Tuesday, June 15, 2010

~* Sabar *~


Sesungguhnya iman itu terdiri atas dua bagian: sebagian sabar dan sebagian syukur. Keduanya merupakan dua sifat dari sifat-sifat Allah Ta’ala dan dua nama dari al-asmaa-ul-husnaa, dimana Dia menamakan Diri-Nya dengan nama ash-Shabuur dan asy-Syakuur. Maka kebodohan terhadap hakikat sabar dan syukur, sebenarnya adalah kebodohan daripada sifat-sifat Dia Ta’ala.

Keutamaan Sabar

Allah Ta’ala sesungguhnya telah menyifatkan orang-orang yang sabar, dengan beberapa sifat. Ia menambahkan lebih banyak derajat dan kebajikan kepada sabar. Ia menjadikan derajat dan kebajikan itu sebagai hasil (buah) dari sabar. Maka Allah ‘Azza wa Jalla berfirman:

“Dan Kami jadikan di antara mereka itu beberapa pemimpin yang akan memberikan pimpinan dengan perintah Kami, yaitu ketika mereka berhati teguh (sabar)”. (QS. As-Sajadah : 24).

“Dan telah sempurnalah perkataan yang baik dari Tuhan engkau untuk Bani Israil, disebabkan keteguhan hati (kesabaran) mereka”. (QS Al A’raf : 137).

“Kepada orang-orang itu diberikan pembalasan (pokok) dua kali lipat, disebabkan kesabaran mereka”. (QS. Al Qashash : 54)

“Sesungguhnya orang-orang yang sabar itu, akan disempurnakan pahalanya dengan tiada terhitung”. (QS Az-Zumar : 10).



Maka tidak ada dari pendekatan diri manusia kepada Allah (ibadah), melainkan pahalanya itu ditentukan dengan kadar dan dapat dihitung, selain sabar. Dan sesungguhnya adanya puasa itu sebagian dari sabar dan puasa itu separuh sabar, maka Allah Ta’ala mengaitkan puasa itu bagi orang-orang yang bersabar, bahwa Ia bersama mereka.

“Hendaklah kamu bersabar, sesungguhnya Allah itu bersama orang-orang yang sabar”. (QS. Al-Anfal : 46).

“Ya! Kalau kamu sabar dan memelihara diri, sedang mereka datang kepadamu (menyerang) dengan cepatnya, Tuhan akan membantu kamu dengan lima ribu malaikat yang akan membinasakan”. (QS. Ali ‘Imran : 125).



Dan penelitian semua ayat-ayat tentang kedudukan sabar itu akan panjang bila diteruskan.

Adapun hadits-hadits yang menyangkut dengan sabar, maka di antara lain, Nabi s.a.w. bersabda :

“Sabar itu separuh iman”, sebagaimana nanti akan diterangkan caranya sabar itu separuh iman. Adapun hadits-hadits yang lain di antaranya:

“Dari yang sekurang-kurangnya diberikan kepada kamu, ialah: keyakinan dan kesungguhan sabar. Siapa yang diberikan keberuntungan dari keyakinan dan kesungguhan sabar itu, niscaya ia tidak peduli dengan yang luput dari padanya, dari shalat malam dan puasa siang.

Dan engkau bersabar di atas apa yang menimpa atas diri engkau, adalah lebih aku sukai, daripada disempurnakan oleh setiap orang daripada kamu, kepadaku, dengan seperti amalan semua kamu. Akan tetapi aku takut, bahwa dibukakan kepadamu dunia sesudahku. Lalu sebagian kamu menetang sebagian yang lain. Dan akan ditantang kamu oleh penduduk langit (para malaikat) ketika itu. Maka siapa yang sabar dan memperhitungkan diri, niscaya memperoleh kesempurnaan pahalanya”.



Kemudian Nabi s.a.w. membaca firman Allah Ta’ala:

“Apa yang di sisi kamu itu akan hilang dan apa yang di sisi Allah itu yang kekal. Dan akan Kami berikan kepada orang-oang yang sabar itu pembalasan, menurut yang telah mereka kerjakan dengan sebaik-baiknya” (An-Nahl:96).



Diriwayatkan Jabir, bahwa Nabi s.a.w ditanyakan tentang iman, maka Beliau menjawab: “Sabar dan suka memaafkan”.

Dikatakan bahwa Allah Ta’ala menurunkan wahyu kepada nabi Daud a.s.:

“Berakhlaklah dengan akhlak-Ku! Sesungguhnya sebagian dari akhlak-Ku, ialah, bahwa Aku Maha Sabar.”



Pada hadits yang diriwayatkan ‘Atha’ dari Ibnu Abbas, bahwa ketika Rasulullah s.a.w. masuk ke tempat orang-orang Anshar, lalu beliau bertanya:

“Apakah kamu ini semua orang beriman?”.
Semua mereka diam. Maka menjawab Umar r.a.: “Ya, wahai Rasulullah!”.
Nabi s.a.w. lalu bertanya: “Apakah tandanya keimanan kamu itu?”
Mereka menjawab: “Kami bersyukur atas kelapangan. Kami bersabar atas percobaan. Dan kami rela dengan ketetapan Tuhan (qadha Allah Ta’ala)”.
Lalu Nabi s.a.w. menjawab: “Demi Tuhan pemilik Ka’bah! Benar kamu itu orang beriman!”.
Nabi s.a.w. bersabda:
“Pada kesabaran atas yang tidak engkau sukai itu banyak kebajikan”.
Isa Al-Masih a.s. berkata:
“Engkau sesungguhnya tiada akan memperoleh apa yang engkau sukai, selain dengan kesabaranmu atas apa yang tiada engkau sukai”.



Adapun atsar, maka di antaranya ialah terdapat pada surat khalifah Umar bin al-Khatab r.a. kepada Abu Musa Al-Asy’ari r.a., yang bunyinya di antara lain:

“Haruslah engkau bersabar! Dan ketahuilah, bahwa sabar itu dua. Yang satu lebih utama dari yang lain: sabar pada waktu musibah itu baik. Dan yang lebih baik daripadanya lagi, ialah sabar (menahan diri) dari yang diharamkan Allah Ta’ala. Dan ketahuilah, bahwa sabar itu yang memiliki iman. Yang demikian itu, adalah bahwa takwa itu kebajikan yang utama. Dan takwa itu dengan sabar”.



Ali r.a. berkata pula:

“Sabar itu dari iman, adalah seperti kedudukan kepala dari tubuh. Tidak ada tubuh bagi orang yang tidak mempunyai kepala. Dan tidak ada iman, bagi orang yang tiada mempunyai kesabaran”.



Adalah Habib bin Abi Habib Al Bashari, apabila membaca ayat:

“Sesungguhnya dia (Ayub) kami dapati, seorang yang sabar. Seorang hamba yang amat baik. Sesungguhnya dia tetap kembali (kepada Tuhan)” (QS. Shad : 44), lalu beliau menangis dan berkata: “Alangkah menakjubkan! Ia yang memberi dan Ia yang memujinya.”



Penjelasan Hakikat Sabar

Ketahuilah kiranya, bahwa sabar itu suatu maqam (tingkat) dari tingkat-tingkat agama. Dan suatu kedudukan dari kedudukan orang yang berjalan menuju kepada Allah (saalikiin). Dan semua maqam agama itu hanya dapat tersusun baik dari tiga hal: ma’rifah, ahwal dan amal. Maka ma’rifah itu adalah pokok, dialah yang mewariskan ahwal; dan ahwal itu yang membuahkan amal.

Ma’rifah itu adalah seperti pohon kayu, ahwal adalah seperti ranting, dan amal seperti buah. Dan ini terdapat pada semua kedudukan para saalikiin. Seperti demikian pula sabar. Tiada akan sempurna sabar itu selain dengan ma’rifah yang mendahuluinya dan dengan ahwal yang tegak berdiri.

Adapun insan itu, maka sesungguhnya ia diciptakan pada permulaan masa kecilnya tanpa keinginan selain keinginan makan. Kemudian lahirlah keinginan bermain dan berhias, kemudian nafsu keinginan kawin. Dan tak ada sekali-kali pada insan —pada masa kecil tersebut— kekuatan sabar. Pada anak kecil itu yang ada hanyalah tentara hawa nafsu, seperti yang ada pada haiwan.

Akan tetapi, Allah Ta’ala dengan kurnia-Nya dan keluasan kepemurahan-Nya, memuliakan anak Adam dan meninggikan derajat mereka dari derajat hewan-hewan. Maka Allah Ta’ala mewakilkan kepada manusia itu ketika sempurna dirinya dengan mendekati kedewasaan, dua malaikat. Yang satu memberinya petunjuk dan yang satu lagi menguatkannya. Maka berbedalah manusia itu dengan pertolongan dua malaikat tadi dari haiwan-haiwan.
Maka jadilah insan itu dengan sinar petunjuk, mengetahui bahwa mengikuti nafsu syahwat itu tidak disukai pada akibatnya. Akan tetapi, petunjuk itu tidaklah memadai, selama tidak ada baginya kemampuan untuk meninggalkan yang mendatangkan melarat. Lalu ia memerlukan kepada kemampuan dan kekuatan yang dapat menolakkannya kepada menyembelih nafsu syahwatnya itu. Lalu ia melawan nafsu syahwat tersebut dengan kekuatan itu. Sehingga diputuskannya permusuhan nafsu syahwat tadi darinya. Maka Allah Ta’ala mewakilkan seorang malaikat lain padanya yang membetulkannya, meneguhkannya dan menguatkannya dengan tentara yang tiada engkau dapat melihatnya. IA memerintahkan tentara ini, untuk memerangi tentara nafsu syahwat. Maka sekali tentara ini yang lemah dan sekali ia yang kuat.

Hendaklah dipahami, bahwa peperangan itu, terjadi antara penggerak agama dan penggerak hawa nafsu. Dan peperangan antara yang dua tadi, berlaku terus menerus. Dan medan peperangan ini ialah qalb hamba.

Sumber bantuan kepada penggerak agama itu datangnya dari para malaikat, yang menolong barisan (tentara) Allah Ta’ala. Dan sumber bantuan penggerak nafsu syahwat itu, datangnya dari syaitan-syaitan yang membantu musuh-musuh Allah Ta’ala.

Maka sabar itu adalah ibarat dari tetapnya penggerak agama menghadapi penggerak nafsu syahwat. Kalau penggerak agama itu tetap, sehingga dapat memaksakan penggerak nafsu syahwat dan terus-menerus menantangnya, maka penggerak agama itu telah menolong tentara Allah. Dan berhubung dengan orang-orang yang sabar. Dan kalau ia tinggalkan dan lemah, sehingga ia dikalahkan oleh nafsu syahwat dan ia tidak sabar pada menolaknya, niscaya ia berhubungan dengan mengikuti syaitan-syaitan.

Jadi, meninggalkan perbuatan-perbuatan yang penuh dengan nafsu syahwat itu adalah amal perbuatan yang dihasilkan oleh suatu ahwal, yang dinamakan sabar, yaitu tetapnya penggerak agama yang berhadapan dengan penggerak nafsu syahwat. Tetapnya penggerak agama itu adalah suatu hal yang dihasilkan oleh iman, dengan memusuhi nafsu syahwat dan melawannya, karena sebab-sebab kebahagiaan di dunia dan di akhirat.

Sesungguhnya semua yang tersebut itu, adalah isyarat yang mengisyaratkan kepada hal-hal yang lebih tinggi dari ilmu mu’amalah. Maka kami terangkan, bahwa telah jelas sabar itu adalah ibarat dari tetapnya penggerak agama pada melawan penggerak hawa nafsu. Dan perlawanan ini adalah termasuk ciri khas anak-anak Adam, karena diwakilkan kepada mereka, malaikat-malaikat yang mulia yang menuliskan amal perbuatan mereka.

Sabar itu Setengah Iman
Ketahuilah kiranya, bahwa iman itu pada suatu kali, disandarkan secara mutlak kepada tasdiq dengan pokok-pokok agama, dan pada suatu kali lainnya dengan amal shalih yang datang dari tasdiq itu, dan pada suatu kali lainnya lagi keduanya sekaligus: iman dan amal shalih.

Adapun “sabar itu setengah iman” berdasarkan dua pandangan dan atas kehendak dua pemakaian kata. Pandangan pertama, iman itu dikatakan secara mutlak kepada semua tasdiq dan amalan. Lalu iman itu mempunyai dua sendi (rukun). Yang satu yakin dan yang lain sabar.

Yang dimaksudkan dengan yakin ialah ma’rifah-ma’rifah yang diyakini kepada pokok-pokok agama. Dan yang dimaksudkan dengan sabar ialah amal (berbuat) menurut yang dikehendaki oleh keyakinan. Keyakinan tersebut, misalnya, mengajarkan bahwa maksiat itu mendatangkan melarat dan tha’at itu mendatangkan manfaat. Dan tidak mungkin meninggalkan perbuatan maksiat dan rajin kepada taat, selain dengan sabar. Maka adalah sabar itu separuh iman dengan pandangan ini. Dan karena itulah, rasulullah s.a.w. mengumpulkan di antara keduanya, dengan sabdanya:

“Di antara yang paling sedikit yang diberikan kepada kamu ialah yakin dan keras kesabaran”.



