Dewasa ini pemuda pemudi kita sudah hilang sifat malunya. Gadis juga berperawakan lelaki, bercakap kasar, berkata-kata lucah, menghisap rokok dan sebagainya. Jika gadis-gadis sudah begini bayangkanlah pula pemudanya. Sukar dibayangkan betapa teruknya. Dimanakah wanita seperti Fatimah ini?


Sampai Malaikat pun Malu KepadaNya


Nabi saw bersabda;


Apakah saya tidak malu terhadap Utsman? Sedangkan malaikat pun malu padanya! (Muslim:6159, Ahmad:VI/62)


Adakah diantara kita yang mempunyai seperempat atau sepersepuluh dari rasa malu Utsman? Diriwayatkan Utsman menikahi seorang gadis dan apabila dia meninggal dunia, isterinya itu ditanya mengapa dia tidak mahu menikah lagi sedangkan dia masih muda. Dia menjawab,” Sungguh aku tidak akan menjumpai orang yang selembut Utsman sebagai suamiku.”


Wanita itu berjalan malu-malu


Firman Allah swt dalam al-Quran ketika menggambarkan wanita anak Nabi Syuaib berjumpa Musa as;


Kemudian datanglah kepada Musa salah seorang dari kedua wanita itu berjalan kemalu-maluan, ia berkata: "Sesungguhnya bapakku memanggil kamu agar ia memberikan balasan terhadap (kebaikan)mu memberi minum (ternak) kami." (al-Qashash:25)


Renungilah ayat ini dan bacalah sekelian kalinya hingga kita berfikir mengapa begitu lengkap dan sempurna pernyataan Allah dalam menguraikan bagaimana anak Nabi Allah Syuaib tatacaranya berjalan? Seolah-olah kita merasakan bahawa perkataanya jua gaya jalannya menunjukkan rasa malunya. Seluruh badannya menunjuk rasa malu yang agung, menjaga kehormatan diri dan maruah wanita dan jua manusia seluruhnya. Sesungguhnya rasa malu bagi wanita itu adalah perisai tak tertembusi oleh manusia lain, andai saja dia pandai menjaga perisai malunya. Tuntutan rasa malu kepada wanita adalah fitrah kerana wanita itu sendiri lembut dan sopan melebihi lelaki.


Adalah dikesalkan pada zaman ini kita sudah ketandusan generasi sebegini. Namun disebalik redup ketandusan ini, Allah tidak menghilangkan golongan yang masih mempunyai harga diri. Masih terdapat yang memelihara aurat mereka dengan sempurna, menjaga pergaulan bebas, bersifat malu selayaknya wanita. Umpama mutiara sempurna tersusun rapi didalam bekas yang terjaga. Biarpun berdepan arus globalisasi dan modernisasi yang kuat mengfitnah, insya Allah yang memberi ketenangan pada hambaNya yang soleh dan solehah. Arus feminisme dan emansipasi wanita jua turut memberikan tekanan, yang melaungkan kebebasan yang superficial kerana hakikatnya mereka mengeluarkan diri dari keistimewaan dan darjat tinggi yang telah diberikan Islam. Hasilnya wanita yang bersikap tidak senonoh, menghina diri untuk menarik perhatian orang lain khususnya lelaki, dan hilang sifat kewanitaan. Musuh Islam sangat gembira dengan hakikat ini kerana tidak cukup dengan wanita Eropah untuk dirosakkan, wanita di Timur khususnya wanita Islam menjadi matlamatnya.


Tegakkanlah rasa al-haya dalam diri kita. Itu adalah anugerah Allah yang tidak ternilai dan tidak terbanding dengan apa yang ada pada dunia dan seisinya.


Wallahu al-Musta’an.


Rujukan: Semulia Akhlak Nabi (Amru Khalid)

~* Tujuh petanda kebahagiaan dunia *~

Dari Ibnu Abbas ra, ada 7 petanda kebahagiaan dunia, iaitu :

  • Qalbun syakirun atau hati yang selalu bersyukur
  • Al azwaju shalihah, iaitu pasangan hidup yang soleh
  • Al auladun abrar, iaitu anak yang soleh
  • Albiatu sholihah, iaitu lingkungan yang kondusif untuk iman kita
  • Al malul halal, atau harta yang halal
  • Tafakur fi dien, atau semangat untuk memahami agama
  • Umur yang barakah - ertinya umur yang semakin tua semakin soleh, yang setiap detiknya diisi dengan amal ibadah.

~* Nasihat hidup bahagia *~


Barangsiapa menginginkan teman, cukuplah Allah (SWT) menjadi temannya.

Barangsiapa menginginkan kekayaan, cukuplah qana’ah menyertainya.

Barangsiapa menginginkan nasihat, cukuplah kematian menasihatinya.

Barangsiapa menginginkan harta simpanan, cukuplah Al-Quran menjadi barang simpanannya.

Barangsiapa yang tidak cukup dengan keempat-empat hal ini, cukuplah neraka baginya.

~* Why Do Muslims Fast In Ramadan? *~

What is Fasting (Sawm)? Sawm (Arabic: صوم) is an Arabic word for fasting regulated by Islamic jurisprudence. In the terminology of Islamic l...