Pandangan kedua, iman itu dikatakan secara mutlak kepada ahwal yang membuahkan amal, dan bukan ma’rifah-ma’rifah. Dan ketika itu, terbagilah semua yang ditemui oleh hamba dalam hidupnya, kepada yang bermanfaat kepadanya di dunia dan di akhirat atau yang mendatangkan melarat kepadanya di dunia dan akhirat. Dan hamba itu dengan dikaitkan kepada yang mendatangkan melarat kepadanya mempunyai hal (sifat) syukur. Maka syukur itu dengan pandangan ini adalah salah satu dari dua bagian iman, sebagaimana yakin adalah salah satu dari dua bagian itu, menurut pandangan pertama di atas.

Dengan pandangan tersebut, Ibnu Mas’ud r.a. berkata:

“Iman itu dua paruh (nishfu), separuh sabar dan separuh syukur”.



Hal-Hal tentang Sabar

Ketahuilah kiranya bahwa sabar itu dua bagian: Pertama, bagian badaniah, seperti menanggung kesukaran dengan badan dan tetap bertahan atas yang demikian. Dan ini adakalanya dengan perbuatan, seperti mengerjakan perbuatan-perbuatan yang sukar. Adakalanya dari perbuatan-perbuatan ibadan dan bukan ibadah. Adakalanya dengan penanggungan seperti sabar dari pukulan keras, sakit parah dan luka-luka besar.

Kemudian bagian kedua, kalau adalah sabar dari nafsu syahwat perut dan kemaluan, maka dinamakan ‘iffah (pemeliharaan diri). Kalau sabar itu pada musibah, maka disingkatkan saja atas nama sabar, lawannya adalah gelisah dan keluh kesah. Kalau sabar itu pada membawakan kekayaan dinamakan mengekang diri, lawannya dinamakan sombong dengan kesenangan (al-bathar). Kalau sabar pada peperangan dinamakan berani, lawannya pengecut. Kalau sabar itu dalam menahan amarah dinamakan lemah lembut, lawannya ialah at-tadzammur (pengutukan diri kepada yang sudah hilang). Kalau sabar itu pada suatu pergantian masa yang membosankan maka dinamakan lapang dada, lawannya mangkal hati dan sempit dada. Kalau sabar itu pada menahan diri dari kehidupan dunia maka dinamakan zuhud, lawannya lahap.

Maka yang terbanyak dari akhlak iman itu masuk dalam sabar. Karena itulah, pada suatu kali Nabi s.a.w. ditanyakan tentang iman, lalu beliau menjawab: “Ialah sabar”. Karena sabar itu yang terbanyak dari amal-perbuatan iman dan yang termulia dari amal perbuatan itu. Allah Ta’ala mengumpulkan bagian-bagian itu dan semuanya dinamakan sabar, dengan firman-Nya:

“Mereka yang sabar dalam musibah, kemiskinan dan ketika peperangan. Merekalah orang-orang yang benar dan merekalah orang-orang yang bertakwa - memelihara dirinya dari kejahatan”. (QS Al Baqarah : 177).



Jadi, inilah bagian-bagian sabar, dengan perbedaan hubungan-hubungannya. Dan siapa yang mengambil arti (maksud) dari nama, niscaya ia menyangka bahwa hal keadaan itu berbeda pada zatnya dan hakikatnya, dari segi ia melihat nama-nama itu berbeda. Maka arti itu pokok dan kata-kata itu adalah pengikut. Siapa yang mencari arti dari pengikut, niscaya tidak boleh tidak, ia akan tergelincir. Dan kepada dua golongan itulah, diisyaratkan dengan firman Allah Ta’ala: “Adakah orang yang berjalan menelungkup di atas mukanya lebih mendapat petunjuk ataukah orang yang berjalan dengan lurus di atas jalan yang benar? (QS. Al Mulk : 22).

Ketahuilah kiranya, bahwa penggerak agama, dikaitkan kepada penggerak hawa nafsu itu mempunyai tiga hal/keadaan:

Bahwa ia memaksakan penggerak hawa nafsu. Lalu penggerak hawa nafsu itu tidak mempunyai lagi kekuatan untuk melawan. Dan sampai kepada yang demikian itu, dengan berkekalan sabar. Yang sampai kepada tingkat ini adalah sedikit. Yakni, ash-shiddiqun, dan al-muqarrabun. Mereka itulah orang-orang yang akan dipanggil: “Wahai jiwa yang tenang! Kembalilah kepada Tuhanmu dengan ridla, yang diridlai.”

Bahwa menanglah pengajak-pengajak hawa nafsu secara mutlak, jatuhlah perlawanan penggerak agama. Lalu ia menyerahkan dirinya kepada tentara setan dan ia tidak berjuang (bermujahadah) karena berputus-asa. Merekalah orang-orang yang lalai, dan ini adalah golongan yang terbanyak.
Kepada merekalah diisyaratkan dengan firman Allah Ta’ala:

“Dan kalau Kami kehendaki, niscaya Kami berikan petunjuk kepada setiap diri. Tetapi perkataan dari-Ku, sebenarnya akan terjadi, sesungguhnya Aku akan memenuhkan neraka Jahanam dengan jin dan manusia semuanya” (QS. As- Sajadah : 13).

Merekalah orang-orang yang membeli kehidupan duniawi dengan akhirat sehingga rugilah perniagaan mereka, dan dikatakan kepada orang yang bermaksud menunjuki jalan kepada mereka: “Berpalinglah engkau dari orang yang tiada memperdulikan pengajaran Kami dan hanya menginginkan kehidupan duniawi semata! Pengetahuan mereka hanya sehingga itu”. (QS. An-Najm : 29-30).


Keadaan ini, tandanya ialah: putus asa, hilang harapan dan tertipu dengan angan-angan. Itulah yang paling bodoh, sebagaimana Nabi s.a.w. bersabda:

“Orang yang pintar itu meng-agamakan dirinya dan berbuat amal untuk sesudah mati. Dan orang yang bodoh ialah orang yang mengikutkan dirinya kepada hawa nafsunya dan ia berangan-angan atas Allah”.


Orang yang berkeadaan begini, apabila diberi pengajaran, niscaya menjawab:

“Aku ingin bertobat. Akan tetapi, sukar tobat itu atas diriku. Lalu aku tidak mengharap padanya”, atau ia tidak ingin bertobat akan tetapi membalas: "Sesungguhnya Allah itu Maha Pengampun, Maha Pengasih, lagi Maha Pemurah. Maka Dia tidak memerlukan kepada tobatku”.


Bahwa peperangan itu adalah menjadi hal yang biasa di antara dua tentara. Sekali ia memperoleh kemenangan atas peperangan itu, dan sebaliknya. Inilah yang termasuk golongan al-mujahiduun. Orang-orang yang berkeadaan dengan keadaan ini ialah mereka yang mencampuradukkan amal perbuatan yang baik dan yang lain yang jahat, seperti firman Allah Ta’ala: “Mereka telah mencampur-adukkan pekerjaan yang baik dengan yang buruk”. Kiranya Allah Ta’ala menerima taubat mereka!

Penutup

Berkata sebagian orang ‘arifin:

“ahlush-shabri itu adalah atas tiga maqam.
Pertama, orang-orang yang meninggalkan nafsu syahwat, dan ini adalah derajat orang-orang yang taubat (mutawwabiin).

Kedua, orang-orang yang ridla dengan yang ditakdirkan Tuhan, dan ini adalah derajat orang-orang zahid.

Ketiga, orang-orang yang suka kepada apa yang diperbuat Tuhannya, dan ini adalah derajat orang-orang shiddiq (ash-shiddiqin).“



Semoga Allah yang Maha Pengasih menganugrahkan kepada kita kesabaran.
Amin.

Saturday, June 12, 2010

~* Aku Terima Nikahnya : Memaknakan Sebuah Kehidupan *~


Ok guys, I’m going back to my room“, saya tinggalkan rakan-rakan di lobi. Bergegas menuju ke bilik di Tingkat 6.

Sampai sahaja di bilik, saya terus mencapai telefon. Jam menunjukkan pukul 6:30 petang.

“Assalamualaikum umi. Apa khabar? Semua sihat di rumah?”, saya bertanya.

“Waalaikum al-Salaam. Alhamdulillah semuanya baik. Semua beratur di sini ha, nak bercakap dengan Abi”, jawab isteri saya. Penat bunyi suaranya. Baru pulang dari kerja barangkali.

“Abi, ni Yop ni. Abi, Yop rindukan Abi”, Saiful Islam mengambil giliran bercakap.

Saya tergamam.

Inilah kali pertama Saif menggunakan perkataan rindu. Hati saya goyah dan mata terasa basah.

“Yop cakap dengan Abi. Yop tengok gambar Abi dekat tangan Yop!”, Saif menyambung cakap. Suaranya perlahan dan ada nada sedih yang mendalam pada ungkapannya itu.

Allah…

Tidak pernah lagi Saif sampai begini. Bercakap dengan saya menerusi telefon sambil memegang foto saya mendukungnya.

“Budak-budak ni dah rindu sangat dengan Abi…”, kata isteri saya. Ayatnya terhenti di situ.

“Abi, ni Naurah. Abi mana? Abi bila balik?”, Naurah pula mengambil giliran. Dengan bahasanya yang pelat, anak kecilku ini bertanya, tulus dari hati seorang anak yang ‘ehilangan bapa’.

Panggilan telefon itu benar-benar mengganggu konsentrasi saya terhadap perjalanan IYEP. Lama saya termenung di bilik.

Ahh, jam sudah lewat. Saya harus segera ke bilik Dr. Chandra Muzaffar. Saya bertugas menjaga beliau, membawanya ke kafeteria dan dewan konferens.

Dr. Chandra telah menghadiahkan saya bukunya bertajuk “Global Ethic or Global Hegemony” sebagai menghargai bantuan saya kepadanya yang berkerusi roda.

“No, Doctor. Actually I am the one who wants to thank you for allowing me to help you. It is an honour for me to assist you throughout the program. Thanks again“, saya mengucapkan terima kasih kepada beliau.

Saya memang tidak pandai dalam melakukan kerja-kerja sebagai Liaison Officer. Namun, saya berusaha sedaya upaya untuk melakukannya, apatah lagi untuk seorang tokoh yang sangat saya kagumi seperti Dr. Chandra Muzaffar.

Arwah abah dahulu adalah pelanggan setia akhbar ALIRAN dan Dr. Chandra adalah salah seorang penulis yang diminatinya. Saya sudah membaca tulisan Dr. Chandra Muzaffar sejak di bangku sekolah lagi.

Jadual IYEP yang ketat, menghilangkan seketika ingatan saya kepada anak isteri di rumah.

Tetapi kata-kata Saif sebentar tadi benar-benar menyebabkan saya terganggu.

“Such a sweet kid…", kata Afiq semasa saya memberitahunya punca saya sedikit muram malam itu.

“Yes, but not the daddy“, saya menjawab lesu.

Sebelum IYEP berlangsung, jadual saya sudah cukup padat. Pelbagai siri ceramah, kursus motivasi, mesyuarat, semuanya menjadikan saya terompak dari keluarga.

Saya tahu, saya sudah sampai ke kemuncaknya, dan anak-anak saya sendiri sudah mula menarik perasaan ke dalam diri. Jika dahulu mereka akan marah-marahkan saya yang selalu away, kini mereka mula menelan perasaan itu dan membenih kemurungan.

Perkara terakhir yang saya mahukan sebagai bapa kepada anak-anak.

Syukurlah isteri saya kuat dan penyabar. Setiap hari, saya memperbaharui syukur saya kepada Allah kerana mengahwininya, kerana saya tidak pasti apakah ada manusia, apatah lagi seorang doktor, yang mampu bersabar dengan keadaan saya yang seperti ini.

Sekembalinya saya dari IYEP pada hari Rabu, badan saya semakin sakit. Anak-anak juga demam.

Khamis, saya gagahkan diri juga untuk ke Surau al-Naim, Wangsa Maju, kerana tidak tergamak membatalkannya lagi, selepas saya membatalkan janji pada Isnin yang lepas. Saya bercadang untuk bercakap pendek, namun seperti biasa, kuliah maghrib saya berakhir tepat jam 9 malam.

Jumaat saya ke pejabat Fitrah Perkasa untuk mengadakan perbincangan tentang program-program akan datang, khususnya yang membabitkan remaja.

Malam itu, saya hampir pitam dan terpaksa bersandar di sofa hingga tertidur membawa ke pagi.

Sabtu pula, saya gagahkan diri bersama isteri merayau di sekitar Cheras, Ampang, Hulu Kelang, Setiawangsa, Wangsa Maju, Setapak dan Keramat, pergi pula ke Bangi dan Sri Kembangan, kerana mahu membuat keputusan terakhir tentang plan kami membeli rumah.

Mujurlah isteri saya yang memandu.

Malam itu kami ke Kelana Jaya untuk melawat pakcik saya yang baru sahaja menjalani pembedahan mata di Pusrawi. Gembira sekali apabila ibu saya dan abang-abang turut sama berkunjung dari Ipoh.

Ahad saya batalkan semua temujanji, untuk meluangkan masa bersama keluarga. Sungguh membahagiakan, biar pun badan penat tidak terkata. Saya membawa emak sekeluarga ke rumah-rumah yang telah kami senarai pendekkan untuk meminta pandangan dan restu darinya.

Hujung minggu berakhir dengan rasa puas dapat bersama isteri dan anak-anak, bonda dan abang-abang sekeluarga, yang sudah lebih 3 bulan kami tidak berkumpul bersama.

Isnin, kesihatan saya semakin tidak baik. Anak-anak saya juga semakin sakit disebabkan oleh virus yang menyerang bahagian paling lemah kami sekeluarga iaitu lower respiratory yang memaksa kami bernebulizer secara berjemaah.

Kerja di IJN juga tidak begitu lancar, saya kepenatan dan asyik mengantuk sepanjang hari. Sebelah malamnya, saya bersekang mata untuk menyiapkan modul pengurusan stress… dalam keadaan saya sendiri sedang berperang dengan stress yang memuncak.

Alhamdulillah, sifat jujur terhadap stress yang sedang saya alami, menjadikan modul itu lebih ‘realistik’

Keesokan harinya, saya berada di Bank SME di Jalan Sultan Ismail untuk menyampaikan modul Pengurusan Stress yang merupakan sebahagian daripada program Mukmin Profesional anjuran Fitrah Perkasa dan Bank SME.

Malamnya pula, saya mengangkut keluarga ke kedai untuk membeli barang mentah yang sudah habis segalanya. Hampir tidak ada apa lagi yang boleh dimasak. Kami pulang ke rumah selewat jam 11 malam.

Badan semakin letih, sakit-sakit. Mujurlah ada Saif, Naurah dan Imad, yang telatah mereka menghiburkan hati saya.

“Abi baring la.Yop nak pijak”, kata Saif lalu memijak-mijak belakang saya.

“Naurah pun nak pijakkkk…”anak perempuan saya pula turut serta. Bukannya pijak, tapi dilompatnya ke atas belakang saya.

“Aduhhh!!!”, saya mengerang kesakitan.

Imad yang sudah mula hendak merangkak ketawa besar mendengar jeritan kami.

Hari ini sudah pun Rabu.

Jika diukur pada badan, saya sepatutnya memohon MC sahaja.

Tetapi tidak tergamak.

Jam 8:30 pagi, saya jalankan kursus Mukmin Profesional bersiri bagi kakitangan Hospital Support Service Department, bertemu dengan beberapa pesakit dan bermesyuarat pada sebelah petang, bersama anggota Badan Kebajikan Islam(BAKIS) untuk program Seminar Solat Itu Indah Lagi Mudah, yang bakal berlangsung pada 21 Julai akan datang.

Habis solat Asar, saya bergegas ke Surau an-Naim di Wangsa Maju untuk menyampaikan kuliah Maghrib. Saya menggantikan Ustaz Ismail Kamus yang tidak dapat hadir.

“Maaf tuan-tuan, malam ini tiada kamus.Hanya buku nota kecil sahaja yang berceramah!”, saya berseloroh.

Suara semakin garau, kuliah saya tentang MATI berjaya saya selesaikan tepat jam 9 malam.

Walaupun baru tiba di rumah, selewat jam 11 malam, saya harus menulis sesuatu untuk Saifulislam.Com

Inilah catatan harian saya dalam seminggu. Moga janganlah segala kesibukan itu, menjadi debu yang berterbangan sia-sia tidak bermakna.

Semoga Allah membantu saya untuk terus menjadi Superhero anak-anak, biar pun terpaksa bersaing dengan Ultraman dan Power Ranger.

“Kids, who is your superhero?”, saya bertanya.

“Abi!!!”, jawab anak-anak.

Ameen! Dalam hati, siapa yang tahu!

ABU SAIF @ www.saifulislam.com

~* Aku Terima Nikahnya : Pedoman Buat Yang Mencari *~



My Son

My son, my son, I divinely love him so
May Your soft summer breazes upon him blow

My son, my son, I divinely love him so
Protect him, Lord, wherever he may go

My son, my son, I divinely love him so
Help him make right decisions to and for

My son, my son, I divinely love him so
Let him help others wherever he may go

November 11,2006, Clarence A. Graham, Jr.


30 Mei 2007…

6 bulan yang menggembirakan.

Selepas 2 cahaya mata kurniaan Allah, seorang lagi hadir menyejukkan mata.

Menoleh ke belakang, muhasabah zaman sebelum dan selepas berumahtangga, kadang-kadang saya sering menasihati adik-adik supaya memanfaatkan masa bujang semasa belajar untuk meluaskan perjalanan dan mengoptimumkan peluang bergiat seaktif-aktifnya dalam kerja-kerja amal. Ketika kaki melangkah selaju boleh, sejauh mungkin, manfaatkan segalanya.

Kerana kehidupan berumahtangga, tidak mengizinkan kita untuk membuat keputusan menurut pertimbangan sendiri. Ada banyak (ramai) faktor yang perlu dipertimbangkan. Saya tidak menganggap itu sebagai suatu kekurangan, malah ia sangat fitrah sebagai sebahagian daripada proses kehidupan.

Rumah tangga bukan SAYA dan AWAK, tetapi KITA dan KAMI.

Akan tetapi, susunlah kehidupan dengan baik. Kehidupan berumah tangga adalah sesuatu yang dicita-citakan oleh kita semua. Namun ia seumpama kita membuat Masters dan PhD dalam hidup. Medan tumpuan semakin khusus lagi dibataskan. Maka ruang meneroka harus disesuaikan.

Jangan nanti lupa diri. Jiwa masih adventurous, mahu mencuba ke sana sini. Sedangkan isteri dan anak-anak, bukan perhiasan dinding yang sesuka hati di simpan ke almari.

Imad lahir pada 30 November 2006. Ketika saya dan isteri berada di tengah-tengah pengajian Masters. Kembali menjadi pelajar, juga terus bekerja seperti biasa. Ia bukan suatu kehidupan yang biasa. Segalanya luar biasa.

Cabarannya besar, tetapi kematangan diri membolehkan saya dan isteri bertahan dan maju ke depan.

KEINGINAN BERUMAH TANGGA

Memikirkan gelombang hidup berumahtanggalah, saya tidak gembira apabila ada pelajar yang berkata, “saya perlu segera kahwin kerana bimbang terjebak kepada yang haram!”

Adik-adikku,



Perkahwinan bukanlah untuk menghalalkan apa yang tidak dihalalkan sebelumnya…semata-mata. Perkahwinan adalah kombinasi cinta, perasaan, keinginan dan tanggungjawab. Perang melawan keinginan nafsu adalah terlalu kecil jika mahu dibandingkan dengan dugaan-dugaan selepas berumahtangga.

Jika daya tahan dirimu terlalu lemah, hingga menolak zina pun jadi masalah… di mana kekuatanmu untuk membina rumah tangga, memimpin keluarga dan menjadi pembentuk manusia berupa anak-anak?

Saya tidak sama sekali menghalang perkahwinan semasa belajar. Tetapi janganlah perkahwinan itu semata-mata untuk menghalalkan apa yang haram. Perkahwinan perlu dibina dalam keadaan yang rasional… bersulamkan emosi pengikat diri. Bekal utama hidup berumah tangga, khususnya bagi sang suami, adalah kekuatan mengawal diri… Atas kekuatan itu Allah amanahkan Talaq di tangan suami!

Langit tidak selalu cerah…

Ada hari, rumah tangga belayar dalam perahu cinta. Ada harinya pula, rumah tangga bertahan dengan rasa tanggungjawab dan amanah di sisi yang Esa. Cinta itu naluri, namun kedewasaan mengendalikan cinta, itulah jati diri.

Jangan tergesa-gesa, jangan bertangguh-tangguh.


ABU SAIF @ www.saifulislam.com

~* Aku Terima Nikahnya : Jangan Remehkan Keselamatan Anak-anak*~


Tengah hari tadi, Imad mengalami sesak nafas dan mendengus (grunting) sambil menangis dengan nada yang tidak pernah saya dengar sebelum ini.

Kebetulan saya berada di rumah untuk bersiap solat Jumaat. Pembantu rumah juga sudah panik. Katanya, Imad telah diberi Nestum sejam yang lalu. Kemudian Imad tidur dan tiba-tiba beliau terjaga dalam keadaan yang amat mencemaskan.

Saya cuba tundukkan Imad sambil menggosok dan menepuk belakangnya beberapa kali. Tidak lama selepas itu, Imad termuntah. Susu bercampur ketulan Nestum.

Rasanya memang dia tersedak. Kepalanya pun turun naik (nodding head) dan dadanya pun sama.

Imad dikejarkan ke Wad Kecemasan A&E. Kadar oksigennya diperiksa dan dipastikan tidak berlaku cyanosis (kulit membiru kerana kekurangan bekalan oksigen).

Alhamdulillah selepas beberapa jam di dalam perhatian, keadaan Imad kembali normal. Saya baru sahaja pulang dari hospital dan Imad masih perlu diperhatikan. Kata isteri saya, kalau untuk ibu bapa lain, beliau akan menasihatkan mereka supaya bersetuju memasukkan anak ke wad untuk perhatian. Tetapi dalam kes kami, Insya Allah saya dan isteri akan memantau walaupun beliau terpaksa balik semula ke hospital untuk tutorial memandangkan peperiksaan akhir bagi tahun pertama Masters akan bermula minggu depan.

KECUAIAN YANG MEMBUNUH

Saya rasa sangat bimbang sebab saya teringat kepada kisah yang isteri saya ceritakan setahun yang lalu. Seorang bayi dalam lingkungan umur seperti Imad dibawa ke A&E. Apabila bayi itu dibaringkan, dia membiru dan apabila diangkat kembali normal. Selepas diperiksa, rupa-rupanya ada seketul kacang yang tersangkut di saluran pernafasan bayi tersebut selepas memakan rempeyek!

Budak umur 5 bulan diberi rempeyek?!

Rakan isteri saya juga kematian anak sulung mereka. Anak kecil yang berusia 8 bulan diberikan botol susu oleh pembantu rumah dan bayi itu dibiarkan menghisap sendiri susunya. Apabila tersedak, susu itu termasuk ke dalam paru-parunya, bayi itu meninggal dunia dalam keadaan yang amat tragis.

Apa yang pasti, saya ingin berkongsi pandangan dengan ibu bapa yang membaca artikel ini, supaya janganlah sesekali mengambil mudah hal-hal yang berkaitan dengan keselamatan anak-anak. Bacalah buku tentang parenting dan tambahkan ilmu mengenainya. Juga belajarlah selok belok cara memberikan bantuan kecemasan kepada anak-anak.

Banyak kematian bayi berpunca dari kelalaian ibu bapa. Kes denggi misalnya, ia boleh dirawat tetapi ibu bapa mengambil mudah demam anak-anak kecil yang berlarutan.

PERANAN MEDIA

Saya rasa, hal-hal seperti inilah yang mesti banyak didedahkan oleh rancangan televisyen seperti Medik TV. Mendidik masyarakat cara menjaga kesihatan dan keselamatan ahli keluarga. Bagaimana mengesan simptom-simptom penyakit. Bukan hanya tertumpu kepada menceritakan kepakaran pakar bedah melakukan pembedahan, kerana kepakarannya tidak menjadi pelajaran untuk dipraktikkan oleh masyarakat! Rancangan Cinta Medik pula, lebih banyak cinta dari mediknya!

Saya sendiri sudah lama tidak menyentuh buku-buku begini. Hanya tekun membaca semasa anak sulung lahir. Hari ini saya akan buka balik buku-buku tersebut dan menyemak beberapa perkara sebagai tanggungjawab seorang bapa kepada anak dan ahli keluarganya.

Ibu bapa harus bertanya, jika anaknya tercekik, terkena kejutan elektrik, atau luka terbakar, atau tiba-tiba pengsan, apakah mereka tahu apa yang patut dilakukan? Ibu bapa boleh berkata, “tak mengapa. takkanlah nak berlaku kepada anak saya benda-benda begitu!”.

Selepas kejadian itu berlaku, barulah ibu bapa sedar betapa sedikit ilmu tambahannya itu, memberikan implikasi antara hidup dan mati ke atas anaknya.

Berusahalah kita untuk mempelajarinya. Ia sama penting dengan didikan agama, caruman takaful, serta makan minum, pakaian dan tempat tinggal, kerana pengetahuan ibu bapa dalam soal ini adalah sebahagian daripada kewajipan memberikan keselamatan kepada si anak.

Buku yang saya baca ialah New Baby Care Book: A Practical Guide to the First Three Years oleh Dr. Miriam Stoppard terbitan Dorling Kindersley (DK). Buku kedua adalah The Complete Book of Mother & Baby Care oleh Elizabeth Fenwick, juga terbitan Dorling Kindersley (DK). Setahu saya, kedua-dua buku ini ada dijual di MPH dan Kinokuniya, malah sudah ada terjemahan ke Bahasa Malaysia.

Saya amat mencadangkan kepada ibu bapa muda seperti saya, berusaha untuk menambah pengetahuan di dalam hal-hal seperti ini.

Kejadian tengah hari tadi, sungguh menjadi pengajaran buat saya. Alhamdulillah ‘ala al-Salaamah.

ABU SAIF @ www.saifulislam.com

~* Aku Terima Nikahnya : Menyengajakan Beberapa Kesusahan *~


Semuanya saya lakukan sendiri.

Menguruskan permohonan kad pengenalan, urusan bertukar sekolah, menghadiri kursus dan sebagainya. Semuanya saya lakukan sendiri.

Terdetik juga keinginan mahu dibantu. Tetapi abah memang mendidik saya begitu.

Semakin usia merangkak dewasa, saya semakin menghargai cara abah membesarkan saya.

Beliau tidak memanjakan saya adik beradik sehingga kami menjadi bodoh terhadap kehidupan. Jangan hanya bijak pada akademik, tetapi tahu menyusun atur kehidupan.

“Jangan pandai mengaji aje!”, abah selalu menyebut begitu kepada saya.

Tentu sekali kehidupan saya berbanding dengan kehidupan abah semasa kecil, jauh berbeza. Kehidupan abah penuh kesusahan, seperti kebanyakan orang di masa itu. Abah mengayuh basikal dari Padang Asam ke Sekolah Clifford di pekan Kuala Kangsar, berbelas-belas kilometer sehari. Belajar dalam keadaan serba kekurangan, malah makan minum pun, sekadar menyambung nyawa.

Berbeza dengan kehidupan ketika abah menjadi bapa, membesarkan saya dan adik beradik, kehidupan sudah banyak berubah.

Tetapi abah tidak pernah memusuhi kesusahan. Seingat saya, abah tidak pernah mencela atau menyesali kesusahan hidupnya semasa kecil, muda dan remaja. Malah abah bimbang dengan kehidupan saya adik beradik, yang tidak sesusah abah.

“Kesusahan itu menjadikan kita lebih bertanggungjawab. Lebih berdisiplin”, kata abah kepada saya.

Sebab itu, abah sering menyengajakan beberapa kesusahan untuk anak-anaknya. Apa yang anaknya tiada, dia berikan. Tetapi apa yang anaknya boleh lakukan, abah tidak akan manjakan.

Abah bagi duit, dan gunalah duit itu untuk selesaikan urusan-urusan rasmi tersebut. Jarang sekali abah manjakan kami.

Semasa di usia belasan tahun, saya tahu membeli sendiri borang di Pejabat Pos. Saya boleh balik sendiri dari pintu asrama di Negeri Sembilan hingga ke pintu rumah jauh di Utara. Di usia 15 tahun, saya boleh bermusafir sendirian ke Kuala Lumpur, hingga ke Kelantan dengan alasan mahu melihat tempat orang, kerana abah melatih saya agar tinggi keyakinan diri, dan bukan hanya mengejar kecemerlangan akademik ketika di bangku persekolahan.

Saya boleh berdikari, dan saya tahu membawa diri. Semuanya kerana abah tidak memanjakan kami. Kemanjaan yang membodohkan anak-anak mendepani kehidupan.

Tetapi saya takut melihat ibu bapa hari ini yang memusuhi kesusahan. Saya sendiri sudah menjadi bapa dan saya mahu anak-anak saya tidak terlepas peluang belajar apa yang telah saya pelajari dari datuk mereka.

Namun ramai yang terlepas pandang akan hal ini. Mereka seakan-akan berdendam dengan kehidupan mereka yang lalu, lantas berusaha apa sahaja, untuk sampai ke kemuncak selesa.

Mereka selesa, anak mereka juga selesa. Itu hak mereka dan siapa saya untuk menidakkannya. Tetapi apa yang saya teladani dari cara abah membesarkan saya, memusuhi dan membunuh langsung kesusahan dari hidup, hanya mewariskan penyakit kepada anak-anak.

Ibu bapa ini lupa, bahawa kesusahan yang telah mereka alami sekian lama itulah ‘guru sebenar’ yang menjadikan mereka manusia yang sedar. Kesusahan telah memberi mereka pelajaran. Dan dengan pelajaran itulah mereka menjadi ibu bapa yang manusia. Bagaimana pula dengan tanggungjawab memanusiakan anak-anak?

Abah tidaklah pula dengan sengaja membiarkan hidup kami susah. Abah bekerja keras untuk memperbaiki kehidupan. Abah tidaklah kaya, tetapi abah juga tidaklah sesusah zaman abah sebaya saya.

Tetapi saya lihat, abah membataskan pemberiannya kepada kami. Tidak semua yang saya minta, abah memberi dengan mudah, walaupun saya tahu, ia dalam kemampuan abah untuk mendapatkannya.

Ajar anak-anak agar sesekali ia tidak dapat apa yang diminta. Didik anak-anak supaya kenal batas-batas keinginan dan kemahuan. Jangan berikan semua yang mereka mahu, tetapi belajarlah untuk mengutamakan apa yang mereka perlu.

Mereka perlu belajar nilai tanggungjawab dalam kehidupan. Mereka perlu membina jati diri yang kuat serta lasak menyusuri cabaran masa depan. Semua itu tidak boleh diperolehi dari sekolah, tusyen, atau limpahan kuasa membeli yang tidak terbatas.

Ia hanya boleh diperolehi melalui Tarbiyah ibu bapa agar anak mengenal batas, lantas membataskan kemahuan diri. Berupaya mengawal diri. Jangan disangka semua yang diingini, tiada sebab untuk tidak dimiliki. Dunia tidak begitu!

Inilah yang saya belajar dari cara abah membesarkan saya.

Hasil didikan itu, saya menjadi seorang yang ada keberanian untuk berprinsip dalam kehidupan. Kerana abah telah melatih saya agar realistik terhadap kehidupan. Dan bertanggungjawab serta berpendirian.

Ketika abah mampu memberikan saya keselesaan, abah sengajakan beberapa kesusahan. Semata-mata agar saya belajar, bahawa “apa nak, semua dapat”, itu hanya ada di Syurga.

Terima kasih abah.

ABU SAIF @ www.saifulislam.com

~* Aku Terima Nikahnya : Kesedihan Atau Kegembiraan? *~


Malam seperti ini, apakah perasaan sebenar di dalam diri saya?

Gembira dengan ulangtahun kelahiran yang ke-32? Apa yang ada pada sebuah kelahiran untuk dikenang? Setiap kali menjelangnya tarikh seperti hari ini, ia hanya memberitahu saya bahawa setahun lagi telah bertambah janji untuk saya menghampiri kematian. Lupakan kegembiraan, kerana kelahiran hanya bermakna pada kejayaan memandu kehidupan.

Apakah tarikh ini juga tarikh saya bersedih? Saya ada sebab yang besar untuk bersedih, kerana pada tarikh yang sama ini jua, abah telah pergi meninggalkan saya buat selama-lamanya, ketika saya mencecah usia 17 tahun, 15 tahun yang lalu.

Perlukah saya untuk terus menangisi pemergian abah? Patahnya rukun hidup saya, hilangnya teman yang mendewasakan saya, tiada lagi sentuhan kasih abah pada hari-hari yang menyusul tiba?

Setiap kali melihat pusara abah, air mata sukar ditahan. Jauh di perut bumi, saya benamkan rindu seorang anak yang masih tersentak dengan pemergian abah yang tidak diduga.

Namun kesedihan itu tidak memberi sebarang erti dan makna, kerana bukan itu yang abah perlukan. Abah perlukan cahaya di kuburnya. Cahaya itu tidak datang dari kegembiraan saya, atau kesedihan. Namun ia terbit dari kepatuhan dan istimaqah saya, terhadap setiap butir nasihat dan ilmu yang abah sempat kongsi bersama saya.

Setiap kedewasaan yang saya ungkapkan dalam kehidupan, abah mendapat habuan dan bahagiannya.

Bersama isteri, dan anak-anak, kami melangkah bersama bonda ke pusara abah di pagi raya. Hajat hati, mahu berdoa dan mengambil teladan dari abah, insan yang dikenang oleh kami sekeluarga, serta kebanyakan penduduk kampung yang mengenalinya. Abah dikenang sebagai seorang yang tegas dan teguh terhadap prinsip hidupnya. Ramai warga emas di kampung saya, ada pengalaman peribadi bersama abah.

Pagi ini, saya berkongsi kenangan bersama abah, untuk teladan isteri dan anak-anak. Inilah sebahagian yang masih kekal dalam memori saya, selepas 14 tahun abah pergi, meninggalkan kami yang kehilangan ayah, sahabat, guru dan pendidik terhadap nilai sebuah kehidupan.

1984

Saya di darjah 3.

Abah menghulurkan sebuah buku, 13 Mei Sa-Belom, Sa-Lepas tulisan mantan PM, Tunku Abdul Rahman. Kata abah,

“Rizal, satu hari ni bila kamu dah faham, bacalah buku ini dan ambil teladan darinya. Tapi ingat, hari ini abah beritahu kamu, Mahathir adalah seorang yang merbahaya!”

Saya kebingungan. Baru Darjah 3…

1987

Saya di darjah 6.

Saya memegang jawatan sebagai Ketua Murid. Suatu petang, saya balik ke rumah dengan tangisan.

Abah bertanya, “kenapa menangis?”

Saya menjawab, “Aaron Wong kutuk orang musabaqah. Dia kata orang Islam baca Quran macam orang sakit gigi!”

Abah bertanya lagi, “habis?”

Saya menjawab lagi, “Rizal tumbuk dia sampai pecah mulut. Mana boleh Ketua Murid tumbuk orang”

Abah mengerut dahi.

“Dengar sini, kamu jangan bergaduh dengan orang bodoh. Nanti kamu yang bodoh. Orang bodoh itu dinding batu. Kamu baling dengan bola ping pong, dia berpatah balik kena dahi kamu. Lawan orang bodoh, bodoh! Lawan orang gila, gila!”, abah menepuk bahu saya.

1989

Saya di tingkatan 2.

Abah memberi nasihat tentang kerjaya.

“Abah dulu bodoh matematik. Setiap kali cikgu check buku matematik nama Abdul Jamil, dia akan campak buku abah ke tingkap. Tapi sekarang abah jaga akaun Pejabat Ugama”, abah bercerita.

“Jadi?”, saya menyoal.

“Belajar semua subjek betul-betul, dan cari minat kamu. Tuhan tak cipta kita untuk buat semua benda”, kata abah.

Saya mengerut dahi.

1990

Saya di tingkatan 3.

“Abah, Rizal dapat result teruk untuk SRP”, saya cuba ‘menipu’ untuk mengusik abah.

“Itu bukan muka orang gagal. Abah tahu kamu dapat 8A1. Dari Mekah lagi abah dah rasa”, kata abah.

Saya terdiam. Wajah anak dibasahi dengan air muka yang terlalu mudah untuk seorang bapa membacanya. Tidak mungkin anak boleh membohongi bapa, walaupun sekadar gurauan.

Jan 1991

Saya di tingkatan 4.

“Hah, dah masuk sekolah baru ni, ubahlah sikit”, abah berpesan sebelum meninggalkan saya di sekolah baru, SMAP Labu N9.

“Ubah apa, abah?”, saya bertanya.

“Jangan lawan cikgu!”, kata abah sambil menutup pintu kereta.

Jun 1991

Saya di tingkatan 4. Balik bercuti ke kampung semasa semester break.

“Kenapalah bengap sangat orang kampung ni”, abah mengeluh. Semenjak menjadi bendahari masjid, abah selalu stress.

“Kenapa, bah?” , saya bertanya.

“Kalau depa nak sokong UMNO sekali pun, abah tak kisah. Tapi jangan bagi hujah bodoh”, kata abah.

“Apa hujahnya?”, saya cuba mendapatkan kepastian.

“Kena sokong UMNO sebab UMNO buat jalan dan tiang lampu. Depa tak kenal Soviet”, wajah abah kemerah-merahan.

“Apa kena mengenanya dengan Soviet?”, saya tidak faham.

“Soviet tu komunis. Jalan rayanya lebih luas dari jalan raya kita. Lampu jalannya lebih terang dari lampu jalan kita. Manjoi yang ramai orang UMNO tu pun masih tak berlampu sampai sekarang. Siapa sekali pun memerintah, buat jalan dan lampu, kerja semua kerajaan”, kata abah.

“Kita orang Islam. Pertimbangannya ialah Islam”, abah berdiri merenung dari tingkap anjung rumah.

Saya hanya mengangguk.

1992

Saya di tingkatan 5.

“Kita kena selalu bersoreh. Jangan sampai tak kenal saudara mara”, abah bercerita di dalam kereta Volkswagon Golf kesayangannya. Kami berdua dalam perjalanan ke kampung saudara abah di Sayong Lembah, Kuala Kangsar.

Semenjak sebulan dua ini, abah suka membawa saya berjumpa dengan saudara mara yang abah sendiri sudah lama tidak menziarahi mereka. Bersungguh benar abah memperkenalkan saya kepada ayah saudara abah, dua pupu dan kaum kerabat abah di sebelah Sayong.

Saya mengambilnya sebagai petanda abah mahu berundur diri. Dari alam yang fana ini.

13 April 1992 8 malam

“Korang tak nak bagi hadiah? Tengah malam ini hari jadi ana”, saya bergurau dengan Khairil Aswan, rakan di sebelah meja saya. Tusyen malam baru bermula.

“Assalamualaikum, Hasrizal lekas ke depan pejabat Pengetua. Abang anta menunggu. Cepat!”, Marul Hairi mengetuk pintu kelas memanggil saya.

Saya berlari sepantas kilat.

“Rizal, abah tenat. Mari balik cepat”, abang menarik tangan saya.

“Ustaz, ana nak balik asrama ambil kain pelekat!”, saya memberitahu Ustaz Muhammad.

“Kain pelekat apanya? Pergi balik”, Ustaz Muhammad ‘menghalau’ saya.

Kereta Volkswagon Golf abah dipandu laju. Kami tidak bercakap. Abang hanya fokus kepada jalan. Hujan lebat menyukarkan perjalanan.

Saya bergegas memanjat tangga rumah. Abang sedang mematikan enjin kereta.

“Fasubhanalladhi biyadihi malakootu kulli syai’in wa ilayhi turja’oon“, Atuk menghabiskan bacaan Yasinnya di pintu bilik.

“Abah!”, saya memanjat katil.

“Rizal, abah dah tak ada”, emak menghempaskan wajahnya ke riba saya. Tangan abah terkulai dan masih panas.

“Abah!”, saya kaku di sisi abah.

Opah laju memetik tasbih.

“Lama benar aku sakit. Jamil juga yang pergi dulu”, opah menangis. Tasbihnya masih laju dipetik.

Malam itu dunia saya gelap. Abah pergi pada malam hari jadi saya yang ke-17. Abang yang sudah berhenti kerja semenjak abah diserang angin ahmar bulan lepas tersepuk di sisi katil. Puas abang menjaga abah, taqdir Allah tidak mengizinkan abang bertalqin di sisi abah.

“Emak, abah dah tak ada”, saya menggenggam kain emak. Hanya air mata sahaja yang mampu berbahasa…

1 Syawal 1427H

14 tahun sudah berlalu.

“Saif, ini kubur atuk. Atuk dah tak ada. Abi sedih Atuk dah tak ada”, saya cuba memahamkan Saif, siapakah insan di bawah dua nesan yang redup oleh rimbunan pohon cempaka ini.

“Atuk dah mati ya? Macam opah Manjoi. Dalam tanah. Abi belum mati kan?”, Saif bertanya.

“Satu hari nanti, abi akan tidur di sini”, saya memimpin tangan Saif dan Naurah di celah nesan para insan yang telah benar-benar tahu, bahawa mati itu benar.

Salam sejahtera penghuni negeri orang-orang beriman. Sesungguhnya kami Insya Allah akan menyusul kalian.

Dan cukuplah kematian itu menjadi peringatan buat dirimu…

ABU SAIF @ www.saifulislam.com

~* Aku Terima Nikahnya : Sunnahkah Meramaikan Anak? *~


“Macam ini, Hasrizal,” Ahmet mengajar saya.

“Selesakah begitu? Macam pelik pula gayanya,” saya membalas.

Ahmet mengajar saya bagaimana mendodoi anak cara Turki. Kaki bapa dilunjurkan dan kemudian anak ditelentangkan di sepanjang kaki dengan wajahnya mengadap wajah bapa.

“Nampak cute pula si Saif ni”, saya tersenyum sambil mencuba.

“Sambil berbaring, gerak-gerakkan kakinya supaya kuat,” kata Ahmet sambil membengkok dan meluruskan kaki Saif.

Saif hanya ketawa kecil. Dia sendiri bukannya bayi kecil lagi. Sudah dua tahun.

“Sekejap masa berlalu, kita semua sudah jadi bapa, kan?” saya menoleh kepada Ahmet.

“Ya, memang cepat masa berlalu,” jawab Ahmet.

Salji di luar masih rancak turun memutihkan pinggiran Afyon. Muna, isteri saya, bersama Ferde, isteri Ahmet, sedang sibuk memasak di dapur.

“Ahmet…” saya terpaku mengadap tingkap yang kelam oleh nafas saya di cermin.

“Kenapa akhi?” Ahmet menoleh.

“Kamu jangka kamu akan ada berapa anak?” saya bertanya dengan jujur.

“Hmm… berat soalan kamu tu, Hasrizal,” Ahmet membetulkan duduknya. Kedua belah tangannya diusap-usap berhampiran pemanas di tengah bilik.

“Siapa tidak mahu anak yang ramai? Bukankah Peygamber Muhammad sendiri bangga dengan umatnya yang ramai,” kata Ahmet.

“Ada tapikah selepas itu?” saya tersenyum.

“Ya, ada tapinya. Apakah ramainya anak kita, menambah ramai umat Muhammad?” tanya Ahmet.

“Apa maksud awak?” saya mahukan kepastian.

“Apakah semua anak kita membesar menjadi umat Muhammad?” tanya Ahmet.

Soalan Ahmet itu meninggalkan kami berdua sunyi melayan fikiran. Saif dan Abdul Kadir terus bermain di ruang tamu rumah. Hairan saya, seorang bercakap Irish, seorang lagi berbahasa Turki. Bagaimana dua anak kecil ini boleh saling memahami?

“Apa yang membimbangkan kamu?” saya bertanya kepada Ahmet.

“Masa saya kecil, Turki memang sudah rosak. Tetapi kerosakannya di bandar-bandar. Kampung masih subur dengan Islam. Sekurang-kurang sopan santun dan adab masih kuat mempengaruhi kehidupan. Saya selamat membesar dalam suasana itu,” jawabnya.

“Tetapi hari ini, kejahatan sudah masuk ke kampung-kampung. Malah dalam sesetengah keadaan, suasana di kampung lebih membimbangkan. Mampukah anak saya selamat dibesarkan dalam suasana itu?” sambung Ahmet lagi.

“Ya, di tempat saya pun sama. Suasana di kampung kadang-kadang lebih menakutkan. Hiburan sama banyak, tetapi kuasa membeli rendah. Maka macam-macam jenayah yang berlaku,” saya menyambung.

“Habis, kamu pun mahu anak ramai ke, Hasrizal?” tanya Ahmet.

“ntahlah. Rezeki memang rezeki. Tetapi saya terasa macam kewajipan membesarkan anak dengan baik, lebih besar dari galakan meramaikan zuriat!” saya mencelah.

“Tidak semua orang boleh setuju dengan pandangan kamu itu,” tegas Ahmet.

“Usahkan orang lain, saya sendiri pun tidak menyetujuinya. Tetapi saya tidak dapat membohongi perasaan yang menghantui diri. Inilah sebenarnya yang saya rasakan di dalam diri,” saya mengeluh.

Saya menarik tangan Abdul Kadir dan mengusap kepalanya. 20 tahun yang akan datang, ketika saya mencecah usia 50 tahun, bagaimanakah agaknya keadaan Abdul Kadir? Mampukah dia menjadi sebahagian daripada kebanggaan Nabi Muhammad SAW?

Soalan itu bukan untuk Abdul Kadir, mahu pun Saif. Saya dan Ahmetlah yang perlu menjawabnya.

Kami sudah membawa mereka hadir ke dunia ini, bagaimanakah pula pek bekal iman untuk mereka dihantar ke masa depan yang serba menakutkan?

Perbualan kami terhenti oleh sapaan Ferda.

“Cukuplah berbual tu. Mari ke hadapan kita makan tengah hari,” panggil Ferda bersama isteri saya dari ruang makan.

Salji putih yang dingin Disember 2003 menghantar saya ke sebuah persoalan, manakah yang lebih utama, ‘mengejar galakan Islam pada meramaikan anak, atau memastikan anak-anak dapat dibesarkan dengan selamat di fitnah akhir zaman ini?’

Semoga Allah menjadikan saya seorang’wira’ yang tidak perlu memilih antara dua…

ABU SAIF @ www.saifulislam.com

~* Aku Terima Nikahnya : Biar Mati Anak Jangan Mati ‘Adat’ *~


“Biar mati anak, jangan mati adat”

Keras benar bunyi pepatah itu. Sehingga menyakitkan jiwa Melayu Baru bawa jelek benar pemikiran orang dulu, sanggup mati anak semata-mata mahu mempertahankan adat.

Saya sudah menulis sedikit sebelum ini tentang maksud adat pada peribahasa itu. Kita tidak boleh memahami bahasa dahulu dengan pemikiran hari ini. Bahasa lama perlu difikir cara lama.

Orang Melayu membungkus agama dan adat, di dalam satu peti emas yang dianggap sebagai jati dan harga diri. Agama dan tatasusila adat Melayu, berfungsi untuk membentuk sebuah kehidupan yang sopan, berseni dalam berakhlak supaya cantik dipandang, sedap didengar dan manis dirasa.

Maka jika kita bertemu dengan watikah bertulis sebagai ‘Hukum Adat’, janganlah terus dihumban ke tepi bahawa adat itu adalah budaya resam yang merosak agama. Adat itulah agama, pada bahasa Melayu Lama.

BERBIN DAN BINTIKAN EMAK

Saya masih ingat, perbualan dengan arwah Opah, sekitar 20 tahun lalu. Opah bukan hafizah, tetapi Opah mengajar saya mengaji sambil dia menggoreng ikan. Jika saya nakal melompat ayat, opah menegur sambil mengetuk sudip di kuali.

“Opah, kenapa masa talqin, nama orang disebut dengan bin atau binti emak?”, saya bertanya kepada Opah selepas habis semuka mengaji Quran.

“Bukan semua orang ada ayah. Takkan nak malukan si mati di depan kuburnya”, kata opah sambil membetulkan telekung putihnya.

Saya terdiam.

Hari ini saya memikirkannya kembali. Ketepikan seketika soal sunnah atau tidak bertalqin cara orang di Malaysia, tetapi saya amat tersentuh dengan jawapan opah. Apabila si mati dibahasakan di sisi pengebumiannya dengan berbin atau berbintikan ibu, terhindarlah aib si mati, jika ada. Tidak semua orang jelas bapanya, namun semua kita beribu dengan perempuan yang ada nama.

Begitulah berhalusnya masyarakat kita. Menerima beralas, menolak berlapik.

TEPUNG TAWAR

Fikiran ini muncul apabila pagi tadi saya berbual dengan abang kepada Divesh Kumar Danial Kakulai, calon peserta di dalam rancangan ‘Cari Menantu’ di TV9. Kami berbual tentang satu aspek perkahwinan bangsa Melayu, iaitu soal menepung tawar.

Mahu tidak mahu, pelbagai fatwa telah dikeluarkan tentang soal menepung tawar. Bukan hanya di Malaysia, malah Brunei Darussalam yang kuat berpegang dengan adat istiadat Melayu sendiri pun, berfatwa pada tahun 2003 menegahnya.

Menepung tawar, merenjis bunga mawar dan menabur beras itu, ada signifikasi agama Hindu di sebaliknya. Ia bukan sekadar budaya, ia agama. Tentu sahaja bagi Danial dan abangnya, lebih faham tentang erti di sebalik ‘amalan’ itu.
Fatwa tetap fatwa, hukum tetap hukum.

Namun usaha untuk menjernihkan antara agama dan adat, jauh lebih sukar dari yang dijangka. Walaupun nyata bersalahan dengan agama, mencabut adat yang asing dari Islam, tidak semudah mencabut kemuncup yang lekat di kain. Akarnya dalam mendasar, batangnya tajam berduri.

Mencabutnya dengan tergesa-gesa hanya mengundang luka. Khususnya adat yang bersangkut dengan maruah keluarga.

Adat itu jadi lebih rumit, apabila ia bersangkut dengan perkahwinan.

Ramai generasi celik Islam hari ini mahukan perkahwinan yang bertepatan dengan Sunnah. Jauh dari bid’ah dan ringkas perjalanan dan belanja. Namun apa pula kata orang tua-tua?

Saya pernah bertanya kepada orang tua, “mengapa tidak diringkas-ringkaskan sahaja walimah sanak saudara?”

Jawab pakcik saya, “ringkas-ringkas itu agama, tetapi jangan sampai menimbulkan tanda tanya”.

“Tanda tanya yang bagaimana?”, saya kurang jelas.

“Ringkas kadang-kadang dilihat seperti tergesa-gesa. Bagai ada yang tidak kena”, itu komen pakcik saya.

Saya faham apa yang dimaksudkannya. Ketika dua keluarga baru mahu menyatu saudara, soal maruah dan harga diri amat penting. Jangan dicemar.

Mahu tidak mahu, benci atau suka, begitulah orang Melayu. Orangnya bercakap halus, kekadang tidak didengar, sering pula jadi di belakang. Maka orang tua-tua kita amat enggan menanggung rumah yang telah siap, namun pahat masih berbunyi.

Pengalaman saya dan isteri, ketika mahu berumahtangga, sedikit sebanyak ada pengalaman yang boleh dikongsi. Setelah cinta kami terbit di medan dakwah, perkahwinan itulah model kefahaman kami terhadapnya. Rumahtangga mahu dibina, bermula dengan langkah yang bersih dari perkara yang tidak diingini.

BERSANDING

Tentu sahaja, isu paling utama adalah soal bersanding.

Majlis pernikahan saya berlangsung di rumah pengantin perempuan, dinikahkan sendiri oleh bapa mertua. Namun di sisi sebelah kanan, ada pelamin yang tersedia. Saya sudah memahaminya, namun rombongan yang mengikut saya sedikit teruja.

Keesokan pagi, sebelum bertolak ke rumah pengantin perempuan, saya menerima panggilan telefon dari seorang penduduk kampung.

“Assalamualaikum ustaz. Hai, ustaz berceramah sana sini, tapi semalam nampak macam ada pelamin aje! Apa hal?”, tanya beliau.

Tentu sahaja fikiran saya amat terganggu dengan panggilan itu. Hanya tinggal sejengkal sebelum saya masuk ke alam baru. Saya perlukan sepenuh keyakinan diri untuk hari ini, tetapi ada pula ‘panggilan nakal’ seperti itu. Tak supporting sungguh!

Saya kuatkan semangat dan fokus kembali kepada apa yang saya boleh kawal. Saya malah isteri, tidak berupaya untuk menentukan sesuatu yang dikongsi bersama dengan keluarga. Maka kami berjanji untuk mengawal dan mempertahankan diri, sebaik yang kami terdaya.

Setibanya di rumah pengantin perempuan, dengan iringan kompang, saya melangkah antara debar dan tenang. Saya rasa berdebar kerana terlalu ramai mata yang memerhati dan mereka akan memerhatikan saya duduk di kerusi yang dinamakan pelamin. Namun saya tenang, kerana saya faham apa yang sedang berlaku pada masa itu.

Fikiran saya terkenang kembali kepada penjelasan ibu mertua saya beberapa hari sebelumnya.

“Kalau sekadar buat meja makan beradat, takkanlah tetamu dan menantu terus ke meja makan sahaja. Tentulah masuk ke rumah dulu. Jika tidak masuk rumah, sedih pula si tuan rumah. Dan oleh kerana sudah masuk ke rumah, kita elokkanlah sedikit kerusi tempat anak menantu nak duduk. Itu sahaja. Bukan nak menunjuk atau apa-apa”, bersungguh-sungguh emak mertua saya memberikan penjelasan.

Terharu…

Kalau nak diikutkan, tidak perlu pun emak jelaskan kepada saya. Saya mahu mengahwini anaknya, dia berhak untuk menentukan apa sahaja. Tetapi dalam keluarga tidak begitu. Kasih sayang bukan soal siapa betul siapa salah. Kasih sayang ialah soal siapa menang siapa kalah. Dan tiada siapa mampu mengalahkan kasih sayang ibu kepada anak menantu.

Anak hanya belajar menghargai kasih sayang ibu bapanya apabila akal sudah hidup di kepala, namun ibu bapa sudah menyayangi anak sebelum lahir ia ke dunia.

Ibu mertua saya sudah membahasakan dirinya emak, pada hari pertama saya datang merisik. Tiada siapa yang boleh mengalahkan kasih saya emak mertua saya kepada anak-anak, sekalian menantu dan cucu-cucunya.

Kerana itu, emak masih cuba memujuk saya, dan siapalah saya untuk berkeras kepala semasa menyusun tapak untuk bertandang menyertai keluarganya.

Saya hargai penjelasan emak dan ia sudah cukup lapang buat hati saya.

Saya melangkah, disatukan dengan isteri di depan rumah, dan kami melangkah masuk ke rumah.

“Cepat, cepat! Jangan nak lama-lama. Duduk sekejap sahaja!”, kata ipar-ipar saya semasa kami berdua didudukkan di atas kerusi berhias.

Saya sebenarnya tenang sahaja. Mungkin mereka yang bimbang saya ‘meletup’ kerana tahu saya tidak begitu menyukai upacara ini.

Duduk seketika, ahli keluarga mengambil gambar dan kami bangun semula menuju meja santap untuk makan bersama.

Seperti kata abang Danial di dalam rancangan ‘Cari Menantu’ semalam, seorang pengantin bukan hanya berkahwin dengan pasangannya. Pengantin turut berkahwin dengan keluarga pasangannya. Maka soal mengambil hati dan menyesuaikan diri dengan keluarga dan sensitiviti mereka, adalah sebahagian daripada tanggungjawab berumahtangga.

Atas prinsip proaktif, fokuslah pada apa yang kita mampu mengawal dan mengubahnya. Maafkan percanggahan yang ada. Maafkanlah kebiasaan yang ada dan cubalah untuk minimumkan apa-apa yang agama tidak suka. Namun, kuatkan azam kukuhkan keyakinan agar generasi kita yang tersepit di antara adat dan agama ini, tidak mengulanginya ketika hari kita menyambut menantu.

Jika anak-anak muda yang idealistik dengan kefahaman Islamnya, dan mahu bertegang leher menjelang hari perkahwinan, saya tiada upaya untuk berbuat apa-apa. Terpulanglah kepada mereka. Namun bagi yang sedar dengan realiti, bahawa cara kita dan bakal isteri memahami Islam mungkin berbeza daripada apa yang difahami oleh generasi ibu bapa, lantas mahu teliti dan berhalus dalam menentukan sikap dan tindakan, maka artikel saya ini adalah perkongsian pengalaman untuk dimanfaatkan bersama.

Tentu sahaja contoh ini bukan contoh yang terbaik. Namun dengan keupayaan semasa itu, saya telah mencuba yang terbaik.

Kita harus ingat bahawa rumahtangga bukanlah hal sehari dua. “Oh, aku sudah bernikah. Maka dia adalah isteriku dan aku berhak sepenuh ke atasnya!” Jangan sekali-kali berfikir begitu.

Berumahtangga bukan hanya menggabungkan dua insan, malah ia mempersaudarakan dua keluarga. Di dalam sebuah keluarga, ada pelbagai peringkat dan tahap seseorang di dalam menilai dan melihat Islam.

Jangan pula kerana mahu membuang adat, kita turut membuang adab.

Janganlah pula pada hari kita “menyambut mertua”, kita hilang pertimbangan. Jangan kerana menegakkan agama, kita hilang budi bahasa. Jangan ketika masih di rumah ‘orang’ kita masuk berjalan tempang.

Tunggulah hari kita “menyambut menantu”. Segala kesulitan yang kita hadapi dalam menekuni kesulitan belenggu antara adat dan agama, jadikan ia sebagai suatu teladan. Kita adalah generasi jambatan antara zaman adat dan zaman syariat. Tersepit dan keliru, adalah habuan untuk generasi ini. Namun belajarlah untuk menelitinya. Agar tiba hari kita mengatur perkahwinan suatu hari nanti, anak-anak kitalah generasi yang dapat menikmati Islam yang ringkas, namun kekal indah di dalam syariat Allah.

ABU SAIF @ www.saifulislam.com

~* Aku Terima Nikahnya : Kita Dapat Apa Yang Kita Beri *~


Kadang-kadang saya rasa tersinggung apabila permintaan saya tidak dihargai. Saya cuma mahukan masa beberapa hari dalam sebulan untuk saya bersama isteri dan anak-anak. Kotak-kotak kosong diari itu sebenarnya tidak kosong.

“Bolehlah ustaz, janganlah macam itu. Anak hari-hari boleh jumpa. Kami sudah tiada masa lain yang sesuai untuk menjemput ustaz. Harap ustaz dapat pertimbangkan permintaan kami,” kata seorang pemanggil.

Dialog seperti ini meletakkan saya pada situasi serba salah. Saya berdakwah kepada masyarakat, bagaimana pula ahli keluarga saya sendiri? Kera di hutan disusukan, anak di rumah mati kelaparan. Itulah peribahasa Melayu yang amat menusuk perasaan saya.

Ketika saya menaip artikel ini, anak-anak saya sedang tidur nyenyak. Memandang mereka telah meretak hibakan hati saya.

“Maafkan Abi, wahai anak-anakku, Abi berdosa mengabaikan kalian,” saya sukar menahan hati dari bersedih.

Tidak wajar kita menyangka kita sudah menjadi ibu dan bapa yang baik hanya kerana makan pakai anak-anak sudah cukup. Itu tahap pencapaian yang dikongsi bersama antara manusia dan haiwan. Ibu bapa manusia ada tanggungjawab yang lebih besar dari itu. Soal makan, minum, pakaian, perlindungan, pendidikan, makanan emosi dan spiritual, semuanya mesti diharmonikan bersama bekalan yang tidak putus-putus. Apa yang paling utama adalah soal kuantiti dan kualiti masa yang kita luangkan bersama mereka. Sudah cukupkah untuk meyakinkan mereka, bahawa kita benar-benar kasihkan mereka?

Kita sibuk bekerja dan kerja tidak pernah habis.

Seandainya saya memohon kotak kosong itu dikekalkan kosong, janganlah heret saya ke suasana yang menjadikan saya tersepit. Saya ada tanggungjawab kepada anak-anak, kita semua sama. Anak-anak dan isteri saya, adalah mad”™u (sasaran dakwah) pertama saya.

Jika kita tercicir anak di perhentian lebuh raya, kita tetap ada jalan untuk berpatah balik, walaupun derau hati bagi separuh mati.Tetapi berapa ramai ustaz, doktor, polis, jurutera, pegawai bank dan kita-kita semua yang ketika dalam perjalanan memanjat tangga kerjaya dan kenaikan pangkat, kita tertinggal anak-anak di belakang. Jika lebuh raya kita boleh berpatah balik. Tetapi jika anak-anak tercicir dari Tarbiah Islam, ketika kita tersedar yang mereka yang sudah jauh ketinggalan di belakang, apakah ada jalan pulang? Apakah ada satu lagi peluang? Jawapannya TIADA.

Jika ada lelaki atau wanita yang berjaya di dalam kerjaya, jangan lupa kepada pengorbanan anak-anak selama ini. Jangan lupa dosa kita terhadap mereka.

Saya hairan semasa membaca sabda Nabi s.a.w. betapa tanda kiamat itu adalah pada ibu yang melahirkan tuannya. Anak derhaka jadi fenomena biasa di akhir zaman. Mengapa suasana begitu boleh terjadi? Pasti ia tidak berlaku tiba-tiba, atau tanpa sebab pemula.

Akhirnya saya membuat kesimpulan, anak durhaka di akhir zaman, bermula dengan dosa ibu dan bapa yang sibuk bekerja. What you give, you get back!

Maafkan Abi dan Ummi!

ABU SAIF @ www.saifulislam.com

~* Aku Terima Nikahnya : Isteri Dan Mata Hati *~


Astaghfirullah. Hei you, it’s HARAM!”, seorang lelaki Arab tiba-tiba menengking saya.

Terkejut saya dan isteri dibuatnya. Kami sedang mahu menyeberang jalan ke Botanic Garden.

Sorry, what HARAM?“, saya bertanya.

That! That is Haram“, kata lelaki itu sambil menunding ke arah tangan saya.

You mean, it’s haram to hold my wife’s hand?“, saya bertanya kepadanya kembali.

Astaghfirullah. You stupid!”, kata lelaki itu dan terus meninggalkan saya dan isteri yang terpinga-pinga.

Petang itu, mood kami rosak.

Asalnya saya berhasrat untuk membawa isteri saya ke kedai. Cadangnya mahu singgah mengambil angin di Botanic Garden terlebih dahulu. Maklum sahaja, sekarang ini musim bunga di Belfast. Kawasan Botanic Garden memang sangat indah.

Saya benar-benar tersentak dengan teguran lelaki itu tadi. Orang baru agaknya, tidak pernah saya melihatnya sebelum ini.

Isteri saya sedang mengandung 6 bulan, anak pertama kami. Beliau berjalan perlahan, dan saya biasa berjalan sambil memegang tangannya.

‘Irish’kah perbuatan memegang tangan isteri ini? Saya masih kebingungan. Bingung bercampur marah. Isteri saya juga kelihatan cemas di wajahnya diherdik lelaki tersebut.

Sememangnya di Ireland, saya dan isteri selalu berbual bab pegang tangan ini. Kami berasa sangat kagum dengan pakcik makcik Irish yang sangat mesra hubungan mereka sebagai suami isteri. Sambil bertongkat, suami masih berjalan sambil memegang tangan isteri. Menyeberang jalan bersama-sama. So sweet!

Lain pulalah dengan budaya kita orang Melayu. Jangan tunggu sampai ulangtahun ke-30 perkahwinan, baru 3 tahun kahwin pun suami sudah suka meninggalkan isteri di belakang. Malu nak melayan isteri sebagai isteri, barangkali!

Memang tidak dinafikan, lain orang lain budayanya. Mungkin kerana saya dan isteri lama tinggal di Ireland, kami pun tidak pernah pula terasa janggal berjalan dalam keadaan suami memegang tangan isteri. Apatah lagi dalam keadaan isteri yang mengandung. Tetapi perbuatan lelaki itu menengking saya dan isteri, sangat mengejutkan. Apatah lagi dengan label ‘stupid‘ yang diberikannya percuma kepada saya.

Selepas balik dari kedai, saya mengantar isteri ke rumah dan terus ke masjid untuk mengimamkan solat Maghrib.

Subhanallah! Lelaki yang menengking saya tadi ada di masjid. Apabila dia melihat saya, mukanya berubah menjadi merah. Masih marah dengan saya, entah di mana hujung pangkalnya.

Selesai iqamah dibacakan, saya melangkah ke hadapan untuk mengimamkan Solat. Alangkah terkejutnya lelaki itu hingga dia beralih ke hujung saf. Mungkin dia tidak menyangka yang saya si ‘bodoh’ ini yang diherdiknya di tepi jalan tadi, adalah imam di masjid. Selesai solat, lelaki itu bingkas bangun meninggalkan jemaah dan saya hanya memandang beliau pergi menghilangkan diri.

Saya berpesan kepada isteri saya, “apabila pulang ke Malaysia nanti, apakah benda-benda baik yang kita dapat di Ireland ini mampu dikekalkan?

Berjalan seiringan, dan selepas kelahiran Saiful Islam, kami sering menolak pram ke taman bunga untuk menjaga kualiti kehidupan. Walaupun kerja di masjid banyak tekanan, tetapi jalan mencari keredaan itu banyak. Boleh ambil angin di Botanic Garden, boleh Rose Garden, atau sekurang-kurangnya berjalan ke rumah sahabat-sahabat, menyusur lorong-lorong Belfast yang redup dengan pepohon hijau yang menenangkan.

Tetapi apabila balik ke Malaysia, saya jadi khuatir. Lupakanlah soal jalan berpegangan tangan, atau membawa anak-anak ke taman bunga. Saya diancam rasa takut melihat “Krisis Umur Pertengahan”, yang melanda pakcik makcik yang pernah saya temui di dalam kursus.

Amat banyak kes penceraian berlaku, walaupun rumah tangga sudah mencecah 15 ke 20 tahun. Dan hasil kajian, puncanya pelbagai tetapi ada di antaranya yang sungguh menyedihkan. Apabila mencecah usia pencen, wanita kita sering meninggalkan suami. Mereka suka berkawan dengan anak-anak yang sudah dewasa. Wanita kita akan bersama anak-anak pergi ke masjid untuk belajar mengaji dan mendengar kuliah. Isteri sibuk berkawan dengan anak, suami pula ditinggalkan.

Suami pula sedang menempuh proses ‘pemudaan’ pusingan kedua.

Malang sekali, banyak benar kes penceraian berlaku di kalangan mereka. Ia ada feedback yang diterima melalui peserta kursus kami.

Sebab itulah saya sering mengingatkan diri, betulkan pandangan terhadap isteri. Jangan pandang isteri dengan pandangan mata yang kering, atau pandangan akal yang gersang, jauh sekali pandangan nafsu yang melulu. Pandanglah isteri dengan pandangan hati, kerana hati itulah yang memberi makna kepada pasangan hidup kita. Walaupun sudah dimamah usia, dialah separuh hidup kita. Separuh yang manis, kata pepatah Arab. Adanya isteri dan suami, sempurnalah sifat seorang insan. Bayangkan sahaja Adam di Syurga, segala-galanya sudah sempurna. Tetapi tetap terasa kurang kerana dirinya tiada pasangan…

Hargailah kasih sayang suami dan isteri, pandanglah dengan pandangan hati, kerana ia pandangan hakiki.

Do I still sound stupid?” , ingin benar bertemu dengan lelaki Iraq yang mengherdik itu.

ABU SAIF @ www.saifulislam.com

~* Aku Terima Nikahnya : Apa Ada Pada Nama *~


Seminggu sudah berlalu. Imad pun sihat. Kuningnya walaupun turun sampai ke peha, kiraan 185 masih jauh dari paras yang memerlukan admission ke wad.

Alhamdulillah, tidak banyak kesulitan yang timbul.

Kalau Yeop Saif, menjadi kebanggaan kerana mempunyai dua adik, mengalahkan sepupu-sepupunya yang seangkatan dengannya. Bagi Kak Nyah Naurah, ada sedikit kesedihan di wajahnya. Naurah dengan sendirinya menapak ke belakang, memerhatikan sahaja dari jauh, tumpuan Ummi beralih kepada adik Imad. Bukan mudah untuk menyerahkan jawatan “adik” kepada adik baru.

Saya bersyukur kerana beberapa hari yang awal selepas kelahiran Imad, saya masih ada sejumlah masa untuk keluarga.

Yeop Saif mesti diasuh agar bertanggungjawab kepada adik-adiknya. Boleh diharap untuk “˜menengok-nengok”™, khususnya Imad yang masih kecil. Yeop Saif sangat brotherly. Alhamdulillah, kalau Kak Nyah Naurah buat sesuatu yang dirasakan agak merbahaya untuk Imad, Yeop Saif cepat menegah, cepat memberitahu Abi dan Ummi.

Kak Nyah Naurah juga jauh lebih mudah dari yang kami jangkakan. Walaupun di hari-hari pertama, ada semacam kejutan pada dirinya, tetapi Kak Nyah Naurah cepat menyesuaikan diri. Naurah tidaklah begitu minat atau mesra dengan kanak-kanak lain. Dia lebih suka bermain dengan kakak-kakak yang lebih tua darinya. Tetapi dengan Imad, Naurah sudah mula menampaknya skillnya sebagai seorang kakak.

Bangun sahaja pada waktu pagi, atau terdengar sahaja Imad merengek, Kak Nyah Naurah akan segera berlari mendapatkan Imad.

Alhamdulillah, siapakah yang mengajar semua ini? Siapakah yang melimpahkan keupayaan untuk kasih dan sayang di hati Abi, Ummi, Yeop Saif, dan Kak Nyah Naurah kepada insan yang baru hadir ke dunia kami, Muhammad Imaduddin?

Itulah Allah. Allah jualah yang mencipta kasih sayang sesama manusia, agar dengan kasih sayang itu, kita menyayangi-Nya.

PANGKAT NAMA

Sejak Ummi mengandungkan Naurah, Saiful Islam sudah pun dipanggil Yeop. Ia tradisi orang Perak, menggelar anak sulung dengan pangkat itu. Kekadang dipanggil Che”™ Lop. Agak khusus, berbanding dengan Along, yang lebih masyhur diguna pakai di semua negeri. Apabila Ummi mengandungkan Imad, Naurah Sabihah sudah pun kami gelar dengan panggilan Kak Nyah. Sehingga dengan kawan-kawan pun, Saif suka membahasakan dirinya sebagai “˜Yeop”™. Naurah sedang mula membiasakan dirinya dipanggil Kak Nyah.

Panggilan itu bukanlah semata-mata adat. Ada sesuatu yang bernilaikan Tarbiyah, yang ingin kami perolehi dari amalan seperti ini.

Antara Sunnah yang diajarkan kepada kita, adalah Takniyah dalam memanggil anak-anak. Takniyah itu bermaksud memberikan Kun-yah kepada anak-anak dengan memanggil yang lelaki dengan nama “Abu “ atau yang perempuan dengan nama “Ummu “

Anas Radhiyallahu “˜anhu menceritakan bahawa beliau mempunyai seorang adik yang digelar sebagai Abu “˜Umair. Sedangkan umurnya baru sahaja melepasi umur berhenti menyusu. Apabila beliau lalu di hadapan Rasulullah s.a.w, Baginda akan berkata kepadanya, “Wahai Abu “˜Umair, apakah yang burung kecil itu sedang lakukan?” (Al-Bukhari)

Amalan ini besar tujuannya. Dengan memanggil si anak kecil menggunakan gelaran seumpama itu, ia mendorong kepada kesegeraan anak-anak ini menjadi dewasa dan merasa bertanggungjawab.

Dalam masyarakat kita, mungkin memanggil seseorang dengan ABU bukan merupakan suatu kebiasaan. Tetapi sejak sekian lama, panggilan-panggilan seperti Yeop, Nyah, Alang, Achik, Andak, dan lain-lain, dilakukan oleh generasi ibu bapa kita dengan tujuan yang sama.

Bukan mudah untuk mematangkan peribadi, di era mewah dan manja seperti hari ini.

Kalaulah seorang anak, dipanggil dengan nama yang membantutkan kedewasaannya, maka ibu bapalah yang harus dipersalahkan. Sebagai contoh, seorang anak lelaki dipanggil dengan nama “Boboy”, maka anak itu akan terus menjadi Boboy walau pun sudah berjanggut. Akhirnya, untuk si Boboy ini memberitahu ibunya yang beliau mahu berumahtangga pun, jadi kekok. Ibu bapa masih merasakan Boboy, sebagai anak kecil keluarga mereka, selepas lebih 20 tahun Boboy itu turun dari dukungan.

Ia hanya contoh, harap Boboy tidak marahkan saya kerana meminjam contoh seperti ini.

Nama-nama juga amat perlu untuk dipilih agar menjurus kepada peribadi yang diinginkan. Biar nama anak lelaki, menjurus kepada peribadi yang teguh, tegas, kental, berkepimpinan dan berwibawa. Manakala nama anak perempuan, menjurus kepada peribadi yang jernih, lembut dan terpelihara, mencantikkan maruah diri.

Selepas anak-anak diberi nama yang baik, susulkanlah pula dengan didikan yang bersesuaian dengan nama yang diberi. Kalau Muhammad dibesarkan dengan cara musuh Muhammad, akan lahirlah di akhir zaman Abu Lahab dan Abu Jahal bernama Muhammad. Naudhubillah.

Amat terhiris, bertemu dengan nama-nama yang mulia, berdansa di pentas maksiat. Jika “Hidayah” mempromosikan “Jahiliah”, apalah yang ada pada sebuah nama!

ABU SAIF @ www.saifulislam.com
09 Disember 2006

~* Aku Terima Nikahnya : Tiga Hospital Tiga Suasana *~


Alhamdulillah.

Syukur kepada Allah, harapan saya bersama isteri untuk menjarakkan anak kami pada kadar sekitar 2 tahun, diizinkan Allah. Saya amat percaya kepada hikmah di sebalik Islam menegaskan kepada keperluan ini. Setahun pertama usia anak-anak kita, dia tidak punya banyak emosi dan watak. Tangisannya banyak menuntut kepada keperluan fizikal semata-mata. Tetapi apabila anak kita masuk ke tahun kedua usianya, ia mula berwatak dan mengalami perkembangan emosi. Ketika inilah, perhatian seorang ibu dan bapa amat penting. Perhatian ibu bapa adalah penting pada usia ini kerana pada masa inilah emosinya sebagai seorang insan dibina. Kasih sayang perlu diberi, tunjuk ajar mesti diteladani.

Namun, jika anak kita baru berusia setahun, dan kita sudah beroleh anak yang seterusnya, maka terpaksalah perhatian itu berpindah kepada si adik kecil, maka abang atau kakak yang baru setahun jagung itu terlepas dari perhatian yang sewajarnya. Jika beroleh anak, Alhamdulillah. Pujilah Allah atas rezeki kurniaan itu. Namun, eloklah diusahakan agar anak-anak kita boleh dijarakkan sekurang-kurangnya dua tahun khususnya di era sukarnya kita memberi perhatian yang optimum kepada anak-anak hari ini.

Itu adalah apa yang saya fikirkan. Mungkin betul, mungkin tidak, kerana saya bukan ahli psikologi kanak-kanak. Ia hanya perasaan seorang bapa.

KELAHIRAN MUHAMMAD SAIFUL ISLAM (06/07/2002)

Muhammad Saiful Islam dilahirkan di Royal Maternity Hospital, Belfast, Northern Ireland.

Perasaan kami semasa menanti kelahiran beliau, cukup meresahkan. Mujurlah ibu saya sempat tiba dari Malaysia kira-kira dua hari sebelum kelahirannya. Menjadi ibu dan bapa buat pertama kali, jauh di perantauan, jika tanpa bantuan nasihat keluarga, tentu mendatangkan bimbang.

Akan tetapi ada banyak perkara yang boleh diteladani berdasarkan protokol hospital tersebut menyediakan perkhidmatan kepada kami. Semasa pendaftaran di hospital dibuat, maklumat yang diambil amat terpeinci. Dari soal makanan halal, doktor dan kakitangan wanita, bagaimana menguruskan placenta (uri), semuanya dicatat dengan penuh teliti.

Contraction yang dialami oleh isteri saya, amat kuat. Beliau dimasukkan ke hospital pada jam 4 petang, hari Jumaat. Mungkin hormon oxytocine begitu tinggi. Sedih sekali saya menemani isteri di sepanjang tempoh sakit itu. Kira-kira jam 12 tengah malam, barulah isteri saya dimasukkan ke bilik bersalin. Pelbagai kata perangsang diberikan oleh midwife (bidan) apabila mengetahui yang ini adalah anak pertama kami. Saya diingatkan supaya terus memberikan sokongan kepada isteri agar tidak mengalah dengan kesakitan luar biasa yang dialaminya.

Akhirnya pada jam 3 pagi, barulah isteri saya berada di tahap yang benar-benar sesuai untuk melahirkan anak, apabila cervic sudah terbuka kira-kira 7sm. Saya memohon izin untuk solat Subuh di bilik itu dan midwife mengizinkan saya berbuat demikian. Beliau keluar selama kira-kira 10 minit dan selepas saya selesai mengerjakan solat Subuh barulah proses kelahiran bermula. Selama 2 jam isteri saya bertarung, saya disuruh oleh midwife supaya menyambut kepala Muhammad Saiful Islam yang sudah keluar. Namun untuk melepasi bahu, midwife melakukannya sendiri dan saya diberi peluang untuk memotong sendiri tali pusat Muhammad Saiful Islam.

Selepas Muhammad Saiful Islam selesai dibersihkan, midwife berkenaan memeriksa carta kerjanya.

“Oh, 10 minit untuk tuntutan agama. Baik, encik. Saya keluar selama 10 minit dan saya akan kembali semula selepas itu”, katanya.

Saya perdengarkan kesaksian Tauhid kepada Muhammad Saiful Islam dengan melaungkan azan kepadanya. Syukur kepada Allah atas ketibaanmu.

Saya segera membantu isteri saya yang masih keletihan. Beliau yang terpaksa menerima injeksi epidural, kali ini terpaksa pula mengambil suntikan petadine bagi melawan kesakitan. Tetapi selepas suntikan petadine itu, isteri saya menjadi loya lalu muntah-muntah. Kesan muntah itu, sendi di perutnya terkoyak dan bersama dengan tekanan darah yang rendah, isteri saya ditahan di hospital selama 5 hari.

Semasa di wad, pegawai daripada Jabatan Pendaftaran datang untuk mendaftarkan anak-anak yang baru lahir. Ia amat memudahkan ibu bapa. Setiap hari, pegawai berkenaan akan datang untuk maksud itu, dan kita hanya perlu ke pejabat pendaftaran jika mahu mendapatkan salinan surat beranak penuh (Long Birth Certificate). Ia merupakan perkhidmatan yang amat baik jika boleh dicontohi oleh negara kita.

Malah di hospital tersebut, tidak ada wad kelas satu, dua atau tiga. Semua orang menerima layanan yang sama. Hospital swasta juga tidak banyak. Kesihatan benar-benar dirasakan sebagai suatu perkhidmatan dan tanggungjawab sosial.

Selepas keluar wad, setiap hari bidan akan datang ke rumah, mengajar cara memandikan anak, membantu dan menggalakkan ibu menyusukan anak, memeriksa kesan jahitan dan membantu isteri saya melakukan fisioterapi. Hanya selepas beliau yakin dengan kecekapan kami dan kami bersetuju untuk memberhentikan perkhidmatan itu, beliau dan team yang bertugas menamatkan perkhidmatannya.

Itulah pengalaman pertama kami sebagai ibu dan bapa. Semua rawatan yang diterima, termasuk epidural adalah percuma. Tidak terasa beban membayar cukai pendapatan, dengan kualiti perkhidmatan yang begitu baik. Malah tuntutan agama juga amat terpelihara. Satu-satunya lelaki yang masuk ke bilik bersalin adalah pakar bius yang mahu menyuntikkan epidural. Selebihnya ada perempuan, termasuklah Pegawai Pendaftaran yang mendaftarkan anak di wad.

KELAHIRAN NAURAH SABIHAH (08/10/04)

Naurah Sabihah lahir dalam suasana yang lebih tenang.

Kami memilih sebuah Pusat Rawatan Islam untuk melahirkan Naurah Sabihah. Dari segi rawatan dan pemeriksaan sebelum bersalin, saya berpuas hati dan gembira.

Ketika isteri saya menjalani pemeriksaan di minggu ke-39, doktor mendapati yang isteri saya sudah pun bersedia untuk melahirkan anak dan beliau terus dimasukkan ke wad. Kali ini suasana di wad agak tenang, sesuai dengan imej Pusat Rawatan Islam itu sendiri. Doa-doa terpampang di mana-mana dan wad bebas dari bunyi perempuan mencarut seperti yang saya dengar dari bilik sebelah ketika Muhammad Saiful Islam dilahirkan di Ireland Utara.

Alhamdulillah, selepas AROM (Artificial Rupture of Membranes – ketuban dipecahkan), isteri saya menempuh pengalaman bersalin yang jauh lebih mudah berbanding dengan kali pertama dulu. Cuma ada sedikit kekesalan kerana keberadaan saya di sisi isteri seperti tidak berlaku. Doktor pakar dan jururawat langsung tidak menegur saya, malah memberi salam pun tidak. Selepas sejam bertarung, akhirnya Naurah Sabihah selamat dilahirkan secara normal (Spontaneous Vaginal Delivery – SVD).

Akan tetapi, selepas Naurah Sabihah dilahirkan, jururawat sibuk membersihkan anak saya, menimbangnya, dan mendukungnya tanpa mempedulikan saya. Hinggalah akhirnya saya bersuara, “Ehem, tak nak pass kat ayah dia ke, untuk azan?”

Jururawat tersebut “˜memberi muka”™ kepada saya dan menjawab, “oh, nak azan. Nah!”

Selepas azan diselesaikan, Naurah Sabihah dibawa ke bilik nursery dan saya menemani isteri semasa proses menjahit (stitching) dilakukan.

Sekali lagi berlaku kejutan, apabila saya menjenguk Naurah Sabihah di nursery, beliau sudah pun disusukan dengan susu formula. Saya kira, ia tidak wajar dilakukan tanpa persetujuan ibu bapa. Berkemungkinan besar saya dan isteri akan benarkan, memandangkan isteri yang masih keletihan dan kadar colestrum yang rendah. Tetapi eloklah hal tersebut dimaklumkan terlebih dahulu kerana ia merupakah satu perkara yang besar. Soal benda pertama yang masuk ke tubuh anak kita.

Akan tetapi saya berikan kredit kepada hospital tersebut kerana menyediakan hidangan makanan yang amat sesuai dengan perempuan yang baru bersalin. Hidangannya seperti masakan emak kita di rumah, termasuklah cencaru dan haruan bakar.

Keesokan harinya isteri saya dibenarkan pulang dan dengan seisi keluarga yang hadir, saya tenang walaupun seminggu selepas itu, saya terpaksa berulang hampir 3 kali seminggu antara Ipoh dan Kuala Lumpur, apabila ibu saya dimasukkan ke hospital selama lebih sebulan.

KELAHIRAN MUHAMMAD IMADUDDIN (30/11/2006)

Muhammad Imaduddin lahir dalam suasana yang sedikit berbeza. Acapkali isteri saya pergi ke pemeriksaan rutin di hospital sendirian, memandangkan saya yang bekerja dan belajar. Syukur Alhamdulillah, tarikh jangkaan kelahirannya ialah ketika saya bercuti semester dan isteri saya sendiri menggunakan sepenuhnya cuti 2 minggu yang disimpan semenjak Jun 2006.

Sedikit kekok kerana bersalin di hospital tempat isteri saya bekerja, terlalu ramai orang yang dikenali. Bermula dari doktor, jururawat, pembantu kesihatan, hinggalah kepada pelajar-pelajar perubatan. Namun, proses pemeriksaan berjalan dengan baik.

Pada pagi Khamis 30 November, saya membawa isteri ke hospital untuk pemeriksaan dan ketika itu isteri saya sudah pun mengalami dilation sebanyak 5sm. Alhamdulillah, ia adalah kesan VE dan sweeping yang kami usahakan sendiri di rumah dan ia memudahkan proses. Doktor masih mencadangkan agar isteri saya pulang dahulu ke rumah dan menunggu hingga ke hujung minggu untuk menggalakkan natural birth. Akan tetapi, jika isteri saya tidak bersalin pada hari Khamis itu, maka keesokan harinya (Jumaat 1 Disember 2006), isteri saya mesti mula bekerja kembali memandangkan Khamis itu adalah cuti terakhirnya. Alhamdulillah doktor bersetuju dan isteri saya dimasukkan ke wad.

Selepas AROM atau pecah ketuban dilakukan pada jam 4:30 petang, isteri saya tidak mengambil masa yang panjang untuk bersalin. Muhammad Imaduddin selamat dilahirkan selepas hanya 15 minit pushing dan syukur semuanya berjalan lancar.

Syukur kerana saya tidak alah darah. Kesemua anak saya dilahirkan ketika saya berada sepenuhnya di sisi isteri. Allah sahaja yang tahu apa perasaan saya melihat isteri bertarung ketika melahirkan cahaya mata kami sehingga tersebut di bibir saya, “Ya Allah berikan aku medan jihad, agar seimbang rasa sakit dalam hidup ini!”. Saya fikir, dalam suasana hidup seperti hari ini, suami yang tidak berjihad, tidak akan berpeluang merasa sakit seperti sakitnya seorang isteri ketika melahirkan anak.

Tetapi yang menarik perhatian saya ialah, apabila seorang jururawat memberitahu, “kalau ikut pengalaman saya di hospital, orang yang baik-baik memang sakit bersalin, tetapi senang melepaskan nyawa bila nak mati. Tetapi perempuan zina, memang cukup mudah semasa bersalin, tetapi ketika nazak, naudhubillah.. Allah sahajalah yang tahu siksanya nyawa nak lepas! Allah” termenung juga saya dibuatnya.

Selepas sehari semalam di hospital, isteri saya dibenarkan pulang ke rumah. Ada sedikit rasa marah kerana tidak ada langsung mana-mana Junior Doctor yang datang memeriksa anak saya, tetapi apabila surat discharge dikeluarkan, semuanya telah sedia dicatat. Semua normal belaka! Ia adalah laporan palsu, dan ini merupakah satu kecuaian (negligence) oleh pihak hospital. Untuk kami, Alhamdulillah, isteri saya seorang doktor, dan rakannya yang juga seorang Medical Officer dalam O&G sudah pun memeriksa secara off record. Tetapi Junior Doctor yang sepatutnya memeriksa bayi kami, tidak menjalankan tugas dan membuat laporan “˜palsu”™.

Apakah hingga sesuatu yang tidak baik berlaku, maka hal ini baru mahu diperbaiki? Saya harap tidak”

Tidak banyak yang mampu saya tulis kerana agak keletihan. Sepanjang hari Sabtu, saya terpaksa meninggalkan rumah untuk ke Putra Jaya bagi menghadiri Muzakarah Tahunan Pertubuhan Kebajikan al-Nidaa”™ Malaysia. Ahad pula saya menyampaikan ceramah di dalam sebuah kursus pengurusan di Putra Jaya . Namun apa yang nak dikeluhkan, itulah realiti kehidupan. Hari ini (Isnin) saya perlu ke UIA untuk mendaftarkan subjek semester baru dan seterusnya menyelesaikan pendaftaran anak di Jabatan Pendaftaran.

Sedikit terkilan kerana isteri saya hanya memperolehi cuti bersalin selama 2 minggu. Apakan daya, itulah sistem yang ada.

Alhamdulillah “˜ala kulli haal, wa fi kulli haal wa ni”™mah”



“Wahai Tuhan kami, kurniakanlah bagi kami kesejukan dan kejernihan mata dan hati, pada isteri dan anak-anak kami. Dan jadikanlah kami ini Imam bagi orang-orang bertaqwa”, Ameen”



ABU SAIF @ www.saifulislam.com
3 Disember 2006

~* Why Do Muslims Fast In Ramadan? *~

What is Fasting (Sawm)? Sawm (Arabic: صوم) is an Arabic word for fasting regulated by Islamic jurisprudence. In the terminology of Islamic l...